TRIBUNNEWS.COM - Aroma rempah dan ikan patin memenuhi dapur produksi Cenma ketika proses pembuatan karak dimulai. Di atas meja stainless, jemari pekerja cekatan memisahkan daging ikan dari durinya, kemudian membilasnya hingga bersih.

Daging putih itu lalu digiling dan dicampur bersama tepung tapioka, bawang putih, ketumbar dan garam. Adonan diuleni dalam baskom besar hingga tercampur rata sebelum dibentuk dan dikukus.

Uap panas mengepul ketika gulungan adonan diangkat dari panci. Setelah dingin dan teksturnya mengeras, pisau mulai mengirisnya menjadi lembaran tipis. Satu per satu lembaran karak mentah ditata di atas tampah bambu untuk dijemur.

Setelah kering, lembaran itu masuk ke minyak panas. Dalam hitungan detik, adonan yang semula tipis mengembang menjadi keripik karak yang renyah.

Di dapur itulah ikan patin yang dibudidayakan di Tabalong mendapat bentuk baru sebelum dikemas dan dipasarkan sebagai produk Cenma, usaha camilan milik Tri Utami di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Ikan patin bukan bahan yang dipilih Tri secara kebetulan. Komoditas tersebut mudah ditemukan di Tabalong karena terdapat wilayah yang menjadi sentra budidaya ikan. Beras yang digunakan dalam produk Cenma juga berasal dari potensi lokal.

Produk Cenma dibawa saat pelatihan UMKM
PRODUK CENMA - Produk Cenma dibawa mengikuti pelatihan branding

Pertimbangan serupa diterapkan Tri ketika memilih buah naga sebagai bahan baku Kuping Kelinci. Ia tidak ingin produk yang dibuat hari ini justru kesulitan mendapatkan bahan baku ketika permintaan meningkat.

“Kalau memproduksi suatu produk, kalau bahan bakunya enggak tersedia, kita pasti terkendala. Saya lihat buah naga berbulan-bulan, tiap bulan bahan bakunya selalu ada di Tabalong,” ujar Tri.

Sekitar 70 persen bahan baku Cenma kini berasal dari sumber lokal, antara lain buah naga, beras dan ikan patin. Sisanya berupa bahan seperti minyak goreng dan tepung yang masih didatangkan dari luar daerah.

Pilihan bahan baku itu membuat produk Cenma bersinggungan langsung dengan aktivitas ekonomi di sekitar Tabalong. Ada petani yang menghasilkan beras, pembudidaya yang memelihara ikan patin, kemudian Cenma mengolahnya menjadi produk siap konsumsi.

Dari bahan mentah, nilainya bertambah di dapur produksi. Setelah dikemas, produk bergerak menuju pasar.

Tetapi untuk sampai pada tahap tersebut, perjalanan Cenma tidak selalu mulus.

Tri mulai menjalankan usaha camilan setelah mendapat tawaran dari dinas setempat. Produk pertama yang dibuat adalah kerupuk bawang. Seiring berjalan waktu, ia mulai melakukan inovasi dan mengembangkan produk dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di daerah.

Kuping Kelinci berbahan buah naga kemudian lahir dengan dorongan pembinaan yang diterimanya. Karak Patin dikembangkan dengan menggabungkan beras dan ikan patin yang mudah ditemukan di Tabalong.

Cenma perlahan tidak hanya memproduksi makanan ringan, tetapi mengarah pada produk yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas daerah.

Di balik perkembangan itu, persoalan pertama yang harus diselesaikan Tri adalah tempat produksi.

Ia memperkirakan kebutuhan dana untuk membangun rumah produksi ketika itu hampir mencapai Rp100 juta.

Dana tersebut digunakan untuk membeli material dan membangun fasilitas produksi. Sebagian berasal dari uang pribadi, sementara Tri juga memperoleh dana bergulir sekitar Rp10 juta melalui FIP pada tahap awal.

Jumlah itu hanya sebagian dari kebutuhan. Selebihnya harus ditutup dari sumber dana yang dimiliki Tri.

Rumah produksi kemudian menjadi tempat Cenma mengembangkan kapasitasnya. Namun ketika pesanan bertambah, persoalan kembali bergeser.

Kali ini bukan lagi soal bagaimana memiliki tempat produksi, melainkan bagaimana memenuhi pesanan tanpa terlambat.

