TRIBUNNEWS.COM - Penggunaan gadget pada anak perlu mendapat perhatian orang tua, terutama jika durasi menonton layar terlalu lama dan mengurangi kesempatan anak berinteraksi dengan orang lain.
Kebiasaan ini dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak, termasuk kemampuan berbicara atau yang dikenal sebagai speech delay.
Dokter Spesialis Anak, dr. Anindira Wulandari, Sp.A, menjelaskan bahwa salah satu hal yang kerap luput dari perhatian orang tua adalah perbedaan antara kemampuan anak memahami perkataan dan kemampuan mengungkapkan keinginannya melalui kata-kata.
Anak mungkin sudah mampu memahami instruksi sederhana, tetapi masih kesulitan mengucapkan kata-kata untuk berkomunikasi.
Kondisi ini perlu diperhatikan karena kemampuan memahami bahasa tidak selalu berkembang sejalan dengan kemampuan berbicara.
Anindira menyebutkan beberapa tanda speech delay pada anak karena terlalu banyak terpapar gadget.
Anindira menjelaskan bahwa perkembangan anak mencakup beberapa aspek, antara lain motorik kasar, motorik halus, sosial, dan bahasa.
Dalam perkembangan bahasa, terdapat dua kemampuan utama yang perlu diperhatikan, yakni bahasa reseptif dan bahasa ekspresif.
Bahasa reseptif merupakan kemampuan anak memahami perkataan, instruksi, atau informasi yang diterimanya.
Baca juga: Cegah Paparan Konten Radikal BNPT Minta Anak dan Remaja Terapkan 3T
Sementara itu, bahasa ekspresif adalah kemampuan anak menyampaikan pikiran, kebutuhan, dan keinginannya melalui kata-kata atau bentuk komunikasi lainnya.
Menurut dr. Anindira, orang tua terkadang menganggap perkembangan bahasa anak berjalan baik karena anak sudah bisa memahami perintah sederhana.
Padahal, kemampuan berbicaranya mungkin masih tertinggal.
“Reseptif itu adalah nerima. Jadi banyak orang tua yang bilang, ‘Anak saya tuh kalau disuruh buang sampah bisa loh, Dok.’ Tapi kalau minta sesuatu cuma nunjuk, dia enggak ngomong apa-apa,” jelasnya kepada jurnalis TribunHealth.com, Melia Istighfaroh, dalam podcast MOMSPIRATION di Kantor Tribunnews.com Solo, Klodran, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, yang tayang Selasa (19/10/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memahami bahasa dapat berkembang lebih baik dibandingkan kemampuan mengungkapkan bahasa.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya menilai perkembangan anak dari kemampuannya mengikuti instruksi, tetapi juga memperhatikan apakah anak sudah mampu menyampaikan keinginannya sesuai usia.
Dirinya menambahkan, keterlambatan bicara terkadang baru disadari ketika anak berusia 2–3 tahun atau menjelang masuk sekolah.
Padahal, tanda-tandanya dapat terlihat lebih awal sehingga orang tua perlu memantau perkembangan bahasa anak sejak dini.
Selain keterlambatan berbicara, orang tua juga perlu memperhatikan kualitas interaksi anak sehari-hari.
Salah satu hal yang disoroti dr. Anindira adalah kontak mata ketika anak berkomunikasi dengan orang lain.
Misalnya, anak memanggil ibunya atau mengeluarkan suara untuk meminta sesuatu, tetapi tidak menunjukkan perhatian terhadap lawan bicaranya.
Perilaku seperti ini perlu diamati bersama tanda perkembangan lainnya.
“Jadi misalnya ngomong tapi enggak kontak mata. Jadi anaknya ngelihat ke mana-mana, tapi misalnya teriak-teriak, ‘Mah,’ tapi dia enggak ngelihat mamahnya. Itu juga sebetulnya suatu tanda bahaya buat kami,” ungkap dr. Anindira.
Meski demikian, tidak adanya kontak mata pada satu kesempatan tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan perkembangan tertentu.
Dokter perlu menilai pola interaksi, kemampuan komunikasi, dan aspek perkembangan anak secara menyeluruh.
Jika anak mengalami keterlambatan bicara disertai kesulitan berinteraksi, orang tua sebaiknya tidak menunggu hingga anak semakin besar untuk melakukan pemeriksaan.
Penggunaan gadget juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan bahasa anak.
Menurut dr. Anindira, ketika anak terlalu sering menonton layar, ia cenderung menerima informasi tanpa harus memberikan respons secara langsung.
Saat menonton video atau film, anak memang dapat mendengar banyak kata dan kalimat.
Namun, aktivitas tersebut tidak selalu memberikan kesempatan yang cukup bagi anak untuk berlatih berbicara, bergantian merespons, atau menyampaikan keinginannya kepada orang lain.
“Karena nonton gadget, dia hanya reseptif, dia enggak perlu ngajak gadgetnya bicara,” jelas dr. Anindira.
Ia menerangkan bahwa anak yang menonton tayangan di layar dapat mendengar percakapan, tetapi tidak harus menjawab atau terlibat dalam komunikasi dua arah.
Jika kebiasaan tersebut mengurangi waktu bermain dan berbicara bersama orang tua, kesempatan anak untuk melatih kemampuan bahasa pun dapat berkurang.
Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan bukan hanya durasi penggunaan gadget, tetapi juga kegiatan yang tergantikan oleh aktivitas tersebut.
Interaksi langsung, seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, bernyanyi, dan bermain bersama, membantu anak belajar memahami serta menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan gadget tidak dapat langsung dianggap sebagai satu-satunya penyebab speech delay.
Keterlambatan bicara dapat berkaitan dengan berbagai faktor, sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab dan kebutuhan anak.
dr. Anindira mengingatkan bahwa anak berusia di bawah dua tahun dianjurkan tidak mendapatkan screen time, kecuali untuk kebutuhan tertentu yang dikecualikan dalam pedoman kesehatan, seperti panggilan video interaktif.
Rekomendasi tersebut sejalan dengan pedoman kesehatan anak yang menekankan pentingnya interaksi langsung, aktivitas fisik, dan pengalaman belajar sesuai tahap perkembangan.
Orang tua dapat membantu perkembangan bahasa anak dengan membiasakan komunikasi dua arah sejak dini.
Ketika anak menunjuk suatu benda, misalnya, orang tua bisa menyebutkan nama benda tersebut dan mengajak anak menirukannya secara bertahap tanpa memaksakan respons.
Selain itu, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan keinginannya menggunakan kata-kata, merespons ocehannya, serta mengajak anak berbicara selama kegiatan sehari-hari.
Apabila anak menunjukkan keterlambatan bicara, kesulitan memahami bahasa, atau tanda gangguan interaksi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.
Pemeriksaan dini membantu menentukan apakah anak memerlukan evaluasi pendengaran, penilaian perkembangan lebih lanjut, atau terapi wicara sesuai kebutuhannya.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.