Jakarta -
Pernahkah kamu melihat seseorang terjatuh atau tergelincir dan turut meringis seolah-olah ada di posisi orang yang jatuh tersebut? Mungkin kamu berpikir ini adalah bentuk empati terhadap orang lain.
Empati memang berperan, tetapi studi mengungkapkan bahwa otak bukan hanya merasakan sakitnya, melainkan juga mencatat di mana kejadian tersebut berlangsung. Itulah mengapa otak seolah dapat menandai lokasi yang perlu diwaspadai atau bahkan dihindari.
"Jika Anda melihat seseorang terpeleset dan jatuh di sudut jalan tertentu di musim dingin, Anda akan belajar untuk menghindari sudut jalan itu," kata Christian Keysers, salah satu penulis studi sekaligus pengelola Social Brain Lab, dikutip dari Earth.com, Minggu (1/11/2026).
Dalam studi yang terbit di Nature Communications pada 26 Oktober 2026, peneliti melakukan eksperimen dengan tikus untuk mengetahui aktivitas otak saat melihat aktivitas yang kurang nyaman dan mengambil pengalaman dari situ.
Sebelum melakukan penelitian, bukan rahasia bahwa melihat seseorang kesakitan dapat membangkitkan perasaan sakit pada orang yang menyaksikannya. Namun, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana otak menyambungkan perasaan tersebut dengan lokasi tertentu.
Mengamati Tikus yang Disetrum
Layaknya manusia, tikus juga merupakan makhluk sosial. Sehingga hewan ini dipilih untuk merepresentasikan manusia dalam penelitian aktivitas otak ini.
Tim peneliti mengamati 14 tikus jantan muda yang melihat tikus lain melalui sebuah batas transparan yang dilengkapi dengan lubang kecil di bagian bawahnya. Masing-masing tikus jantan muda mengelilingi wadah plastik transparan yang berukuran sekitar 50 kali 25 sentimeter.
Tikus lain diletakkan di atas pelat-pelat logam yang siap menghantarkan listrik dalam jumlah kecil, cukup untuk mengejutkan tikus. Kondisi pertama, tikus yang berdiri di pelat logam disengat sebanyak 10 kali pada kakinya dan masing-masing sengatan bertahan selama satu detik.
Di sisi lain wadah plastik, terdapat tikus yang tidak disengat listrik dan hanya menyaksikan bagaimana temannya merespons sengatan listrik tersebut. Biasanya, saat tikus ketakutan, mereka akan membeku atau hanya diam sepenuhnya. Hal ini merupakan respons normal pada tikus.
Tikus-tikus ini kemudian menunjukkan adanya rasa takut yang lebih besar, dapat terlihat dari mereka yang menghabiskan waktu di dekat pembatas wadah selama temannya disetrum listrik, diikuti dengan pupil mata yang melebar lebih besar.
Sel Lokasi yang Waspada Titik Berbahaya
Para peneliti menemukan bahwa ada aktivitas sel-sel di hipokampus, disebut place cells, yang lebih aktif ketika hewan tersebut menginjak tempat tertentu. Sel ini layaknya sebuah peta pada otak hewan yang dapat menavigasi ancaman dari sebuah titik.
Dalam satu detik setelah disetrum, sebagian place cells tikus jantan muda mengubah aktivitasnya, padahal mereka tidak disetrum. Temuannya, bagian tengah hipokampus lebih banyak merespons dibandingkan bagian lainnya, dengan persentase aktivitas sebesar 16 persen. Sedangkan di bagian atas hanya tujuh persen, dan lima persen di bagian bawah.
Sel-sel ini juga menunjukkan aktivitas yang lebih masif saat posisi tikus pengamat lebih dekat dengan lokasi pelat logam yang menyetrum kaki tikus lain.
Kemungkinan besar otak memang bisa mengaitkan peristiwa tidak menyenangkan yang dialami individu lain dengan tempat kejadiannya. Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk meneliti bagaimana informasi waspada atau takut ini dapat sampai ke hipokampus hewan.
"Pertanyaan penting, yang belum kami uji di sini, adalah apakah mekanisme terkait mungkin menjadi berlebihan dalam kondisi seperti PTSD - misalnya, jika ingatan akan bahaya menjadi terlalu gigih atau menyebar ke tempat-tempat yang sebenarnya aman dan mengakibatkan kecemasan yang terus-menerus," kata Frederic Michon Linde, penulis utama studi.