TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Dalam sepekan terakhir, sejumlah pedagang sembako di Pasar Klojen, Kota Malang, mulai kesulitan mendapatkan pasokan beras.
Kondisi kiriman beras yang biasanya datang secara rutin dan kini tersendat, membuat pedagang waswas stok di kios habis.
Baca juga: Antrian SPBU Masih Terlihat di Bondowoso Meski Pertamina Telah Tambah Kuota BBM hingga 20 Persen
Pedagang sembako di Pasar Klojen, Umi mengatakan, sudah sekitar 10 hari tidak menerima kiriman beras dari pemasok.
Biasanya, ia dapat membeli sekitar 20 sak beras dalam sekali kulak.
Namun pada pengiriman terakhir, Umi hanya memperoleh satu sak berukuran 25 kilogram.
"Sampai sekarang tidak ada lagi kiriman. Saya tidak tahu pasti penyebab tidak adanya kiriman, tapi saya dengar katanya pabrik tidak menggiling lagi," kata Umi, Selasa (8/9/2026).
Menurut Umi, persoalan pasokan seperti ini baru pertama kali dirasakannya sepanjang 2026.
Stok beras yang dimilikinya pun semakin terbatas.
Saat ini, tersisa enam sak berukuran 25 kilogram, delapan sak beras SPHP berukuran lima kilogram, dan 10 sak beras premium berukuran lima kilogram.
"Saya sebagai pedagang butuh stabilitas pasokan," ujarnya.
Tersendatnya kiriman mulai berdampak terhadap harga beras premium.
Sebelumnya, Umi mendapatkan beras premium ukuran 25 kilogram dengan harga sekitar Rp385.000, kini harganya menjadi Rp395.000.
Harga jual beras premium kemasan lima kilogram juga naik dari Rp85.000 menjadi Rp87.000.
Sedangkan beras SPHP dijual Rp60.000 per lima kilogram.
Kesulitan serupa dialami pedagang sembako lainnya di Pasar Klojen, Andi S.
Menurutnya, pasokan mulai sulit diperoleh sejak sekitar satu pekan terakhir.
Padahal sebelumnya ia bisa melakukan kulak setiap dua hari.
"Seminggu ini barang sulit. Biasanya kan lancar, tiap kulak barangnya ada. Seminggu ini tidak dapat sama sekali," kata Andi.
Kesulitan tersebut khusus terjadi pada komoditas beras.
Menurut Andi, pasokan minyak goreng, telur, dan gula masih berjalan normal.
Tidak ingin kehilangan barang dagangan, Andi akhirnya mencari beras dari sumber lain.
Ia terpaksa membeli beras secara eceran di Pasar Comboran meskipun harganya lebih mahal.
"Akhirnya cari eceran, harganya lebih mahal. Tapi kalau tidak ada barang, tidak ada yang dijual," ujarnya.
Andi mengatakan, harga beras premium ukuran 25 kilogram yang sebelumnya berada di kisaran Rp370.000 kini mencapai Rp395.000.
Bahkan, ada pedagang yang mendapatkannya dengan harga hingga Rp400.000.
Untuk beras premium, Andi mendapatkan harga sekitar Rp15.750 per kilogram dan menjualnya kembali Rp16.500 per kilogram.
Ia mengaku belum mengetahui penyebab pasti tersendatnya pasokan beras tersebut.
Untuk sementara, pedagang hanya bisa mencari sumber pasokan lain sekaligus menyesuaikan harga jual dengan harga kulakan.
"Mengikuti kondisinya saja. Semoga cepat pulih," kata Andi.
Di tempat terpisah, seorang pedagang di Pasar Bunulrejo, Supriyono menjelaskan, ia tidak lagi menerima pasokan dari distributor, beberapa waktu ini.
"Pasokan beras dihentikan oleh distributor. Biasanya tersedia 20 merek beras dengan stok 5 ton. Sekarang, beras habis," tegas Supriyono.
Ia mengungkapkan, sejak dua pekan ini tidak ada suplai dari distributor, kecuali pasokan beras SPHP sebanyak 100 sak yang kini tinggal 22 sak kemasan 5 kg.
Selama ini, Supriyono mendapatkan suplai beras komersial kemasan jenis premium dan medium dari lima distributor, tiga agen, dan dua penyuplai beras perorangan.
Kenaikan harga beras kian tak terbendung sejak pasokan terhenti.
Supriyono menceritakan, ia kulakan beras premium Rp80.500 per 5 kg, adapun beras medium kemasan 5 kg Rp72.250 per sak.
Harga beras semakin melonjak setelah komoditas pangan pokok itu menghilang di pasaran.
Kalaupun ada beras medium, harga di agen dipatok Rp83.000 per 5 kg, pedagang menjual Rp85.000 per sak.
"Distributor menghentikan pasokan karena harga di atas HET melebihi ketentuan. Saya beli dari distributor sudah tinggi," ujarnya.
Ia mengatakan, pasokan beras tersendat sejak Agustus lalu, kemudian harga melonjak melebihi HET.
Padahal, HET beras telah diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 299 tahun 2025 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras yang berlaku mulai 22 Agustus 2025.
BPS Malang melaporkan, pada 2025, rata-rata konsumsi beras warga di Kota Malang dalam sebulan mencapai 5,81 Kg dengan pengeluaran Rp80.978,75.
Potensi kenaikan bisa mencapai 25 persen saat hari besar seperti Idulfitri.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.