SURYAMALANG.COM, KABUPATEN BLITAR - Perum Bulog dan ID Food mengalokasikan anggaran Rp 30 miliar untuk membeli telur dari peternak ayam mikro di seluruh Indonesia.

Program ini menjadi bagian untuk menstabilkan harga telur di tingkat peternak mikro yang sempat jatuh.

Penyerahan secara simbolis program pembelian telur ayam oleh Bulog dan ID Food dari peternak mikro senilai Rp 30 miliar dilakukan di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Acara itu dihadiri langsung Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman dan Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.

Dalam kesempatan itu, Bulog bersama Bapanas juga menyalurkan 180 ton jagung stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) kepada perwakilan koperasi peternak ayam mikro serta benih jagung dan alat mesin pertanian kepada perwakilan kelompok tani.

Jagung SPHP ini dijual dengan harga Rp 5.000 per kilogram kepada para peternak mikro yang sudah terdaftar dalam kelompok peternak.

"Hari ini, kami mendampingi Pak Mentan dalam rangka, yang pertama penyerahan bibit jagung untuk para peternak."

"Harapannya, peternak juga punya tanaman jagung untuk kebutuhan pakan ternaknya."

"Dan nanti, setelah panen, akan dibeli oleh Bulog dengan harga acuan pemerintah," kata Dirut Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.

Baca juga: Kabupaten Blitar dapat Kuota Program Bedah Rumah dari Pusat Sebanyak 1.087 Unit pada Tahun 2026

Rizal mengatakan, Bulog bersama ID Food juga membeli telur dari para peternak mikro di seluruh Indonesia dengan nilai Rp 30 miliar secara bertahap hingga Desember 2026.

Pembelian telur dari peternak mikro ini menjadi upaya menstabilkan harga telur yang sempat jatuh di tingkat peternak.

"Sesuai arah Bapak Presiden dan Bapak Mentan, program ini untuk menstabilisasi harga telur."

"Supaya harga telur di peternak tetap stabil di angka Rp 24.000 per kilogram sampai dengan Rp 26.000 per kilogram," ujarnya.

"Kami dengan ID Food kita membeli telur dari peternak mikro senilai Rp 30 miliar untuk seluruh Indonesia."

"Tujuannya untuk menstabilkan harga telur, supaya para peternak ayam mikro bisa survive, bisa melanjutkan industrinya," lanjutnya.

Ia menjelaskan, pembelian telur senilai Rp 30 miliar itu harapannya menjadi dana bergulir. Ke depan, program itu akan disinergikan dengan koperasi.

"Ke depannya dana tersebut untuk bisa menstabilkan harga telur dengan harga acuan pemerintah yaitu sekitar Rp 24.000 per kilogram sampai Rp 26.000 per kilogram," katanya.

Untuk teknisnya, kata Rizal, sedang dikomunikasikan dengan koperasi. Supaya nantinya koperasi dan SPPG bisa menyerap telur yang telah dibeli oleh Bulog dari peternak mikro.

"Jadi dibiayai oleh Bulog, nanti koperasi mengambil dari Bulog, konsepnya seperti itu," ujarnya.

Namun, menurutnya, untuk yang tahap awal ini, sambil menunggu proses koordinasi dengan koperasi, Bulog mendahulukan mitra-mitra pengolahan di seluruh Indonesia untuk menyerap telur-telur para peternak.

"Khusus tahap awal ini, telur dari peternak dibeli oleh Bulog, dari Bulog dibeli oleh para mitra untuk kebutuhan karyawan dan keluarga. Ini untuk tahap awal saja," jelasnya.

Terkait jagung, Rizal memastikan stoknya masih mencukupi sampai Desember 2026. Ia meminta para peternak mikro tidak perlu bimbang dengan stok jagung.

"Stok jagung untuk pakan peternak mikro masih 100.000 ton, stok itu mencukupi sampai Desember 2026," katanya. 

Baca juga: Hujan Sejak Dini Hari hingga Siang Memicu Bencana Tanah Longsor dan Jembatan Putus di Blitar

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.