Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mengawali uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pola prasmanan di salah satu sekolah di Kota Mataram pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, menyebut salah satu persoalan utama adalah banyaknya sekolah yang harus dilayani oleh satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, ada SPPG yang menyalurkan MBG hingga ke belasan sekolah.
“Kendalanya yaitu titik sebar lokasi penerima manfaat ini sangat menyebar. Misalnya, satu SPPG melayani bahkan sampai 14 sekolah,” katanya pada Kamis (29/30/2026).
Fathul menambahkan, SPPG belum memiliki sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai untuk menjalankan sistem prasmanan.
Ia mempertanyakan kemungkinan Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan insentif tambahan kepada para mitra untuk melengkapi sarpras tersebut.
“Tadinya satu porsi senilai 10 ribu untuk porsi besar dan 8 ribu untuk porsi kecil. Apakah BGN akan menambah nominal tersebut? Porsi mungkin tetap, tetapi operasionalnya bertambah untuk membeli sarana prasarana prasmanan. Saya mencoba membangun komunikasi dengan BGN agar mereka mempertimbangkan hal ini,” bebernya.
Baca juga: MBG Sistem Prasmanan di SD-TK Al Iqro Mataram Latih Siswa Mandiri dan Antre
Fathul juga menilai insentif sebesar Rp2 ribu per porsi menjadi kendala tersendiri. Menurutnya, kebijakan itu perlu dievaluasi karena membuat sejumlah mitra merasa kewalahan. Jika diterapkan secara penuh, ia menilai tidak semua daerah dan SPPG mampu menjalankannya.
Hanya wilayah dengan jarak antarsekolah yang dekat, seperti Kota Mataram dan Kota Bima, yang dinilai siap menerapkan MBG prasmanan.
“Topografi daerah memengaruhi hal ini karena jangkauannya tidak terlalu jauh. Kami mencoba menawarkan Kota Bima untuk menentukan lokasi uji coba berikutnya,” ungkapnya.
Di sisi lain, sekolah mencatat uji coba pendistribusian MBG dengan skema prasmanan berjalan lancar. Siswa SD Al-Iqro Mataram menyambut baik metode baru tersebut.
Salah seorang siswa kelas VI, Pangeran, menilai skema prasmanan menjaga kualitas makanan karena wadah ompreng pada metode sebelumnya kerap membuat makanan sudah dingin.
“Kemarin MBG terasa dingin, sedangkan sekarang masih hangat. Saya lebih menyukai cara ini,” jelasnya.
Menurut Pangeran, siswa kurang menikmati MBG sebelumnya karena faktor suhu makanan. Dengan prasmanan, siswa lebih mudah mengambil makanan sesuai porsi masing-masing sehingga mencegah makanan terbuang. Namun, ia menyoroti belum tersedianya air minum dari petugas.
“Namun, petugas belum menyediakan air minum sehingga kami harus membaginya sendiri,” tambahnya.
Siswa lainnya, Ganin, turut mendukung skema prasmanan ini. Menurutnya, metode tersebut menjaga makanan tetap hangat saat disantap dan mencegah makanan saling tercampur, yang sering membuat siswa enggan menghabiskannya.
“Kami menikmati makanan karena masih hangat. Metode ini membuat makanan tidak mubazir,” pungkasnya.
(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.