TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebuah barcode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menggantung mencolok di pintu masuk warung ayam lalapan milik Ahmad di pinggir Jalan Monumen Emmy Saelan, Kota Makassar.
Warung sederhana itu berada sekitar 300 meter dari Jalan Sultan Alauddin.
Di tengah transaksi jual beli ayam lalapan, Ahmad kini ikut mengikuti perubahan cara masyarakat membayar.
Pria berusia 38 tahun tersebut telah menggunakan QRIS sebagai salah satu metode pembayaran di warungnya selama lebih dari setahun.
"Awalnya sudah banyak yang bertanya-tanya. Daripada ketinggalan zaman, akhirnya saya pakai," kata Ahmad kepada Tribun Timur, Minggu (31/8/2026).
Bagi Ahmad, QRIS membuat proses transaksi menjadi lebih cepat dan praktis.
Ia tidak lagi harus mencari uang kembalian karena nominal pembayaran langsung masuk sesuai total belanja pelanggan.
"Langsung masuk rekening. Lebih mudah dan sesuai jumlahnya," ujarnya.
Sebelum menggunakan QRIS, Ahmad mengaku sempat mendapat penawaran dari sejumlah bank.
Namun, ia akhirnya memilih membuat QRIS secara mandiri melalui aplikasi dompet digital DANA.
"Sebelumnya saya ditawari banyak bank. Tapi saya bikin sendiri, pakai aplikasi DANA," katanya.
Tunai Masih Dominan
Meski pembayaran digital sudah tersedia, uang tunai belum sepenuhnya ditinggalkan pelanggan warung ayam lalapan tersebut.
Ahmad memperkirakan sekitar 60 persen transaksi masih dilakukan secara tunai.
Sementara sekitar 40 persen pelanggan memilih membayar menggunakan QRIS.
Menurutnya, pengguna pembayaran digital didominasi kalangan anak muda.
Lokasi warung yang berada tidak jauh dari kawasan kampus turut memengaruhi kebiasaan tersebut.
"Karena di sini dekat kampus, jadi banyak anak muda yang datang ke warung saya," katanya.
Bagi Ahmad, pembayaran digital dan uang tunai masih sama-sama dibutuhkan.
Ia masih menggunakan uang tunai untuk memenuhi sejumlah kebutuhan usaha sehari-hari, terutama saat berbelanja bahan makanan di pasar.
"Masih pakai tunai belanja di pasar, beli ayam, beli sayur, sama bumbu-bumbu," ujarnya.
Meski demikian, Ahmad melihat kebiasaan masyarakat dalam melakukan pembayaran terus berubah.
Ia meyakini penggunaan teknologi pembayaran digital akan semakin meluas seiring perkembangan zaman.
"Kalau saya lihat, pastinya akan lebih canggih, entah mungkin bagaimana lebih cepat lagi nanti," ucap Ahmad.
Pengalaman Ahmad menunjukkan perubahan sistem pembayaran kini mulai menjangkau usaha kecil di pinggir jalan.
Namun, di tengah perkembangan QRIS dan pembayaran digital, uang tunai masih menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, terutama bagi pelaku usaha yang masih berbelanja bahan baku secara konvensional. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.