TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Kakao Indonesia menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan produksi. Setelah diolah menjadi produk turunan, persoalan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut bisa masuk ke pasar dan terserap industri makanan dan minuman (F&B) maupun hospitality.
Pasalnya, hilirisasi tidak otomatis menciptakan nilai tambah jika produk olahan yang dihasilkan tidak memiliki akses pasar.
Kebutuhan mempertemukan pelaku usaha dengan pasar tersebut terlihat dalam Bali Interfood Expo 2026 yang berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali.
Pameran yang mempertemukan produsen, importir, distributor, pembeli sektor hotel, restoran dan katering (HoReCa), pengolah makanan hingga profesional industri itu diikuti lebih dari 150 perusahaan dari lebih dari 15 negara.
Forum tersebut menjadi salah satu ruang bagi pelaku usaha produk olahan kakao untuk memperkenalkan produknya sekaligus membangun hubungan dengan calon pembeli dan industri pengguna.
Salah satunya melalui keterlibatan UMKM Cokelatin Signature yang membawa produk olahan berbasis kakao ke hadapan pengunjung dan pelaku industri F&B.
Kehadiran UMKM seperti Cokelatin Signature menunjukkan bahwa hilirisasi kakao tidak hanya berkaitan dengan industri besar. Produk kakao juga dapat dikembangkan menjadi produk konsumsi yang menyasar pasar akhir maupun kebutuhan industri.
Namun, kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk jadi hanyalah satu bagian dari rantai hilirisasi.
Pelaku usaha juga membutuhkan akses terhadap pasar, jejaring bisnis, standar yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta peluang kerja sama agar produk dapat dipasarkan secara berkelanjutan.
Baca juga: BPDP Dorong Hilirisasi dan Inovasi Produk Kakao Nasional di EastFood Indonesia 2026
Analis Divisi Kerja Sama Kelembagaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Bryan M Chaerandi, mengatakan komoditas perkebunan memiliki peluang menciptakan nilai tambah lebih besar ketika tidak berhenti sebagai bahan baku.
“Komoditas perkebunan tidak berhenti pada produk bahan baku, tetapi memiliki potensi yang luas untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah,” ujar Bryan dalam keterangan yang dikutip, Selasa (15/9/2026).
Menurut dia, forum yang mempertemukan pelaku usaha dengan industri dapat membuka ruang kolaborasi untuk pengembangan dan pemanfaatan produk turunan perkebunan.
Dalam konteks kakao, akses tersebut menjadi penting karena keberhasilan hilirisasi pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan produk olahan masuk ke rantai pasar.
Baca juga: Genjot Efisensi, Industri Pengolahan Cokelat dan Kakao Modernisasi Proses Manufaktur
Semakin banyak produk turunan yang terserap pasar, semakin besar pula peluang terciptanya permintaan terhadap bahan baku dan berkembangnya aktivitas ekonomi di sepanjang rantai nilai kakao.
Karena itu, hilirisasi kakao tidak cukup diukur dari seberapa banyak produk yang berhasil dibuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan produk tersebut memiliki pembeli dan mampu bertahan di pasar.
Bali Interfood Expo 2026 menjadi salah satu ruang pertemuan antara pelaku usaha dan calon pengguna produk. Bagi UMKM, kesempatan bertemu langsung dengan sektor F&B dan HoReCa dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar produk olahan kakao.
BPDP dalam kegiatan tersebut turut memfasilitasi pengenalan produk turunan komoditas perkebunan dan interaksi antara pelaku usaha dengan pelaku industri.
Pada akhirnya, keberlanjutan hilirisasi kakao akan sangat bergantung pada terbentuknya ekosistem dari hulu hingga hilir: mulai dari bahan baku, pengolahan, pengembangan produk, hingga pasar yang mampu menyerap hasil produksi.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.