TRIBUNNEWS.COM — Pernah membayangkan apa yang terjadi jika Anda menggali lubang lurus ke bawah hingga menembus seluruh Bumi?

Pertanyaan sederhana itu ternyata memiliki jawaban yang cukup mengejutkan.

Jika seseorang menggali garis lurus dari Amerika Serikat atau sebagian besar wilayah Amerika Utara, ia tidak akan muncul di China, seperti anggapan yang selama ini populer.

Sebagian besar lokasi di daratan Bumi justru memiliki titik berlawanan di tengah lautan.

Titik yang berada tepat di sisi berlawanan dari suatu lokasi di permukaan Bumi disebut antipode.

Konsep ini kembali menjadi perhatian setelah platform interaktif ThroughEarth memvisualisasikan lokasi yang akan menjadi titik keluar jika seseorang secara hipotetis menggali terowongan lurus menembus pusat Bumi.

Menurut laporan IFLScience pada 1 Oktober 2026, data yang digunakan ThroughEarth berasal dari Natural Earth dan citra satelit NASA Blue Marble.

Baca juga: China Petakan Seluruh Mars, Ambisi Salip Amerika Bawa Sampel ke Bumi

Platform tersebut menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 persen wilayah daratan dunia yang memiliki daratan tepat di sisi berlawanan Bumi.

Artinya jika garis lurus ditarik dari sebagian besar titik di daratan, ujung lainnya kemungkinan besar berada di lautan.

Mengapa bukan China?

Anggapan bahwa orang Amerika akan keluar di China sebenarnya tidak sesuai dengan posisi benua di permukaan Bumi.

Contohnya, jika titik awal berada di Los Angeles, Amerika Serikat, antipodenya berada di Samudra Hindia, sekitar 1.530 kilometer dari daratan terdekat.

Sementara jika perjalanan hipotetis dimulai dari London, Inggris, ujung lainnya berada di Samudra Pasifik Selatan, sekitar 740 kilometer dari Selandia Baru.

Untuk mencapai wilayah China dari sisi berlawanan Bumi, titik awalnya justru harus berada di sebagian wilayah Amerika Selatan.

Shanghai, misalnya, memiliki titik antipode di wilayah Argentina.

Hal ini terjadi karena posisi daratan di Bumi tidak tersusun seperti dua keping puzzle yang saling berhadapan.

Sekitar 71 persen permukaan Bumi tertutup air, sehingga kemungkinan titik antipode berakhir di lautan memang jauh lebih besar.

Data US Geological Survey (USGS) juga mencatat sekitar 71 persen permukaan Bumi tertutup air.

Bagaimana menentukan titik antipode?

Secara matematis, menentukan antipode sebenarnya cukup sederhana.

Jika sebuah lokasi berada di lintang tertentu di belahan Bumi utara, titik antipodenya berada pada lintang yang sama di belahan selatan.

Sementara garis bujurnya digeser 180 derajat.

Baca juga: Kenapa Awan yang Berat Tidak Jatuh ke Bumi? Ini Penjelasannya

Sebagai contoh, koordinat sekitar 40 derajat Lintang Utara dan 74 derajat Bujur Barat akan memiliki antipode sekitar 40 derajat Lintang Selatan dan 106 derajat Bujur Timur.

Martin Krpelan, pengelola ThroughEarth, menjelaskan bahwa perhitungan tersebut dilakukan dengan membalik garis lintang dari utara ke selatan atau sebaliknya, kemudian menggeser garis bujur 180 derajat.

Setelah itu, data geografis di kedua titik dibandingkan untuk mengetahui apakah titik berlawanan tersebut berada di daratan atau lautan.

Indonesia juga punya antipode

Konsep ini berlaku untuk seluruh lokasi di Bumi, termasuk Indonesia.

Artinya, setiap kota atau wilayah di Indonesia memiliki satu titik antipode yang berada tepat di sisi berlawanan planet.

Namun, karena sebagian besar titik antipode berada di lautan, menggali dari Indonesia tidak serta-merta membuat seseorang muncul di negara lain.

Untuk mengetahui titik yang benar-benar berlawanan, koordinat lokasi harus dihitung terlebih dahulu.

Secara umum, dua titik antipode dipisahkan oleh diameter Bumi.

NASA mencatat radius rata-rata volumetrik Bumi sekitar 6.371 kilometer, sehingga diameter rata-ratanya sekitar 12.742 kilometer.

Artinya, secara teoritis, sebuah terowongan lurus dari satu titik ke titik antipodenya akan memiliki panjang sekitar 12.742 kilometer jika melewati pusat Bumi.

Bisakah manusia benar-benar menggali sampai ke sisi lain?

Jawabannya, secara teknologi saat ini, hampir mustahil.

Rekor pengeboran terdalam yang pernah dicapai manusia adalah Kola Superdeep Borehole di Semenanjung Kola, Rusia.

Sumur penelitian tersebut mencapai kedalaman sekitar 12.262 meter atau 12,3 kilometer. Penelitian mengenai sumur Kola mencatat kedalaman akhir sekitar 12.262 meter. 

Bandingkan dengan diameter Bumi yang sekitar 12.742 kilometer.

Kedalaman Kola hanya sekitar 0,2 persen dari jarak yang dibutuhkan untuk menembus Bumi dari satu sisi ke sisi lainnya.

Persoalan terbesar bukan hanya jarak.

emakin dalam masuk ke Bumi, suhu dan tekanan juga semakin tinggi.

Pada kedalaman sekitar 12 kilometer di Kola, suhu batuan dilaporkan mencapai sekitar 180 derajat Celsius, jauh lebih tinggi daripada perkiraan awal para peneliti. Kondisi tersebut membuat batuan dan peralatan pengeboran semakin sulit ditangani. 

Jadi, sebenarnya akan muncul di mana?

Jika manusia memiliki teknologi untuk membuat terowongan lurus melewati pusat Bumi, jawabannya bergantung sepenuhnya pada titik awal.

Namun, peluang untuk keluar di daratan relatif kecil.

Sebagian besar waktu, titik keluarnya justru berada di lautan.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan betapa tidak meratanya persebaran daratan di planet kita. Hanya sekitar 15 persen wilayah daratan yang memiliki daratan lain tepat di sisi berlawanan Bumi. 

Jadi, jika suatu hari ada teknologi yang memungkinkan perjalanan lurus menembus Bumi, pertanyaan pertamanya bukan lagi "apakah akan sampai China?"

Melainkan, "lautan mana yang akan menjadi tempat kita muncul?" (IFLScience/ScienceDirect/NASA/Scientific American)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.