TRIBUNGORONTALO.COM – Sejumlah program pendidikan pemerintah pusat mulai berjalan di Provinsi Gorontalo selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Program tersebut meliputi Sekolah Rakyat, Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), rencana pembangunan Sekolah Garuda, hingga revitalisasi gedung sekolah.

Memasuki Oktober 2026, pelaksanaan program-program tersebut memperlihatkan perkembangan yang berbeda. Sebagian sekolah sudah menerima siswa, sementara pembangunan Sekolah Garuda masih dalam tahap persiapan lokasi.

Data revitalisasi juga menunjukkan ratusan satuan pendidikan di Gorontalo masuk dalam program perbaikan sarana pendidikan pada tahun 2026.

Sekolah Rakyat Tampung 299 Siswa

Salah satu program pendidikan yang telah beroperasi ialah Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo.

Berdasarkan informasi yang dihimpun TribunGorontalo.com dari Pemerintah Provinsi Gorontalo pada Selasa (27/10/2026), sekolah tersebut mulai menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada tahun ajaran 2026/2027.

Sekolah ini menampung 299 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, termasuk siswa dari sekolah rakyat rintisan. Rinciannya terdiri dari 76 siswa jenjang SD, 85 siswa SMP, dan 86 siswa SMA, ditambah 52 siswa lama dari sekolah rakyat rintisan.

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengatakan Sekolah Rakyat merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

“Sekolah ini adalah program prioritas bapak Presiden Prabowo Subianto. Alhamdulillah sekarang sudah jadi dan melaksanakan MPLS. Sekolah Rakyat ini tiga jenjang, SD sampai SMA dan bisa menampung 1.066 siswa,” ungkap Gusnar saat meninjau pelaksanaan MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo, Rabu (5/8/2026).

Gusnar menjelaskan, peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin yang masuk desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sekolah tersebut menyediakan fasilitas belajar dan asrama agar siswa dapat mengikuti pendidikan dengan dukungan fasilitas yang disiapkan pemerintah.

“Jadi fokusnya hanya belajar dan belajar. Ini yang diharapkan oleh bapak presiden, kita mempersiapkan dan membentuk generasi unggulan bangsa yang cerdas, mandiri, berkarakter, dan berakhlak mulia,” kata Gusnar.

Kehadiran sekolah ini menjadi salah satu bentuk pelaksanaan program pendidikan pemerintah pusat di Gorontalo, terutama untuk memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Sekolah Garuda Masih Menunggu Tahapan Pengusulan

Berbeda dengan Sekolah Rakyat, pembangunan Sekolah Garuda di Gorontalo masih melalui tahapan persiapan lokasi dan pengusulan.

Pemprov menyiapkan alternatif lokasi di Desa Botuwombato, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara. Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie meninjau langsung lokasi tersebut pada Selasa (7/4/2026) bersama jajaran pemerintah daerah.

Lahan yang disiapkan memiliki luas sekitar 45 hektare, sedangkan kebutuhan pembangunan Sekolah Garuda diperkirakan mencapai 20 hektare.

Sebelumnya, pemerintah daerah telah mengusulkan lokasi di Kabupaten Boalemo. Namun, lokasi tersebut belum memperoleh persetujuan setelah peninjauan dari pihak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Idah mengatakan pemerintah daerah diminta menyiapkan alternatif lokasi yang dinilai lebih siap.

“Kami diminta untuk menyiapkan alternatif lokasi yang lebih siap. Hari ini kami meninjau langsung di Gorontalo Utara yang dinilai memiliki keunggulan dari berbagai aspek,” jelas Idah.

Ia juga meminta pemerintah daerah segera melengkapi dokumen pendukung untuk proses pengusulan kepada pemerintah pusat.

“Saya minta pak Sekda segera ditindaklanjuti dengan penyusunan dokumen dan video pendukung agar dapat dipresentasikan kepada Bapak Menteri dan Ibu Wakil Menteri sebagai bagian dari proses pengusulan,” tambahnya.

Dengan demikian, kesiapan lahan di Gorontalo Utara belum dapat disamakan dengan pembangunan sekolah yang telah dimulai atau sekolah yang sudah menerima siswa. Status terbaru mengenai persetujuan lokasi dan jadwal pembangunan perlu dikonfirmasi kembali kepada pemerintah provinsi maupun kementerian terkait.

SNT Bone Bolango Mulai Menerima Siswa

Program pendidikan lainnya yang mulai berjalan di Gorontalo adalah Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 6 Bone Bolango. Sekolah yang berada di Kecamatan Tilongkabila tersebut menerima 80 siswa pada angkatan pertama tahun ajaran 2026/2027. Jumlah itu terdiri atas 40 siswa jenjang SMP dan 40 siswa jenjang SMA.

SNT mengusung konsep pendidikan yang memadukan kurikulum nasional dengan penguatan budaya lokal. Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie mengatakan bahwa kehadiran SNT memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengembangkan kemampuan dan memperoleh pendidikan yang lebih baik.

“SNT ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan dan meraih pendidikan yang lebih baik. Saya berharap ke depannya semakin banyak program pendidikan seperti ini sehingga generasi muda Gorontalo memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi mereka,” ujar Idah saat menghadiri kegiatan open house SNT 6, Jumat (16/10/2026).

