BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN – Kasus penangkapan beruang jantan berbobot 50 kilogram di Desa Gunung Antasari, Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan pada Jumat (21/8/2026) dini hari menjadi catatan interaksi negatif ketiga yang ditangani BKSDA sepanjang tahun 2026.
Kepala Resort Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Burung Sewangi Wilayah Batulicin, Muhammad Tejar, mengungkapkan tren konflik satwa liar ini terus berulang di beberapa titik wilayah Tanah Bumbu.
"Di tahun 2025 kemarin ada 7 laporan yang masuk ke pihak kami, sementara di tahun 2026 ini sudah ada tiga laporan, yaitu di Desa Selaselilau dan Gunung Antasari," kata Tejar, Jumat (21/8/2026).
Tejar menjelaskan, pola gangguan satwa di setiap desa memiliki karakteristik berbeda, mulai dari merusak komoditas perkebunan hingga memangsa hewan ternak warga.
Baca juga: Serang Ternak Warga di Desa Gunung Antasari, Beruang Madu di Tanahbumbu Masuk Perangkap Besi
Baca juga: Viral Beruang Madu Masuk Permukiman Warga di Kotabaru, Mengais Sampah Cari Makanan
"Untuk kasus kali ini tidak ada kerusakan perkebunan, namun penanganan sebelumnya di Desa Selaselilau, beruang memakan umbut kebun sawit milik warga," ujarnya.
Mengenai fenomena beruang yang mengincar belasan unggas warga di Gunung Antasari, Tejar menilai hal itu dipicu oleh naluri teritorial saat satwa merasa ruang geraknya tersentuh aktivitas manusia.
“Terkait hewan yang mati akibat serangan ini, kemungkinan beruang merasa ada hewan lain yang masuk ke wilayah kekuasaannya,” tutur Tejar.
Saat ini beruang jantan tersebut telah dievakuasi ke Lembaga Konservasi Jhonlin Lestari untuk menjalani perawatan sementara sebelum dikembalikan ke habitat aslinya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.