Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak semua orang yang memiliki persoalan berat badan terlihat gemuk dari luar.
Ada orang yang tubuhnya relatif kecil atau tidak tampak gemuk, tetapi memiliki perut yang menonjol.
Kondisi seperti ini kerap dianggap sekadar persoalan bentuk tubuh.
Baca juga: Timbangan Normal Bukan Jaminan Sehat, Pakar Ingatkan Bahaya Lemak Visceral di Balik Perut Buncit
Padahal, lemak yang menumpuk di rongga perut memiliki karakteristik yang perlu diperhatikan.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD menjelaskan bahwa lemak di rongga perut berbeda dengan lemak yang berada di bagian tubuh lainnya.
Ketika perut semakin besar, perhatian masyarakat sering tertuju pada penampilan.
Celana menjadi lebih sempit, ukuran pakaian bertambah, atau bentuk tubuh berubah.
Namun, persoalannya bukan hanya apa yang terlihat dari luar.
Baca juga: Tak Malu Perut Buncit, Pegawai Gym Ini Jadi Sorotan dalam Ajang Binaraga di Tiongkok
Lemak yang berada di rongga perut dapat menghasilkan berbagai hormon atau zat yang berpengaruh terhadap kondisi metabolik tubuh.
“Jadi lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain. Karena dia tadi menghasilkan suatu, dia bukan hanya lemak muncul terus beratnya jadi tinggi, tapi dia mengandung banyak hormon lain. Hormonnya jahat,"ungkapnya dalam "Peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat: Awali dengan Langkah yang Tepat," diselenggarakan APL di Cikini Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026)
Karena itu, seseorang yang tidak terlihat gemuk secara keseluruhan tetap perlu memperhatikan kondisi perutnya.
Lemak di rongga perut juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan resistensi insulin.
Dalam pemaparan tersebut dijelaskan, resistensi insulin sebelumnya sering dipahami masyarakat terutama sebagai kondisi yang berkaitan dengan risiko diabetes.
Namun, persoalannya tidak berhenti di sana.
Resistensi insulin juga berkaitan dengan masalah obesitas dan gangguan metabolik lainnya.
Kondisi tersebut dapat berhubungan dengan diabetes, kolesterol hingga hipertensi.
Karena itu, seseorang dengan berat badan tinggi tetap membawa risiko ketika kondisi tersebut berlangsung hingga usia lebih lanjut.
Persoalan dapat menjadi lebih kompleks ketika seseorang memasuki usia 50 hingga 60 tahun dengan berat badan yang masih tinggi.
Seseorang dapat mengalami kegemukan sekaligus diabetes.
Di dalam tubuh, mediator inflamasi yang berkaitan dengan kondisi tersebut dapat terus bekerja dan kemudian berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan.
“Jadi anda mediator inflamasi yang tadi disampaikan itu yang terus bergerak di dalam tubuh kita. Nyerang kesana kemari. Mulai dari sakit mata sampai ke kaki. Nanti dibuat masalah yang memang menjadi problem berat di kemudian hari,"lanjutnya.
Karena itu, menjaga kondisi berat badan bukan hanya persoalan mendapatkan tubuh yang terlihat ideal.
Ada persoalan metabolik yang perlu diperhatikan sejak lebih awal.
Persoalan obesitas juga tidak cukup dilihat hanya dari angka pada timbangan.
Komposisi tubuh, termasuk keberadaan lemak di rongga perut, menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Semakin besar komponen lemak di rongga perut, semakin penting pula upaya untuk mengelolanya.
“Nah itu yang kita harus atasi bagaimana mengurangi komponen lemak di rongga perut itu supaya sel-sel mediator yang jahat itu bisa kita turunin,"sambungnya.
Dengan demikian, orang yang merasa tubuhnya tidak terlalu gemuk tetapi memiliki perut buncit tidak seharusnya langsung menganggap kondisi tersebut hanya persoalan penampilan.
Perubahan pada lingkar perut dapat menjadi alasan untuk mulai lebih memperhatikan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Terlebih, persoalan obesitas tidak selalu hanya terlihat dari luar saja.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.