Tri memperoleh pinjaman sekitar Rp20 juta pada tahap berikutnya. Dana tersebut digunakan untuk menambah kapasitas produksi dan membeli kemasan.

“Kalau yang terbaru ini memang untuk menambah kapasitas produksi saya, membeli kemasan, supaya enggak telat kalau ada orderan, terima orderan besar,” kata Tri.

Kemasan menjadi kebutuhan yang cukup besar karena Cenma menggunakan kemasan full printing. Untuk mencetaknya, Tri harus memesan hingga ke Yogyakarta.

Bagi usaha yang sedang memperluas pasar, kemasan bukan sekadar pembungkus. Ia menjadi bagian dari identitas produk ketika camilan Tabalong tersebut dipajang berdampingan dengan produk lain di pusat oleh-oleh, minimarket maupun ruang pamer.

Perubahan kebutuhan modal tersebut memperlihatkan fase yang berbeda dalam pertumbuhan Cenma.

Dulu, Tri mencari dana untuk membangun tempat produksi. Kini, tambahan modal digunakan agar tempat tersebut mampu mengejar pesanan.

Perubahan skala usaha juga didorong oleh cara Tri memperkenalkan produknya.

Cenma mulai memaksimalkan marketplace dan media sosial. Produk tidak lagi hanya mengandalkan pembeli yang datang atau pasar di sekitar Tabalong.

Media sosial digunakan untuk membangun branding, sedangkan marketplace membuka jalur transaksi dengan konsumen dari wilayah yang lebih jauh. Dampaknya terlihat pada omzet.

Sebelum digitalisasi, omzet Cenma berada di kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta. Kini rata-rata omzetnya mencapai sekitar Rp10 juta.

Produksi rata-rata berada di kisaran 1.000 pcs per bulan dengan tiga tenaga kerja.

Angka tersebut berjalan bersama dengan perluasan titik pemasaran.

Produk Cenma pernah dibawa dalam pameran di Sarinah, Jakarta, pada 2023–2024. Produk juga dipasarkan di Samarinda, masuk ke sejumlah pusat oleh-oleh dan minimarket, serta tersedia melalui Galeri Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra di Jakarta dan Bandara Syamsudin Noor.

Cenma bahkan pernah mengirim sampel produk ke Kazakhstan.

Namun Tri belum menjadikan pengiriman sampel tersebut sebagai tanda bahwa produknya telah menembus pasar ekspor. Ia memilih memperkuat pasar Indonesia lebih dahulu.

Target jangka panjangnya adalah membawa Cenma ke berbagai wilayah Indonesia sebelum mengejar pasar luar negeri.

“Rencana jangka panjang, menyebar seluruh Indonesia, kepengin ekspor, cita-cita ke depan,” ujar Tri.

Pasar yang semakin luas membuat persoalan di dalam usaha ikut berubah. Produksi harus lebih tertata, keuangan perlu dikelola dan tampilan produk harus mampu mengikuti persaingan.

Di sinilah pembinaan yang diterima Tri mulai diterapkan dalam operasional Cenma.

Belajar Menata Dapur dan Mengelola Usaha

Salah satu perubahan dilakukan melalui penerapan 5R di dapur produksi.

Penerapan budaya kerja 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) menjadi fondasi utama yang mendorong keberhasilan Tri Utami dalam mentransformasi UMKM Cenma. 

“Berawal dari dapur produksi yang terbatas dan kurang terorganisasi, komitmen terhadap prinsip 5R tidak hanya menciptakan lingkungan kerja yang higienis dan efisien, tetapi juga meningkatkan standar operasional serta konsistensi kualitas produk cemilannya secara berkelanjutan,” paparnya.

Dukungan pembinaan berkesinambungan dari Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA)dan PT United Tractors Tbk makin memperkuat langkah Cenma untuk terus berkembang. Lewat kedisiplinan budaya 5R yang telah mengakar, UMKM Cenma kini berhasil naik kelas menjadi usaha yang profesional, terstruktur, dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.

Penataan ruang produksi menjadi bagian dari pembelajaran yang diterima Tri dalam proses pembinaan. 

Ia juga mengikuti pelatihan manajemen keuangan, branding dan packaging serta digital marketing. Pelatihan tidak berhenti pada teori.

