TRIBUNNEWS.COM - Insinyur MotoGP, Juan Martinez, mengungkap fakta menarik mengenai posisi Francesco 'Pecco' Bagnaia di tengah bayang-bayang besar Valentino Rossi.

Menurut Martinez, Bagnaia tidak pernah benar-benar dianggap sebagai penerus Rossi, meski pembalap Ducati tersebut merupakan salah satu lulusan VR46 Academy, akademi yang didirikan oleh legenda MotoGP berjuluk The Doctor tersebut.

Bagnaia sejatinya memiliki pencapaian yang cukup untuk menyandang status sebagai penerus generasi Rossi.

Pembalap berjuluk "Awan Merah" itu menjadi satu-satunya jebolan VR46 Riders Academy yang berhasil merebut gelar juara dunia kelas premier.

Prestasi tersebut diraih Bagnaia pada MotoGP 2022.

Valentino Rossi (kedua kiri atas) bersama para muridnya lulusa Akademi VR46 yang berlaga di MotoGP
Valentino Rossi (kedua kiri atas) bersama para muridnya lulusa Akademi VR46 yang berlaga di MotoGP (Instagram @valeyellow46)

Setahun kemudian, dia kembali tampil sebagai juara dunia dan mengukuhkan dominasinya dengan meraih gelar kedua secara beruntun.

Keberhasilan itu sekaligus mengakhiri penantian panjang Italia selama 13 tahun untuk kembali memiliki juara dunia di kelas premier.

Namun, perjalanan Bagnaia setelah dua gelar tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Upayanya memburu gelar ketiga secara beruntun pada 2024 harus terhenti di rintangan terakhir.

Sejak saat itu, performa Bagnaia bersama Ducati justru mengalami penurunan.

Pembalap bernomor 63 tersebut kesulitan menemukan konsistensi yang sebelumnya mengantarkannya menjadi penguasa MotoGP.

Baca juga: Puncak Klasemen MotoGP 2026 Bukan Prioritas, Jorge Martin Pilih Nikmati Balapan di Misano

Bayang-Bayang Rossi Masih Terlalu Besar

Situasi tersebut membuat pertanyaan mengenai penerus Rossi kembali muncul.

Sejak The Doctor memutuskan mengakhiri kariernya di MotoGP pada penghujung 2021, Italia belum menemukan sosok yang benar-benar mampu mengisi ruang yang ditinggalkan sang legenda.

Bukan hanya dari sisi prestasi, Rossi meninggalkan warisan yang jauh lebih besar.

Kepribadian, popularitas, serta kemampuannya memberikan pengaruh terhadap MotoGP membuat standar untuk penerusnya menjadi sangat tinggi.

Mantan pembalap MotoGP, Marco Melandri, sebelumnya juga pernah menyoroti minimnya regenerasi pembalap muda Italia di kelas premier.

Martinez memiliki pandangan serupa. Menurutnya, Italia masih kehilangan sosok dengan daya tarik sebesar Rossi, sementara Bagnaia belum mampu keluar sepenuhnya dari bayang-bayang sang legenda.

“Di Italia, bayang-bayang Valentino Rossi masih sangat besar,” ujar Martinez dalam penampilannya di siniar DURALAVITA.

“Meski Pecco telah memenangkan beberapa gelar juara dunia, dia tidak pernah benar-benar diakui atau dianggap sebagai pewaris utama,” lanjutnya.

Martinez menilai kepribadian Bagnaia juga menjadi salah satu faktor yang membuatnya belum mampu mengambil posisi sebagai figur utama MotoGP di Italia.

“Jadi, di Italia, ditambah dengan kepribadiannya, semua faktor tersebut sangat dipengaruhi oleh situasi seperti ini. Jelas, kondisi tersebut tidak membantunya melakukan lompatan untuk mengatakan, ‘Saya adalah bos baru’,” kata Martinez.

Menurutnya, pengaruh Rossi bahkan masih terasa dalam lingkungan para pembalap yang berlatih bersama.

“Dalam satu sisi, Valentino Rossi masih menjadi bos ketika mereka keluar untuk berlatih. Pada akhirnya, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menegaskan dirinya sebagai sosok utama,” ujarnya.

Bagnaia Diminta Lepaskan Bayang-Bayang Rossi

Di tengah situasi tersebut, mantan pembalap MotoGP Ruben Xaus memberikan saran yang cukup mengejutkan kepada Bagnaia.

Xaus menilai Bagnaia kini sudah memiliki pengalaman, kualitas, dan status sebagai juara dunia. Karena itu, dia tidak perlu lagi bergantung pada identitas sebagai murid Rossi untuk membuktikan dirinya.

“Saya hanya punya satu kesimpulan untuk mengakhiri situasi dengan Pecco. Menurut saya, dia masih memiliki sembilan balapan tersisa. Secara pribadi, saya pikir Pecco sudah cukup dewasa dan memiliki pengalaman, keahlian, serta pengakuan sebagai seorang juara dunia,” kata Xaus.

Xaus kemudian mendorong Bagnaia untuk mendekati Marquez dan menjadikan juara dunia tersebut sebagai sumber pembelajaran.

“Dekati Marc Marquez, belajar darinya, dan kesampingkan citra ‘Valentino Rossi’ atau ‘Academy’ yang melekat pada dirinya,” ujarnya.

“Marc adalah talenta yang mungkin hanya akan berada di sini selama dua tahun lagi, sementara Pecco masih memiliki waktu yang lebih panjang,” tutur Xaus.

Karena itu, Xaus menyarankan Bagnaia mengambil pendekatan yang lebih pragmatis dan mengesampingkan persaingan berdasarkan identitas Italia maupun Spanyol.

“Jadi, saya pikir Pecco bisa mengambil langkah mundur dan berkata, ‘Mari ikut dalam perjalanan ini; saya akan mengikuti jalannya. Saya tidak peduli soal warna, saya tidak peduli apa yang dikatakan media Italia maupun Spanyol’,” katanya.

“Dengan kata lain, saat ini ada jauh lebih banyak hal yang bisa diperoleh Pecco jika berada di sisi Marc Marquez dibandingkan jika dia menjauh atau menjaga jarak dari Marc Marquez,” pungkasnya.

(Tribunnews.com/Giri)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.