Oleh: Nur Afiaty Mursalim

Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK Universitas Negeri Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Kita mungkin semakin jarang melihat iklan rokok secara terang-terangan seperti beberapa tahun lalu.

Namun, bukan berarti rokok kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Rokok masih mudah ditemukan di sekitar kita, digunakan di berbagai tempat, muncul dalam percakapan, bahkan sesekali hadir dalam konten media sosial.

Pertanyaannya, apakah rokok masih perlu diiklankan agar terlihat normal?

Mungkin tidak.

Sebuah perilaku dapat menjadi sesuatu yang dianggap biasa bukan hanya karena sering dipromosikan, tetapi karena terus-menerus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika anak melihat orang dewasa merokok, remaja melihat teman sebayanya menggunakan rokok elektronik, atau seseorang melihat tokoh yang dikaguminya menampilkan rokok dalam sebuah konten, secara perlahan perilaku tersebut dapat kehilangan kesan sebagai sesuatu yang berisiko.

Inilah yang dalam perspektif promosi kesehatan disebut sebagai normalisasi perilaku.

Sesuatu yang sebenarnya memiliki dampak buruk bagi kesehatan dapat dianggap wajar karena terlalu sering kita lihat dan lingkungan sosial tidak memberikan penolakan yang cukup kuat.

Masalahnya menjadi semakin kompleks di era media sosial. Promosi produk tembakau tidak selalu hadir dalam bentuk iklan yang secara jelas mengatakan "belilah produk ini".

Rokok dapat muncul sebagai bagian dari gaya hidup, pergaulan, simbol kedewasaan, kebebasan, atau bahkan identitas tertentu.

Ketika gambaran seperti ini berulang, pesan yang diterima masyarakat bukan lagi sekadar tentang produk, tetapi tentang bagaimana seharusnya rokok dipandang.

Bagi anak dan remaja, situasi ini menjadi lebih penting untuk diperhatikan.

Mereka sedang berada dalam fase pembentukan identitas dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial.

Apa yang dilakukan teman, orang yang lebih tua, maupun figur yang mereka ikuti di media sosial dapat menjadi referensi perilaku.

Di sinilah tantangan promosi kesehatan semakin besar. Selama ini kita sering berpikir bahwa cara melawan rokok adalah dengan memberikan informasi mengenai bahayanya.

Poster dipasang, penyuluhan dilakukan, dan peringatan kesehatan disampaikan. Semua itu tetap penting. Namun, pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku.

Bayangkan seorang remaja yang setiap hari mendapatkan pesan bahwa rokok berbahaya, tetapi pada saat yang sama melihat banyak orang di sekitarnya merokok tanpa mendapatkan konsekuensi langsung.

Pesan kesehatan berbicara tentang risiko masa depan, sementara lingkungan memberikan contoh yang dapat dilihatnya setiap hari.

Karena itu, pengendalian rokok perlu bergerak lebih jauh dari sekadar menyampaikan informasi.

Kita perlu membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi normalisasi merokok.

Kawasan tanpa rokok harus benar-benar diterapkan, anak dan remaja perlu dilindungi dari berbagai bentuk paparan promosi, dan media digital harus menjadi ruang yang mendukung perilaku sehat, bukan sebaliknya.

Keluarga juga memiliki peran penting. Larangan kepada anak untuk merokok akan jauh lebih kuat apabila anak tumbuh dalam lingkungan yang memberikan contoh perilaku hidup sehat. Demikian pula sekolah.

Pendidikan kesehatan tidak cukup hanya mengajarkan bahwa rokok berbahaya, tetapi juga perlu membangun kemampuan anak untuk menghadapi tekanan teman sebaya dan berbagai bentuk pengaruh sosial.

Pada akhirnya, keberhasilan promosi kesehatan bukan hanya ketika masyarakat mengetahui bahwa rokok berbahaya.

Keberhasilan juga terlihat ketika masyarakat mulai mempertanyakan mengapa perilaku merokok masih dianggap biasa.

Sebab, ketika sesuatu terus-menerus kita lihat, kita akan semakin mudah menganggapnya normal.

Dan ketika merokok sudah dianggap normal, tantangan promosi kesehatan bukan lagi sekadar membuat orang berhenti merokok, tetapi mengubah lingkungan yang membuat perilaku tersebut terasa biasa.

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.