SRIPOKU.COM — Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengungkap alasan di balik tindakan keji Dwi Bagus Martono (40) yang turut menghabisi nyawa anak tirinya, AG (4), setelah membunuh ibu kandungnya, Dini Hardianti (34), di Kota Madiun.

Bocah empat tahun tersebut ternyata dihabisi lantaran pelaku panik dan khawatir korban akan menjadi saksi yang menyeretnya ke penjara.

Direktur Ditreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol Roy Hutton Marulamrata Sihombing, menjelaskan bahwa korban AG sempat dibawa oleh pelaku keluar dari hotel menggunakan sleeping bag yang telah berisi jasad sang ibu.

Bocah malang itu baru dieksekusi saat tiba di rumah orang tua pelaku di Jalan Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

Baca juga: Kok Saya Dibiarin Istri Muda Cemburu Suami Tak Nginap di Hotel dan Lebih Pilih Temui Istri Sah

"Mengapa sampai dia menghabisi anaknya berdasarkan hasil penyelidikan dari tersangka pada kami penyidik bahwa ada kekhawatiran dari tersangka yang bersangkutan anak ini akan menjadi saksi dalam proses kasus itu. Makanya anak ikut juga dihabisi," ujar Roy dalam konferensi pers di Mapolda Jatim, Selasa (27/10/2026).

Meskipun bertindak sangat sadis dengan membakar serta menghancurkan sisa tulang belulang korban menggunakan mesin pencacah, narasumber internal kepolisian menyebutkan bahwa pelaku sebenarnya memiliki rasa sayang terhadap anak tirinya itu.

Namun, rasa panik dan paranoid karena kejahatannya terlanjur terbongkar membuat pelaku gelap mata.

"Sebenarnya dia sayang sama si anaknya itu, sayang tapi karena terlanjur ya," ungkap seorang narasumber internal.

Baca juga: Gaji Dolar, Pak Haji Bagus Diam-diam Menikah di Samarinda, Tinggal di Homestay Bareng Istri Siri

"Dia bingung mau diapakan, takut ketemu, ketahuan, takut ketahuan sudah meninggal, kok anaknya dibawa, akhirnya dia berbuat itu. Dia mau hanguskan semua buktinya."

Kasus ini sendiri berawal dari percekcokan hebat di kamar hotel pada Minggu (20/9/2026) akibat korban merasa dicampakkan setelah pelaku mendadak ingin menemui istri sahnya.

Hubungan yang selama ini tampak harmonis selama dua tahun pernikahan siri di Samarinda mendadak berubah menjadi tragedi berdarah akibat emosi sesaat.

Sementara itu, hasil pemeriksaan psikologi menunjukkan bahwa pelaku memiliki kecenderungan bersikap superior serta tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang mumpuni.

Kecerdasan tersebut diduga digunakan pelaku untuk merencanakan upaya sistematis dalam menghilangkan jejak kejahatannya selama dua hari.

"Dia mempunyai kelebihan dari sisi IQ, juga pintar. Kemudian juga dia juga memiliki kepintaran yang tinggi. Waktu yang dibutuhkan, yaitu kalau 2 hari, mulai dari dia melakukan peristiwa pembunuhan sampai dia mengamankan seluruh perbuatan yang dia lakukan," pungkas Roy.

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.