Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, warga di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kini harus menghadapi persoalan lain yakni sulitnya mendapatkan air bersih pada musim kemarau panjang ini.
Salah satunya dialami Endan Suwandi (44) warga di RT 01, RW 06, Dusun Empangsari, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang.
Buruh serabutan ini harus menempuh perjalanan lebih dari 500 meter menggunakan sepeda motor hanya untuk mendapatkan air yang digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Setiap pagi, Endan harus bolak-balik membawa air dari sumber yang berada di bawah lereng bukit. Jarak yang cukup jauh membuat ia harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli bensin.
Tak hanya itu, Endan pun harus rela mengantre bersama warga lainnya. Jika sumber air yang biasa didatangi sudah habis, ia terpaksa mencari sumber lain yang lokasinya lebih jauh.
Baca juga: Keluarga di Pangandaran Bertahan di Gubuk Setelah Setahun Rumah Ambruk
"Itu kalau airnya masih ada, kalau sudah habis sama warga lain, itu harus pindah ke sumber air yang lebih jauh lagi," ujar Endan kepada Tribun di halaman gubuknya, Minggu (30/8/2026) pagi.
Sebelumnya, Endan mengandalkan selang panjang untuk mengalirkan air dari sumber menuju tempat tinggal mereka. Namun, sumber air tersebut kini mengering.
Kondisi itu membuat Endan harus mengambil air sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Air yang diperoleh pun harus digunakan sehemat mungkin untuk memasak, mencuci pakaian, mencuci peralatan dapur, hingga kebutuhan lainnya.
"Susah, kadang di sumur harus ngantri karena banyak orang. Terus harus pakai bensin buat motor, ya tambah biaya lagi," katanya.
Bahkan, keterbatasan air membuat Endan bersama istri dan kedua putranya harus mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan pribadi.
"Kadang mandi, kadang enggak. Tiga kali ngambil air, kadang buat dua hari. Jadi, pemakaian airnya diperhemat, dicukup-cukupin. Karena banyak orang ngantri," ucap Endan.
Bagi Endan, tentu persoalan air bersih bukan sekadar soal jarak. Setiap kali mengambil air, ada biaya yang harus dikeluarkan, sementara penghasilannya sebagai buruh serabutan tidak menentu.
Jika mendapatkan pekerjaan, Endan biasanya memperoleh upah sekitar Rp60.000 hingga Rp70.000 dalam sehari. Dalam kondisi tertentu, penghasilannya paling banyak mencapai Rp100.000 per hari.
Dengan penghasilan yang tidak tetap tersebut, biaya untuk mendapatkan air bersih menjadi beban tambahan bagi keluarganya.(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.