Idah juga mengingatkan para orang tua agar mendukung anak-anak dalam memanfaatkan kesempatan pendidikan yang tersedia.

“Jangan cepat berpuas diri dengan kemampuan yang ada. Kalau ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih baik, mengapa tidak? Orang tua perlu memberikan dukungan dan mengarahkan anak agar berani mencoba serta memanfaatkan peluang tersebut,” tambahnya.

Menurut Idah, SNT berbeda dari Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat, baik dari sisi sistem pendidikan maupun jenjang yang diselenggarakan. SNT tidak menerapkan sistem asrama sehingga siswa tetap dapat pulang ke rumah setelah mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Revitalisasi 329 Satuan Pendidikan di Gorontalo

Selain menghadirkan program sekolah baru, pemerintah juga menjalankan revitalisasi sarana pendidikan.

Portal SIPERI milik Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Gorontalo menampilkan 329 satuan pendidikan dalam laporan revitalisasi tahun 2026.

Data yang ditampilkan saat penelusuran mencatat total dana sekitar Rp276,5 miliar, dengan rata-rata progres pekerjaan mencapai 48,9 persen. Angka tersebut merupakan data berjalan (real-time) dan dapat berubah mengikuti pembaruan laporan dari masing-masing sekolah.

Untuk Kota Gorontalo, portal tersebut mencatat 45 satuan pendidikan dengan total dana sekitar Rp28,27 miliar dan rata-rata progres 43,7 persen.

Salah satu sekolah yang masuk dalam program tersebut adalah SMA Negeri 2 Gorontalo. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail meninjau pelaksanaan revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran di sekolah tersebut pada Jumat (16/10/2026).

Revitalisasi SMA Negeri 2 Gorontalo menggunakan anggaran sekitar Rp1,273 miliar. Pekerjaan meliputi pembangunan dua ruang kelas baru serta rehabilitasi tiga ruang kelas, laboratorium, dan toilet.

Kepala SMA Negeri 2 Gorontalo, Yansur Panigoro, menyebutkan bahwa progres pekerjaan saat itu telah mencapai sekitar 80 persen. Pihak sekolah menargetkan pekerjaan rampung pada minggu pertama November 2026.

“Alhamdulillah, beliau mengakui kualitas dan progres pekerjaan di SMA Negeri 2 Gorontalo sangat baik. Kami berharap revitalisasi ini dapat menambah sarana dan prasarana sekolah yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar,” kata Yansur.

Selain revitalisasi fisik, kunjungan Gusnar juga berkaitan dengan pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) dalam kegiatan pembelajaran.

Yansur menjelaskan bahwa SMA Negeri 2 Gorontalo saat itu baru memiliki satu unit PID. Pihak sekolah mengatur jadwal penggunaan agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara proporsional oleh para guru.

Gusnar berpesan agar pihak sekolah terus meningkatkan mutu pendidikan serta memaksimalkan fasilitas yang tersedia untuk mendukung proses belajar mengajar.

Baca juga: BAZNAS Buka Lowongan Kerja Lulusan S1 untuk 4 Posisi, Cek Syarat Lengkapnya

Capaian Program Perlu Diukur dari Manfaatnya

Pelaksanaan program pendidikan di Gorontalo menunjukkan sejumlah perkembangan selama masa pemerintahan Prabowo-Gibran. Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo telah menampung siswa, SNT 6 Bone Bolango memulai angkatan pertamanya, sementara Sekolah Garuda masih melalui tahapan persiapan lokasi dan pengusulan. Di sisi lain, ratusan satuan pendidikan tercatat masuk dalam program revitalisasi pada tahun 2026.

Meski demikian, jumlah sekolah dan besarnya anggaran belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan hasil kebijakan pendidikan.

Menurut keterangan Misran Saleh, salah seorang warga di Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, sekolah-sekolah dari program Prabowo-Gibran sudah cukup baik. Namun, ia meminta agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara merata, misalnya Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi masyarakat miskin.

"Bagus program ini kalau menurut saya. Tapi harus dipastikan apakah memang ini kena ke masyarakat yang membutuhkan," bebernya.

Ia mengaku sempat berencana menyekolahkan anaknya ke salah satu program nasional tersebut. Namun, hambatan utama baginya adalah pengurusan berkas dan aksesibilitas.

"Kalau saya mungkin berpikir berkasnya susah dan akses kalau kalangan bawah kurang jadi saya kasih sekolah di sekolah biasa saja, " ucapnya.

Sementara itu, Dian Akuba, warga Tapa, Bone Bolango, menyampaikan bahwa program ini sangat bagus dan ia berencana menyekolahkan anaknya di sana kelak.

"Anak saya kan masih SD kalau sudah SMP atau SMA rencananya akan kasih sekolah di sana, " katanya.

Ia menyebutkan bahwa pemerintah provinsi harus dapat mengelola program-program tersebut dengan baik.

"Sekarang tugasnya adalah bagaimana mengelola program ini karena tujuannha jelas mencerdaskan anak-anak bangsa, " jelasnya.

Masyarakat berharap program pendidikan ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata di Gorontalo. (*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.