TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kenapa kabut asap masih menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) meski hujan dan jumlah titik panas (hotspot) turun.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Kalbar, Sutikno memberi penjelasan soal itu.
Ia sebut potensi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih perlu diwaspadai.
Pasalnya, selain hotspot yang masih terdeteksi di sejumlah wilayah Kalbar, Karhutla juga terjadi di provinsi tetangga, yakni Kalimantan Tengah (Kalteng).
“Untuk Kalbar saat ini titik panas sudah memiliki tren menurun, namun masih ada di Melawi, Kayong Utara dan Ketapang serta provinsi tetangga yaitu Kalteng,” kata Sutikno, kepada Tribun Pontianak, Rabu 23 September 2026.
Menurutnya, kondisi arah angin juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penyebaran asap.
Saat ini, arah angin juga menurutnya masih dominan berasal dari timur hingga selatan.
• Kabut Asap Karhutla Kalbar Makin Pekat, BPBD Ungkap Operasi Udara Terhambat Jarak Pandang
Dengan kondisi tersebut, asap dari wilayah yang masih mengalami Karhutla berpotensi terbawa angin ke wilayah lain di Kalbar.
“Dengan arah angin yang masih dari timur hingga selatan, ketika Karhutla di beberapa wilayah tersebut belum padam, maka walaupun terjadi hujan di sebagian besar wilayah Kalbar, asap masih sangat mungkin terjadi di sebagian besar wilayah Kalbar,” jelasnya.
Sutikno mengingatkan bahwa hujan yang terjadi di sejumlah wilayah belum serta-merta menghilangkan potensi asap apabila sumber kebakaran masih belum sepenuhnya padam.
Di sisi lain, BMKG mengingatkan masyarakat Kalbar untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca yang terjadi pada periode musim transisi atau pancaroba.
Sutikno mengatakan musim transisi secara umum ditandai dengan kondisi atmosfer yang fluktuatif, sehingga cuaca dapat berubah dengan cepat dan tidak menentu.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
“Musim transisi terjadi dua kali dalam setahun, yakni peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau sekitar April hingga Mei, dan dari musim kemarau menuju musim hujan sekitar September hingga November,” kata Sutikno.
Menurutnya, salah satu fenomena yang kerap muncul pada periode pancaroba adalah pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb).
“Pemanasan yang intensif pada siang hari dapat memicu gaya angkat udara secara vertikal. Kondisi ini kemudian dapat membentuk awan Cumulonimbus yang berukuran besar dan berwarna gelap,” jelasnya.
• Cuaca Singkawang Berubah, Hujan Ringan Disusul Kabut Asap hingga Awal Oktober
Namun, Sutikno menambahkan kondisi awan Cumulonimbus saat ini tidak selalu mudah terpantau secara visual dari permukaan karena kondisi langit yang tertutup asap.
Selain menghasilkan hujan dengan intensitas tinggi, awan Cumulonimbus juga berpotensi memunculkan sejumlah fenomena cuaca ekstrem.
“Karakteristik awan Cumulonimbus pada masa pancaroba perlu diwaspadai karena dapat menghasilkan petir, angin kencang atau puting beliung, bahkan hujan es,” katanya.
Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk memperhatikan perkembangan kondisi cuaca, terutama ketika terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba.
Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas di ruang terbuka apabila mulai terlihat tanda-tanda pertumbuhan awan konvektif yang signifikan atau terdengar suara petir.
Kewaspadaan juga diperlukan terhadap potensi dampak angin kencang, seperti pohon tumbang maupun kerusakan pada bangunan atau fasilitas yang berada di ruang terbuka.
Nama: Sutikno
Jabatan: Koordinator Bidang Data dan Informasi (DATIN) & PTSP BMKG Supadio Kalbar
Instansi: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
Wilayah Kerja: Kalimantan Barat, khususnya pemantauan cuaca, iklim, dan atmosfer(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.