TRIBUNJATIM.COM - Istilah fatherless kerap dikaitkan dengan anak yang kehilangan ayah karena meninggal dunia atau perceraian.

Padahal, kondisi tersebut memiliki makna yang lebih luas.

Seorang anak bisa saja tinggal serumah dengan ayahnya, tetapi tetap merasa kehilangan sosok ayah apabila tidak mendapatkan perhatian, komunikasi, maupun keterlibatan emosional yang cukup.

Konselor Dr. Heru Mugiarso, Kons menjelaskan, fatherless berkaitan dengan absennya peran ayah dalam proses pengasuhan, bukan sekadar keberadaan ayah secara fisik.

“Kalau kita mau menggunakan terminologi ya, terutama yang terkait dengan psikologi, dari fatherless itu kan suatu keadaan yang ditandai dengan ketidakhadiran seorang ayah di dalam pola asuh pada anaknya, gitu ya,” jelasnya dalam Momspiration "Ramai Isu Fatherless: Tantangan Ayah LDM dan Single Mom" di kanal YouTube Tribun Health, Kamis (13/8/2026).

Menurut Heru, kondisi tersebut bisa muncul karena berbagai faktor. Ayah mungkin telah meninggal dunia, orangtua berpisah atau bercerai, hingga terlalu sibuk bekerja sehingga waktu untuk anak semakin terbatas.

Artinya, ayah yang masih berada di rumah belum tentu membuat anak terbebas dari pengalaman fatherless. Kualitas kehadiran dan keterlibatan dalam pengasuhan menjadi bagian yang tidak kalah penting.

1. Ayah Terlalu Sibuk Mencari Nafkah

Kesibukan mencari nafkah menjadi salah satu situasi yang berpotensi membuat anak merasa jauh dari ayahnya.

Heru menyebut kondisi ini sebagai persoalan yang cukup dilematis. Ayah memang memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi kesibukan tersebut jangan sampai menghilangkan kesempatan untuk membangun kedekatan dengan anak.

Bekerja keras merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kepada keluarga. Namun, anak juga membutuhkan sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan materi, seperti perhatian, komunikasi, kasih sayang, serta waktu bersama.

“Ya, jadi karena kita memang dalam keadaan dimana kita hidup dalam suatu zaman, dimana karena mungkin ya, karena tuntutan ekonomi, karena seorang ayah harus bertanggung jawab secara finansial, kemudian dia memfokuskan seluruh aktivitas hidupnya itu lebih kepada bagaimana mencari uang,” ujarnya.

2. Anak Mulai Menarik Diri

Orangtua juga perlu peka ketika anak mengalami perubahan perilaku.

Anak yang sebelumnya terbuka bisa berubah menjadi lebih pendiam dan enggan menceritakan pengalaman maupun masalah yang sedang dihadapinya.

Perubahan tersebut tidak selalu disertai konflik atau pertengkaran. Sikap diam dan kecenderungan menjauh justru bisa menjadi tanda bahwa anak merasa tidak memiliki ruang yang cukup aman untuk berbicara dengan orangtuanya.

Karena itu, perubahan kecil dalam perilaku anak sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai fase biasa.

Baca juga: Kurangi Fenomena Fatherless, Pemkab Malang Kini Wajibkan Ayah Antar Anak Sekolah

3. Anak Mulai Memberontak

Selain menarik diri, anak juga dapat menunjukkan ketidaknyamanan melalui perilaku yang lebih keras atau memberontak.

Heru menilai, sikap tersebut tidak selalu dapat disederhanakan sebagai bentuk kenakalan. Di balik perilaku tersebut bisa terdapat rasa kecewa karena anak merasa kurang mendapatkan perhatian.

“Kemudian yang kedua adalah, orang tua harus bisa membaca misalnya kalau tidak diam, menarik diri, dia memberontak. Jadi pemberontakan dari seorang anak itu mungkin dia sebenarnya tidak puas bahwa selama ini dia kurang diperhatikan,” katanya.

Dengan demikian, orangtua perlu mencari tahu alasan di balik perubahan perilaku anak sebelum memberikan cap sebagai anak nakal.

4. Anak Mencari Validasi di Luar Rumah

Kebutuhan untuk merasa dihargai dan dicintai juga menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang anak.

Ketika anak tidak memperoleh validasi yang cukup dari keluarga, ia bisa berusaha mendapatkannya dari lingkungan di luar rumah.

Heru secara khusus menyoroti kondisi yang dapat dialami anak perempuan. Figur ayah memiliki peran dalam memberikan rasa kasih sayang dan penghargaan kepada anak perempuan.

Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, anak berpotensi mencari perhatian dari figur laki-laki lain.

Persoalannya, tidak semua perhatian yang datang dari luar merupakan bentuk hubungan yang sehat. Anak bisa saja bertemu dengan seseorang yang memberikan validasi semu, kemudian memanfaatkannya atau melakukan manipulasi untuk kepentingan tertentu.

5. Anak Lebih Nyaman dengan Smartphone

Kehadiran teknologi juga dapat menjadi pelarian ketika hubungan anak dan orangtua kurang terbangun.

Smartphone bisa membuat anak sibuk berjam-jam sehingga terlihat tenang dan tidak banyak menuntut perhatian. Namun, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan bahwa kebutuhan emosional anak telah terpenuhi.

Menurut Heru, gawai bahkan berpotensi mengisi ruang yang seharusnya digunakan untuk interaksi antara anak dan orangtua.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata seberapa lama anak menggunakan smartphone. Orangtua juga perlu melihat seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan untuk mengobrol, mendengarkan cerita, dan membangun kedekatan dengan anak.

Baca juga: Angka Fatherless Capai 24,9 Persen, Para Ayah di Lamongan Didorong Lebih Aktif Dampingi Anak

Pada akhirnya, fatherless tidak bisa hanya diukur dari ada atau tidaknya ayah di dalam rumah.

Seorang ayah mungkin setiap hari berada di rumah, tetapi anak tetap dapat merasa jauh apabila komunikasi, perhatian, dan kedekatan emosional tidak terbangun.

Sebaliknya, keterbatasan jarak atau kesibukan bukan berarti hubungan ayah dan anak tidak dapat dipelihara. Yang menjadi penting adalah bagaimana ayah tetap menunjukkan keterlibatan dan memberikan ruang bagi anak untuk merasa didengar.

Tanggung jawab finansial memang merupakan bagian penting dari peran ayah. Namun, kebutuhan anak juga mencakup kasih sayang, perhatian, komunikasi, serta rasa aman.

Dengan demikian, menjadi ayah bukan hanya tentang hadir secara fisik, tetapi juga memastikan kehadirannya benar-benar dirasakan oleh anak.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.