WARTAKOTALIVE.COM, BANTEN — Deru ombak besar dan hembusan angin kencang Selat Sunda menjadi saksi bisu perjuangan Tim SAR gabungan pada Rabu (9/9/2026).
Memasuki hari kedua, operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) masih terus dipacu melawan ganasnya alam.
Kondisi cuaca yang tidak bersahabat memaksa tim penyelamat harus bertaruh nyawa di tengah laut, demi membawa pulang para pahlawan informasi yang mendedikasikan diri mereka di garis depan bencana.
Kepala Pos SAR Bakauheni Lampung Selatan, Rezie Kuswara, membenarkan bahwa cuaca ekstrem menjadi dinding tebal dalam operasi kali ini.
"Kendala utama adalah kondisi ombak yang sangat besar, berpadu dengan angin kencang. Namun, operasi pencarian tetap kami maksimalkan dengan penuh kewaspadaan," ujar Rezie.
Skenario Penyisiran: Membelah Selat Sunda
Demi menembus ruang dan waktu, Basarnas memecah kekuatan menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperluas jangkauan.
Setiap tim memiliki misi spesifik menyisir perairan yang bergejolak:
* SRU 1 & 2: Mengerahkan kapal besar KN SAR Tetuka 247 dan KAL Anyer, menyisir sejauh nyaris 70 nautical mile (NM) di area perairan lepas.
* SRU 3: Bergerak cepat menggunakan kapal Rigid Inflatable Boat (RIB) 01 Lampung menyisir area perairan yang lebih spesifik.
* SRU 4: Menggunakan RIB 02 Banten, tim ini difokuskan menyisir perairan di sepanjang pesisir Pulau Rakata dan Pulau Panjang, titik yang dievaluasi sebagai area krusial.
Lintasan pencarian kini ditarik memanjang, mulai dari Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, hingga Pulau Legundi yang mengarah langsung ke jantung Anak Krakatau.
Mengapa Pencarian Udara Belum Dilakukan?
Di tengah kecemasan publik yang menanti kabar, muncul pertanyaan mendasar: Mengapa pencarian udara belum dikerahkan?
Kapolda Banten, Inspektur Jenderal Polisi Hengki, angkat bicara.
Ia menegaskan bahwa keselamatan tim penyelamat juga menjadi prioritas.
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih fluktuatif membuat ruang udara di sekitarnya sangat berbahaya bagi penerbangan helikopter.
"Sampai sekarang belum (pencarian udara). Penerbangan komersial pun sangat terbatas, apalagi di pusat terjadinya erupsi. Kami masih menunggu perkembangan cuaca dan aktivitas vulkanik," tegas Hengki.
Polisi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan zona merah.
Radius aman wajib berada di luar jarak tiga kilometer dari kawah.
Mendekat berarti mengundang bahaya mematikan dari lontaran material pijar maupun awan panas.
Baca juga: Tragedi Selat Sunda: 5 Jurnalis Hilang Saat Liput Anak Krakatau, Basarnas Berpacu Waktu
Menanti Mujizat
Perjalanan nahas ini bermula ketika rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) pukul 14.00 WIB.
Niat hati ingin merekam detik-detik gejolak bumi untuk dikabarkan kepada dunia, speedboat mereka justru hilang ditelan senyapnya komunikasi pada pukul 15.04 WIB.
Sebuah titik koordinat terakhir sempat dikirim pada pukul 14.42 WIB—menjadi satu-satunya jejak digital yang kini terus diburu tim SAR.
Berikut adalah 8 nama yang kini berada dalam pelukan doa keluarga dan seluruh masyarakat Indonesia:
* Warta (55) - Kapten Kapal
* Surakman (60) - ABK
* Heriyanto (49) - Pemandu (Guide)
* M Bagus Khoirunnas - Jurnalis Antara
* Ari Basuki - Jurnalis Merdeka
* Yudhis - Jurnalis iNews
* Daus - Jurnalis Anadolu
* Donal - Jurnalis Lepas (Freelance)
Di pesisir Pandeglang, posko antemortem telah berdiri siaga.
Matanya tak lepas memandang batas cakrawala Selat Sunda.
Segenap doa terus dipanjatkan; semoga gelombang mereda, kabut menyingkir, dan delapan jiwa ini dapat segera kembali ke pelukan keluarga mereka.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.