TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Warga Tanjungpinang berburu sembako di Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kota Tanjungpinang bertempat di Jalan Garuda, halaman samping Masjid Al-Iltizam, Kilometer 8 Atas, Tanjungpinang, Kamis (22/10/2026) pagi.
Harga sembako yang ditawarkan di tempat ini dinilai lebih terjangkau dibanding harga pasar. Itu pula yang membuat sejumlah warga terutama emak-emak, datang membeli kebutuhannya.
Seorang warga, Fika, menyebut dengan modal Rp200 ribu ia bisa membeli sejumlah kebutuhan bahan pokok.
"Alhamdulillah dengan modal Rp200 ribu bisa beli kebutuhan pokok sebanyak ini. Ada beras, minyak goreng, gula, bawang, dan sayuran," ujar Fika melansir tanjungpinangkota.go.id, Jumat (23/10/2026).
Dengan barang serupa, ia memperkirakan bisa menghabiskan uang sekitar Rp300 ribu jika dibeli di pasar atau swalayan. Menurutnya, selisih harga sejumlah komoditas cukup terasa, terutama gula dan minyak goreng.
"Gula bisa selisih sekitar Rp4 ribu, sedangkan minyak goreng sekitar Rp5 ribu," ucapnya.
Fika berharap kegiatan GPM bisa digelar lebih rutin, setidaknya sekali dalam sebulan. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat harga komoditas seperti cabai dan bawang mengalami kenaikan.
"Gerakan Pangan Murah ini sangat membantu kita, apalagi yang punya usaha UMKM gitu,” katanya.
Sementara itu, Kepala DPPP Tanjungpinang, Robert Lukman, menyampaikan GPM merupakan bagian dari gerakan pangan murah nasional yang digelar serentak dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke-46 tahun 2026.
Kegiatan tersebut juga disejalankan dengan pembukaan Gerakan TANJAK PANGAN (Tanjungpinang Ajak Jaga Pangan).
GPM bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.
Dalam kegiatan itu, ayam segar dijual seharga Rp32 ribu per kilogram, sedangkan harga di pasaran berkisar Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Robert menyebut kegiatan serupa tidak bisa terlalu sering digelar karena perlu mempertimbangkan keberlangsungan usaha pedagang di pasar umum.
"Kalau ini kita lakukan setiap hari, orang tidak akan belanja di pasar-pasar umum, para pedagang akhirnya bisa terdampak karena kita menjual dengan harga yang memang lebih murah," kata Robert.
Ia melanjutkan, harga yang lebih rendah dalam kegiatan GPM ini bukan berasal dari subsidi pemerintah. Vendor yang berpartisipasi bersedia mengurangi sebagian keuntungan agar masyarakat bisa membeli bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.
"Kami bukan memberikan subsidi, vendor memiliki rasa empati untuk sedikit mengurangi keuntungan mereka karena selama ini masyarakat juga sudah banyak berbelanja," ujarnya. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.