Tri membawa materi yang diperolehnya ke dalam pengelolaan Cenma. Cara menata tempat kerja, mengelola keuangan hingga memikirkan tampilan kemasan menjadi bagian dari proses pengembangan usaha.

“Basic mentality digembleng sebagai pengusaha, cara pikir kita untuk menjalankan usaha,” kata Tri.

Pelatihan keselamatan kerja juga menjadi bagian dari pembekalan yang diikutinya.

Berbagai pengetahuan itu datang dari sejumlah pihak yang selama ini berinteraksi dengan Cenma, termasuk YDBA, pemerintah daerah, perusahaan dan lembaga terkait.

Tri menyebut pernah mengikuti kegiatan atau pelatihan yang melibatkan Dinas Koperasi, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Perikanan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pariwisata, Kominfo serta perusahaan seperti Adaro.

Ia tidak hanya menerima pelatihan untuk satu kebutuhan.

Materinya berkembang mengikuti kebutuhan usaha: dari pola pikir pengusaha, tata kelola tempat produksi, pengelolaan keuangan, kemasan, pemasaran digital hingga keselamatan kerja.

Hasilnya kemudian berjalan bersamaan dengan perkembangan Cenma.

Usaha yang bermula dari produksi kerupuk bawang itu berkembang menjadi UMKM mandiri yang memproduksi aneka camilan khas Tabalong.

Karak Patin menjadi salah satu produk yang memperlihatkan hubungan Cenma dengan potensi ekonomi lokal. Bahan bakunya tidak berhenti pada satu titik.

Ada beras yang berasal dari daerah penghasil beras di Tabalong. Ada ikan patin dari wilayah yang memiliki aktivitas budidaya ikan. Dinas Perikanan juga memberikan dukungan terhadap pengembangan produk berbahan dasar ikan.

Setelah bahan tiba di Cenma, Tri dan pekerjanya mengolahnya menjadi produk.

Di tahap berikutnya, produk masuk ke kemasan dan dipasarkan.

Rantai itu membuat satu bungkus Karak Patin membawa lebih dari satu aktivitas ekonomi.

Petani dan pembudidaya memperoleh ruang dalam rantai pasok. Cenma mendapatkan bahan untuk produksi. Tiga pekerja terlibat dalam proses pengolahan. Saluran distribusi membawa produk ke konsumen.

Pola serupa diterapkan pada bahan baku lainnya.

Tri memilih buah naga karena melihat ketersediaannya relatif terjaga. Ia memilih bahan lokal bukan hanya karena ingin menghadirkan rasa khas daerah, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan produksi.

“Karena itu memang bahan bakunya ada di Tabalong, jadi mau melestarikan, mau ikut mengangkat bahan baku yang ada di Tabalong dijadikan suatu produk,” ujar Tri.

Dari pilihan tersebut, identitas produk Cenma kemudian terbentuk.

Camilan menjadi medium untuk memperkenalkan bahan pangan lokal Tabalong dalam bentuk yang lebih mudah dibawa dan dipasarkan.

Inovasi produk Cenma juga membawa Tri mengikuti sejumlah kompetisi.

Pada Tabalong Innovation Award 2022, Cenma meraih Juara 2 melalui inovasi produk.

Dua tahun kemudian, Cenma meraih Gold kategori Bisnis Eksis dalam Adaro Specta Preneur 2024.

Tri juga memperoleh penghargaan dalam Bina Mitra UMKM Award CFCD.

Namun aktivitasnya tidak berhenti pada kompetisi.

Ia mulai mendapat ruang untuk tampil sebagai narasumber. Salah satunya melalui Podcast Obrolan Bisnis di Radio Kabupaten Tabalong.

Pada tahap ini, pengalaman yang sebelumnya digunakan untuk mengembangkan usaha sendiri mulai dibawa ke luar dapur produksi.

Tri mulai berbicara tentang pengalaman menjalankan UMKM kepada pelaku usaha lain.

Perubahan itu menjadi lebih nyata ketika ia dipercaya menjadi instruktur pelatihan bagi UMKM baru yang dilaksanakan dinas setempat.

Pemula jadi Pembina, Sinergi hingga Melintas Generasi

Pada awal membangun Cenma, ia mengikuti berbagai pelatihan untuk memahami cara menjalankan usaha. 

Kini, pengetahuan yang diperolehnya digunakan ketika berhadapan dengan pelaku UMKM yang baru memulai perjalanan.

