SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan kembali mengalami peningkatan.
Berdasarkan data Situasi Karhutla Sumsel yang diperbarui Jumat (4/9/2026) pukul 09.30 WIB, tercatat sebanyak 1.079 titik hotspot tersebar di sejumlah wilayah Sumsel.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan, peningkatan hotspot terjadi meski penanganan karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh tim gabungan.
" Berdasarkan data Situasi Karhutla Sumsel yang diperbarui Jumat (4/9/2026) pukul 09.30 WIB, jumlah hotspot terdeteksi mencapai 1.079 titik," kata Sudirman.
Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan dua hari sebelumnya.
Pada Rabu (2/9/2026), tercatat 659 titik hotspot. Kemudian jumlahnya meningkat menjadi 926 titik pada Kamis (3/9/2026).
Artinya, dalam kurun waktu dua hari terjadi penambahan sebanyak 420 titik hotspot.
Dari data tersebut, Banyuasin menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 394 titik.
Selanjutnya Musi Banyuasin sebanyak 228 titik, Ogan Komering Ilir 171 titik, Muara Enim 112 titik dan Ogan Ilir 50 titik.
Kemudian PALI 28 titik, OKU 20 titik, OKU Timur 20 titik, Musi Rawas Utara 16 titik, Musi Rawas 15 titik, Lahat 11 titik dan Empat Lawang 5 titik.
Selain peningkatan hotspot, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumsel juga mulai terdampak.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dengan parameter PM2,5, kualitas udara di Palembang berada pada angka 169 atau masuk kategori tidak sehat.
Kondisi serupa juga tercatat di Ogan Ilir dengan angka 167, PALI 145, Musi Rawas 120 dan Musi Banyuasin 119. Seluruhnya berada dalam kategori tidak sehat.
Sementara itu, kualitas udara di Muara Enim berada pada angka 69 dan Lahat 95 yang masih masuk kategori sedang.
Sedangkan OKU Selatan mencatat angka 43 atau berada dalam kategori baik.
Sudirman mengatakan, peningkatan hotspot dan kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Sumsel.
"Penanganan terus diperkuat melalui pemadaman darat dan udara, termasuk pengerahan helikopter water bombing, patroli udara, operasi modifikasi cuaca, pemantauan hotspot, serta pelibatan personel gabungan dan masyarakat," katanya.
Upaya penanganan dilakukan melalui patroli darat dan udara, pemantauan hotspot, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga pemadaman langsung di lokasi kebakaran.
Dengan kembali meningkatnya jumlah hotspot serta memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap.
Masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan warga yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara, diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk serta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.