Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Puji Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Musim panen cengkeh di lereng Gunung Anjasmoro, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tahun ini membawa situasi yang serba tanggung bagi petani.
Harga jual memang lebih tinggi, tetapi jumlah hasil yang bisa dibawa pulang justru merosot tajam.
Kondisi tersebut dirasakan Endon Siswoyo, petani cengkeh asal Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam. Tahun ini, ia hanya mampu memperoleh sekitar 1-2 kuintal cengkeh dari lahannya.
Jumlah tersebut jauh di bawah hasil musim sebelumnya. Ketika seluruh pohon di lahannya berbuah, Endon bahkan bisa mendapatkan hasil hingga 6-7 kuintal.
"Panen tahun ini menurun drastis jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kalau berbuah semua bisa menghasilkan 6-7 kuintal. Tahun ini hanya sekitar 1-2 kuintal," ucap Endon secara terpisah kepada Tribunjatim.com, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: Jombang Masih Bebas Kekeringan, BPBD Petakan Wilayah Utara dan Wonosalam Rawan Karhutla
Ironisnya, ketika produksi mengalami penurunan, harga cengkeh justru bergerak naik. Saat ini, cengkeh basah di tingkat petani berada di kisaran Rp39 ribu per kilogram.
Harga tersebut meningkat dibandingkan musim sebelumnya yang berada di sekitar Rp33 ribu per kilogram.
"Alhamdulillah, harga memang naik. Kalau cengkeh jarang berbuah, harga pasti naik. Tapi kalau panen raya, harga pasti turun. Itu sudah hal biasa bagi saya," ujarnya.
Menurut Endon, kenaikan harga tersebut merupakan konsekuensi dari berkurangnya pasokan. Ketika banyak tanaman tidak menghasilkan buah secara maksimal, jumlah cengkeh yang masuk ke pasar ikut menurun sehingga harga cenderung terdorong naik.
Namun, bagi petani, harga tinggi tidak serta-merta berarti pendapatan meningkat. Sebab, kenaikan harga harus berhadapan dengan jumlah produksi yang jauh lebih sedikit.
Endon mengelola lahan sekitar 4.500 meter persegi atau hampir setengah hektare. Di lahan tersebut terdapat sekitar 40 pohon cengkeh.
Dengan jumlah tanaman itu, produksi tahun ini hanya sekitar 2 kuintal. Produktivitas setiap pohon pun tidak sama karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesehatan tanaman, kesuburan tanah, usia pohon hingga kondisi cuaca.
Menurut Endon, pohon cengkeh yang berusia lebih dari 35 tahun masih mampu menghasilkan puluhan kilogram apabila kondisi tanaman sehat dan produktif.
"Kalau umur pohon di atas 35 tahun dan masih subur, bisa menghasilkan 60 kilogram lebih dalam satu pohon," jelasnya.
Endon membudidayakan cengkeh jenis Zanzibar dan cengkeh merah. Namun, pada musim panen tahun ini, tanaman di lahannya tidak mampu berproduksi seperti musim sebelumnya.
Cuaca yang sulit diprediksi menjadi salah satu kondisi yang dirasakan petani dan turut memengaruhi produktivitas tanaman cengkeh.
Musim panen cengkeh di kawasan Wonosalam umumnya berlangsung mulai akhir Juli hingga awal September. Namun, masa panen tidak berlangsung serentak karena dipengaruhi kondisi geografis dan ketinggian lahan.
Tanaman yang berada di kawasan lebih rendah biasanya memasuki masa panen lebih awal. Sementara itu, cengkeh yang tumbuh di wilayah lereng dengan ketinggian lebih tinggi dapat memasuki masa panen setelahnya.
Bagi Endon dan petani cengkeh lainnya, musim panen tahun ini akhirnya menghadirkan dua kondisi yang berlawanan. Harga membaik, tetapi buah yang dipanen jauh lebih sedikit.
Kenaikan harga tersebut pun belum sepenuhnya mampu menutup kehilangan produksi akibat anjloknya hasil panen.
"Meskipun harga naik, itu juga belum tentu menutup produksi. Karena hasil panen anjlok," pungkas Endon.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.