Tri Utami menjadi pembicara pelatihan UMKM
PEMULA JADI PEMBINA - Tri Utami menjadi pembicara pelatihan UMKM

Tri membagikan pengalaman mengenai pengelolaan usaha, produksi maupun pemasaran ketika menjadi instruktur dan narasumber.

“Pengalaman ataupun ilmu saya selalu saya bagikan saat melatih dan juga memberi sebagai narasumber,” ujarnya.

Pengetahuan tersebut tidak lagi berhenti pada satu rumah produksi di Jalan Flamboyan, Belimbing Raya, Kecamatan Murung Pudak.

Ia dibawa ke ruang pelatihan. Di sana, persoalan yang dihadapi pelaku UMKM bisa berbeda-beda. Ada yang masih mencari pasar, ada yang perlu membenahi kemasan, ada pula yang harus belajar mengatur keuangan usaha.

Tri datang dengan pengalaman yang diperoleh dari persoalan-persoalan serupa.

Ia pernah berada pada posisi ketika rumah produksi membutuhkan dana hampir Rp100 juta. 

Ia pernah menjalankan usaha dengan omzet Rp3 juta hingga Rp5 juta. Ia kemudian memanfaatkan kanal digital hingga rata-rata omzetnya berada di kisaran Rp10 juta.

Ia juga pernah menghadapi kebutuhan kemasan dalam jumlah besar ketika pesanan meningkat.

Pengalaman tersebut menjadi bahan ketika ia berbagi kepada UMKM lain.

Cenma sendiri kini disebut Tri sebagai salah satu UMKM percontohan di Kabupaten Tabalong.

Perjalanan Cenma masih berlanjut. Tri ingin memperluas distribusi produk ke seluruh Indonesia. Setelah pasar nasional semakin kuat, ekspor menjadi target berikutnya.

Untuk mencapainya, ia masih harus menjaga beberapa mata rantai sekaligus: ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, kualitas produk, kemasan dan pemasaran.

Bahan baku lokal tetap menjadi bagian penting dalam rencana tersebut.

Buah naga, beras dan ikan patin memberi Cenma bahan untuk membuat produk. Petani dan pembudidaya menjadi bagian dari rantai pasok. Pekerja menjalankan proses produksi. Marketplace, media sosial, pusat oleh-oleh, bandara dan pameran menjadi pintu menuju konsumen.

Sementara pengetahuan yang diperoleh Tri bergerak ke arah lain.

Dari ruang pelatihan yang pernah ia datangi sebagai peserta, kini ia berdiri sebagai instruktur.

Dari seorang pelaku usaha yang belajar membangun rumah produksi, mengatur keuangan dan mencari pasar, Tri mulai membantu pelaku UMKM lain memahami persoalan yang sama.

Di dapur Cenma, proses produksi tetap dimulai dari bahan yang tersedia di sekitar Tabalong.

Ikan patin diolah menjadi Karak Patin. Buah naga menjadi Kuping Kelinci. Beras lokal ikut masuk ke dalam produk.

Setelah dikemas, camilan tersebut bergerak menuju konsumen di berbagai daerah.

Pada saat yang sama, pengalaman Tri bergerak ke tempat lain—ke ruang pelatihan, ke pelaku UMKM baru yang sedang mencari cara agar usahanya dapat bertahan dan berkembang.

Dari satu rumah produksi di Tabalong, ada dua hal yang kini berjalan bersamaan: produk yang terus diperluas pasarnya dan pengetahuan yang mulai diteruskan kepada pelaku usaha berikutnya.

Peran dan Dukungan Yayasan

Dalam upaya memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) terus konsisten menghadirkan program pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan. Langkah ini diambil guna memastikan para pelaku UMKM binaan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga siap masuk ke dalam rantai pasok industri nasional serta adaptif terhadap perubahan zaman.

Ketua Pengurus Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), Rahmat Samulo, menegaskan pentingnya keterlibatan multisektor untuk membangun fondasi UMKM yang tangguh. Sinergi ini tidak hanya melibatkan pelaku usaha, tetapi juga merangkul perusahaan besar sebagai pembeli potensial (potential buyer), pemerintah, lembaga pendidikan, hingga asosiasi industri.

