TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Penyandang disabilitas Tuli membutuhkan sistem peringatan dini bencana berbasis visual agar dapat mengakses informasi kebencanaan dan melakukan evakuasi secara mandiri. Informasi yang hanya mengandalkan sirene, pengeras suara, atau radio dinilai belum mampu menjangkau kebutuhan mereka.
Anggota Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD PB) dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Ketut Suwara Putra, mengatakan, informasi kebencanaan perlu disampaikan melalui beragam format yang mudah dipahami penyandang disabilitas Tuli.
Menurut Putra, informasi dalam bentuk teks, gambar, lampu peringatan, dan bahasa isyarat dapat membantu penyandang disabilitas Tuli memahami ancaman bencana serta mengetahui langkah yang harus dilakukan.
“Sebagai seorang tuli saya jelas akan membutuhkan akses terkait informasi tersebut seperti visual atau pesan teks seperti tadi ee karena memang, informasinya hanya sebatas sirene pengeras suara radio seperti itu ya ee pengarah suara di tempat-tempat yang biasa kita pakai itu saya yakin saya berisiko tidak akan mendapatkan informasi yang jelas,” jelasnya.
Hal tersebut disampaikan dalam program Trilogi Tribun Lombok (Dialog dan Inspirasi) bertema “Peringatan Dini Inklusif: Bagaimana Penyandang Disabilitas Merespons Peringatan Dini?” yang tayang di YouTube pada Selasa (20/10/2026).
Baca juga: Penyandang Disabilitas Fisik Butuh Evakuasi Inklusif saat Bencana
Putra mengaku belum rutin menggunakan aplikasi resmi seperti Info BMKG maupun Siaga NTB. Selama ini, ia lebih banyak memperoleh informasi melalui media sosial, pesan singkat, grup WhatsApp, Facebook, Instagram, serta televisi.
“Sebenarnya belum terbiasa memakai aplikasi sejenis itu apalagi aplikasi resmi ya he seperti tadi ada info bmkg atau siagb seperti itu saya ee lebih sering mendapatkan informasi itu melalui media sosial pesan teks keluarga terutama atau bahkan teman-teman saya sendiri,” ungkapnya.
Pengalaman gempa bumi yang melanda NTB pada 2018 juga menjadi pengingat mengenai pentingnya akses informasi kebencanaan bagi penyandang disabilitas. Saat itu, informasi yang menjangkau penyandang disabilitas Tuli masih terbatas sehingga mereka mengandalkan media sosial dan bantuan orang-orang di sekitar untuk memahami situasi dan melakukan evakuasi.
Putra menilai, sistem peringatan dini harus dirancang agar informasi dapat diterima dan dipahami semua kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Ia menegaskan, dukungan terhadap penyandang disabilitas tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi. Mereka juga perlu dirangkul dan dilibatkan dalam upaya menjaga keselamatan bersama.
“Dukung kami, rangkul kami untuk keamanan bersama, terutama untuk teman-teman disabilitas,” ujar Putra.
Putra berharap penyandang disabilitas dilibatkan dalam perencanaan penanggulangan bencana, mulai dari penyusunan sistem peringatan dini hingga penentuan langkah evakuasi.
Menurut dia, keterlibatan tersebut penting agar kebutuhan penyandang disabilitas dapat diketahui sejak awal, bukan baru diperhatikan ketika bencana terjadi.
(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.