Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Korban bencana angin kencang dan pohon tumbang, Frederikus Aruanpah bersama ibunya, istri dan keempat orang anaknya tidur di tenda darurat di Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT.
Bencana angin kencang dan pohon tumbang terjadi pada Sabtu, 24 Oktober 2026 lalu.
Mereka tidur beralaskan tikar dan kasur. Hampir sepekan keluarga ini melewati kondisi yang sulit setelah terdampak bencana itu.
Hampir sepekan keluarga ini bertahan di tenda darurat yang dibangun pasca angin kencang menerbangkan atap rumah keluarga itu. Kondisi ini sangat memperihatinkan.
Pantauan POS-KUPANG.COM, Kamis, 29 Oktober 2026, satu unit tenda darurat bertuliskan Kemensos dibangun berjarak sekitar 5 sampai 10 meter dari rumah milik korban, Frederikus Aruanpah.
Baca juga: Korban Musibah Angin Kencang di Kelurahan Maubeli Sebut Atap Seng Diterbangkan Angin Sejauh 15 Meter
Kondisi rumah korban bencana tersebut sangat memperihatinkan. Atap rumah yang diterbangkan angin masih menggantung di dahan pohon.
Bola lampu dan kabel listrik menuju rumah tersebut belum dibuka. Keluarga mengaku takut mencopot bola lampu.
Mereka sudah menginformasikan hal ini kepada pihak PLN. Kendati demikian, sampai saat ini, kabel listrik tersebut belum dicopot dari atap seng itu.
Pasalnya, posisi atap seng yang terbang dibawa angin ini membahayakan para petugas PLN yang hendak mengurai kabel-kabel yang terlilit pada atap dan kayu penyangga atap.
Mirisnya, anak korban yang masih berusia 11 tahun dan 15 tahun tidur di tenda darurat ini. Dua orang anak lainnya berusia 17 tahun dan 19.
Keluarga ini tidur di tenda darurat beralasan 1 unit kasur bantuan BPBD Kabupaten TTU dan kasus milik mereka yang masih lembab akibat diterpa hujan.
Rumah berdinding bebak (dinding yang terbuat pelepah daun gewang) tersebut berdiri kokoh tanpa atap. Sedangkan dinding bebak bagian belakang roboh tertiup angin bertepatan dengan musibah itu terjadi.
Beberapa bagian dinding yang roboh dibiarkan tergeletak di belakang rumah itu bersama dengan beberapa perabot rumah tangga. Sebuah dapur darurat dibangun tepat di samping rumah yang nyaris roboh itu untuk memasak.
Dinding batako rumah setinggi 40 centimeter tampak retak dan nyaris roboh. Beberapa tripleks bekas yang digunakan untuk menutup lubang pada dinding menjuntai tak beraturan.
Satu buah kasur terlihat disandarkan begitu saja di dinding yang nyaris roboh itu. Kasur tersebut diduga masih lembab diguyur hujan.
Seng bekas tergeletak di belakang dinding bebak yang sudah roboh itu. (bbr)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.