TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau kembali menghadapi tantangan. Di tengah munculnya kebakaran yang harus ditangani di lima kabupaten, kekuatan armada udara yang tersedia justru sedang tidak dalam kondisi penuh.
Dari empat helikopter yang berada di Riau untuk mendukung penanganan karhutla, dua di antaranya saat ini belum dapat digunakan karena masih menjalani proses perbaikan.
Praktis, hanya dua helikopter yang bisa dikerahkan untuk membantu pemadaman dari udara di tengah penanganan karhutla yang tersebar di sejumlah wilayah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau, M Edy Afrizal, mengatakan penanganan saat ini berlangsung di Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti, Siak dan Bengkalis.
“Sekarang ada empat helikopter di Riau. Tapi dua masih dalam perbaikan, jadi yang bisa digunakan untuk membantu pemadaman menyesuaikan dengan kondisi armada yang tersedia,” kata Edy Afrizal, Minggu (4/9/2026).
Helikopter yang dapat beroperasi dikerahkan secara bergantian ke daerah yang membutuhkan penanganan dari udara.
Penentuan lokasi water bombing dilakukan dengan melihat kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Baca juga: Kapolda Riau dan Pangdam Pantau Langsung Karhutla di Siak, Jajaran Diminta Sigap Cek Setiap Hotspot
Keterbatasan armada itu terjadi ketika sejumlah titik kebakaran masih membutuhkan perhatian.
Bahkan, lokasi yang sebelumnya sudah berhasil dipadamkan ternyata belum sepenuhnya aman dari kemungkinan munculnya api kembali.
Kondisi tersebut terjadi di Kelurahan Sungai Beringin, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir.
Karhutla di wilayah itu pertama kali terpantau pada 27 Agustus 2026. Kebakaran menghanguskan sekitar 10 hektare lahan yang terdiri dari semak belukar dan perkebunan kelapa.
Tim gabungan sebelumnya telah melakukan pemadaman melalui jalur darat maupun udara. Setelah penanganan dilakukan, api sempat dinyatakan padam dan di lokasi hanya terlihat asap tipis.
Kondisi yang dianggap mulai terkendali membuat helikopter water bombing yang sebelumnya membantu pemadaman di Sungai Beringin dialihkan untuk menangani kebakaran di daerah lain.
Armada udara tersebut kemudian digunakan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Indragiri Hulu, Bengkalis dan Kepulauan Meranti yang pada saat bersamaan juga membutuhkan dukungan pemadaman.
Namun setelah helikopter dialihkan, titik api kembali dilaporkan muncul di Sungai Beringin.
“Kemarin sebenarnya sudah padam. Tapi setelah itu kita dapat laporan ternyata ada titik api yang muncul lagi di lokasi tersebut,” ujar Edy.
Munculnya kembali api membuat petugas harus melakukan penanganan lanjutan. Kondisi itu sekaligus menunjukkan lokasi bekas karhutla masih membutuhkan pengawasan meskipun api di permukaan sudah berhasil dipadamkan.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, BPBD Damkar Riau memilih tidak langsung mengosongkan lokasi bekas kebakaran.
Sebagian personel pemadam beserta peralatan tetap ditempatkan di kawasan yang telah ditangani. Petugas disiagakan untuk melakukan pemantauan sekaligus bergerak cepat apabila asap maupun titik api kembali muncul.
“Petugas dan peralatannya tetap kita siagakan di bekas lokasi kebakaran. Memang jumlah personelnya tidak banyak, tapi tetap ada yang berjaga di sana,” kata Edy.
(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.