TRIBUNNEWS.COM - Marc Marquez menghadapi tantangan berat saat MotoGP 2026 memasuki seri Mandalika akhir pekan ini.

Rekam jejaknya di Sirkuit Mandalika menjadi perhatian, tetapi Ducati tidak ingin mengambil risiko berlebihan dalam perburuan gelar juara dunia.

Manajer Tim Ducati, Davide Tardozzi, bahkan menilai kehilangan 10 hingga 12 poin di Mandalika masih bisa diterima.

Menurutnya, hasil tersebut tidak akan menjadi masalah besar selama Marquez mampu menjaga peluangnya dalam perebutan gelar.

Setelah tampil sempurna di MotoGP Jepang, Marquez tentu ingin meneruskan momentum positif tersebut di Indonesia. Apalagi, pembalap asal Spanyol itu kini hanya terpaut dua poin dari Jorge Martin di klasemen sementara MotoGP.

Namun, Mandalika selama ini bukanlah sirkuit yang bersahabat bagi Marquez.

Sejak Sirkuit Mandalika masuk kalender MotoGP, Marquez belum pernah berhasil menyelesaikan balapan utama.

Dalam tiga edisi terakhir, pembalap Ducati tersebut selalu gagal finis setelah mengalami kecelakaan.

Salah satu insiden paling parah terjadi pada tahun lalu. Marquez mengalami kecelakaan yang membuatnya menderita patah tulang selangka.

Dengan kondisi tersebut, Ducati memilih pendekatan yang lebih realistis.

Kendati peluang Marquez untuk mengambil alih posisi teratas dari Martin terbuka lebar, tim pabrikan asal Italia itu tidak ingin sang pembalap memaksakan diri demi setiap poin.

"Saya pikir kehilangan 10 atau 12 poin bisa dibilang bukan sesuatu yang buruk," ujar Tardozzi kepada TNT Sports, dilansir Paddock-GP.

"Saya ingin mengatakan satu hal: ya, kami bisa menganggap bahwa kehilangan 10 atau 12 poin adalah kerugian yang wajar di Mandalika, tetapi kami akan ke sana untuk menang," imbuhnya menjelang MotoGP Mandalika 2026.

Baca juga: MotoGP Mandalika 2026: Aleix Espargaro Comeback usai Resmi Gantikan Joan Mir

Motor Ducati Tokcer di Mandalika

Sikap hati-hati Tardozzi bukan berarti Ducati pesimistis terhadap performa Desmosedici di Mandalika.

Sebaliknya, Ducati memiliki catatan impresif dalam tiga edisi terakhir.

Francesco 'Pecco' Bagnaia memenangkan balapan pada 2023, kemudian Jorge Martin yang saat itu membela Pramac Ducati menjadi juara pada 2024.

Musim lalu, giliran Fermin Aldeguer yang membawa Ducati meraih kemenangan di Mandalika.

Catatan tersebut bisa menjadi modal bagi Marquez untuk memahami karakter sirkuit sekaligus mengoptimalkan Desmosedici.

Salah satu tantangan yang harus diperhitungkan adalah penggunaan ban belakang Michelin dengan konstruksi yang diperkuat di tengah kondisi yang berat di Indonesia.

Karena itu, Tardozzi tetap memasang target kemenangan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dalam persaingan menuju gelar juara dunia, tidak semua balapan harus dimenangkan.

Tardozzi turut menyoroti peran penting Marquez di dalam garasi Ducati.

"Dia adalah seorang pemimpin di garasi. Dia tahu bagaimana memotivasi orang dan bagaimana menerima bantuan dari tim," kata Tardozzi.

Bantuan tersebut kali ini bisa berupa pengingat bahwa seorang kandidat juara juga harus mampu mengelola akhir pekan yang tidak berjalan sesuai harapan.

Di Motegi, Marquez tampil agresif dan berhasil mengumpulkan 37 poin. 

Namun, situasi di Mandalika bisa saja berbeda. Jika Martin mampu tampil lebih cepat dan Marquez harus memilih antara mengamankan sejumlah poin atau mengambil risiko besar hingga kembali gagal finis, Ducati tampaknya sudah menentukan sikap.

Ducati tetap akan memburu kemenangan seperti yang ditegaskan Tardozzi.

Namun, jika kondisi tidak memungkinkan, kehilangan sekitar 10 poin di Mandalika masih dianggap sebagai kerugian yang dapat diterima demi menjaga peluang Marquez dalam perburuan gelar.

(Tribunnews.com/Giri)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.