"Sinergi Yayasan Astra - YDBA dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak. UMKM sebagai binaan menjadi fokus utama yang perlu dipersiapkan, dimulai dari penguatan dasar sebagai pelaku usaha agar memiliki kemauan untuk berubah, berbagi dengan UMKM lain, serta konsisten dan berkomitmen memenuhi standar Quality, Cost, Delivery (QCD) yang dibutuhkan calon buyer," ujar Rahmat Samulo.

Melalui program pendampingan seperti business matching serta link & match, YDBA mempertemukan kebutuhan standar perusahaan besar dengan kapasitas yang dimiliki UMKM. Gap yang ditemukan dalam proses tersebut kemudian dijadikan pijakan utama dalam menyusun program pembinaan terarah, dengan dukungan jaringan infrastruktur, tenaga ahli, dan logistik dari pemerintah serta asosiasi.

Seiring dengan terbukanya akses pasar, YDBA menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi semata tidaklah cukup jika tidak diimbangi dengan tata kelola internal yang kuat dan wawasan lingkungan. Oleh karena itu, YDBA menerapkan pendekatan komprehensif melalui Development Framework yang mencakup lima pilar utama: HRD, Produksi, Pemasaran, Keuangan, serta EHS/CSR (Environment, Health & Safety/Corporate Social Responsibility).

Melalui pilar-pilar tersebut, UMKM diajak untuk membenahi pengelolaan tim kerja sekaligus membangun budaya kerja yang aman dan bertanggung jawab.

"Dengan pendekatan lima pilar ini, pertumbuhan UMKM tidak hanya diukur dari peningkatan omzet, tetapi juga dari kemampuannya membangun usaha yang produktif, tertata, aman, berdaya saing, dan berkelanjutan," tutur Samulo menjelaskan.

Di tengah upaya memperkuat manajemen internal dan efisiensi operasional, tantangan mendasar lain yang kerap dihadapi UMKM Indonesia adalah masalah regenerasi. Banyak usaha potensial yang terhenti akibat tidak tersiapkannya generasi penerus yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan.

Menjawab tantangan tersebut, yayasan mendorong proses regenerasi secara sistemik. Seluruh pengetahuan dan standar kerja dituangkan dalam modul berbasis manajemen seperti PDCA/QCDSM, disamping menyelenggarakan program khusus UMKM NextGen Leader.

"Salah satu tantangan terbesar dalam regenerasi UMKM adalah memastikan generasi penerus memiliki kemauan sekaligus kesiapan untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha," ungkap Rahmat Samulo. "Regenerasi bukan sekadar menyerahkan usaha dari orang tua kepada anak, tetapi juga mentransfer pengetahuan, pengalaman, nilai, jaringan, serta memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk membawa cara kerja dan inovasi baru."

Melalui program UMKM NextGen Leader serta wadah komunitas seperti Himpunan Bengkel Binaan Yayasan Astra (HBBA), para pemilik usaha senior diajak untuk membimbing para calon penerus agar mampu menghadapi tantangan bisnis masa depan.

Tidak hanya fokus pada regenerasi internal, kesiapan UMKM dalam menghadapi era modern juga diuji oleh pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Untuk itu, Yayasan mendorong adopsi teknologi digital yang disesuaikan secara presisi dengan tingkat kesiapan masing-masing pelaku usaha.

Proses digitalisasi diterapkan secara bertahap, mulai dari pencatatan transaksi kasir, penggunaan QRIS, pengelolaan media sosial, hingga pemanfaatan platform e-commerce dan analisis penjualan. Kendati demikian, YDBA menekankan bahwa masuknya teknologi tidak boleh mengikis keunikan serta potensi lokal yang menjadi keunggulan utama produk UMKM, seperti produk kebanggaan Desa Sejahtera Astra maupun kerajinan khas daerah.

"Di sisi lain, identitas dan potensi lokal tetap menjadi kekuatan utama," tegas Rahmat Samulo. "Dengan demikian, teknologi bukan untuk menggantikan identitas lokal, tetapi menjadi alat untuk membuat UMKM lebih produktif, efisien, dan menjangkau pasar yang lebih luas, dengan penerapan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing UMKM."

Melalui kombinasi antara sinergi pasar, pembinaan holistik, regenerasi yang terencana, serta penerapan teknologi yang bijak, Yayasan Astra - YDBA optimistis UMKM Indonesia mampu terus tumbuh menjadi pilar ekonomi nasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.