TRIBUNSUMSEL.COM – Dr. Tirta Mandira Hudhi atau dikenal dr. Tirta turut memberikan tanggapan terkait polemik komentar nirempati oleh sejumlah oknum tenaga kesehatan (nakes) serta dokter terhadap pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bernama Yurizal Tri Chaerawan yang kini telah meninggal dunia.
Sebelumnya, kasus meninggalnya seorang pasien BPJS tersebut viral sempat mengeluhkan lamanya antrean pelayanan rawat inap di media sosial terus menyita perhatian publik.
Polemik tersebut kian memanas setelah unggahan curahan hati almarhum justru direspons dengan komentar bernada nyinyir dan nirempati oleh sejumlah oknum dokter di platform Threads.
Baca juga: Nasib dr Elda, Dokter Spesialis FKKMK UGM Dinonaktifkan RSUP Sardjito Imbas Komentar Negatif Pasien
Menanggapi konflik yang melibatkan rekan sesama profesinya tersebut, dr Tirta memberikan pernyataan keras.
Dr. Tirta secara terbuka dan tegas mengakui bahwa tindakan para sejawat medis yang melontarkan cibiran kepada pasien di media sosial murni merupakan sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa dibenarkan.
Mengawali keterangannya, dr. Tirta menyampaikan belasungkawa mendalam atas berpulangnya almarhum Yurizal.
Ia menegaskan bahwa kehadirannya untuk bersuara bukan untuk membuka kembali luka atau menambah kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan.
"Sebelumnya saya mengucapkan belasungkawa dan berduka cita untuk almarhum yang telah wafat. Tujuan saya sharing di sini bukan untuk menggali kesedihan atau mengingatkan kesedihan kepada keluarga yang ditinggalkan. Saya berharap diberikan ketabahan bagi keluarga almarhum dan semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT," ungkap dr. Tirta dikutip Tribunsumsel.com dalam unggahan Instagramnya, Kamis (6/8/2026).
Baca juga: IDI Soroti Nakes dan Layanan RS Soal Pasien BPJS Meninggal usai Curhat 8 Jam Tak Dapat Ruangan
Ia meminta para dokter maupun organisasi kedokteran untuk tidak berbelit-belit atau berlindung di balik berbagai dalih pembenaran, seperti tekanan kerja (burnout), saat berhadapan dengan kritik masyarakat di media sosial.
"Kalian enggak perlu berdebat ngalor-ngidul, alasan kayak organisasi kedokteran bilang ini karena burnout-lah, ini karena apa-lah, enggak. Apa yang terjadi di Threads itu pure ada pasien komplain, dia sudah buat utas, ada dokter yang me-reply dengan buruk. Dah! Sudah, habis itu sudah salah!" tegas dr. Tirta.
Ia menambahkan bahwa respons buruk dari oknum dokter di ruang publik sudah sepatutnya langsung diakui sebagai bentuk pelanggaran etika, tanpa perlu dicari-cari pembenarannya.
"Intinya apa yang dilakukan sejawat dengan me-reply itu sudah salah. Terserah mau komite etik kedokterannya ngurus atau mau alasan burnout dilampiaskan ke medsos. That's it. Udah, gitu loh," lanjutnya.
Lebih jauh, dr. Tirta menekankan pentingnya perubahan sudut pandang di kalangan tenaga medis dalam melihat posisi pasien.
Ia mengingatkan bahwa dalam sistem pelayanan kesehatan, pasien pada dasarnya memiliki hak penuh untuk menyampaikan keluhan atas pelayanan yang mereka terima.
"Poin utamanya adalah pada dasarnya pasien memiliki hak untuk komplain. Titik, tanpa koma. Teman-teman dokter harus tahu bahwa pendidikan kita memang tidak memandang pasien sebagai customer. Padahal namanya customer, mereka boleh komplain dan mengajukan keluhan," jelas dr. Tirta.
Menurutnya, masyarakat yang berobat menggunakan BPJS Kesehatan telah menjalankan kewajibannya.
Ketika mereka harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian informasi yang jelas, sangat wajar jika kekecewaan tersebut dituangkan ke media sosial.
"Pasien itu tahu dia sakit, dia membayar BPJS, dan dia berobat. Ketika dia antri lima, tujuh, hingga delapan jam mencari kamar, dia tidak tahu kondisi di dalam rumah sakit seperti apa. Tugas kita sebagai pelayan publik adalah memberikan jawaban dan edukasi, bukan malah menyerang balik. Sesimpel itu sebenarnya," tambahnya.
Dr. Tirta juga menyentil pemahaman sebagian dokter terkait regulasi asuransi dan BPJS Kesehatan yang sering kali memicu miskomunikasi di lapangan.
Menurutnya, urusan sistemik BPJS merupakan ranah manajemen rumah sakit dan BPJS itu sendiri, bukan bahan bagi dokter untuk berdebat dengan pasien di media sosial.
"Dokter sering membela diri bilang 'kan urusan BPJS bukan urusan dokter', ya makanya diam. Urusan BPJS itu urusannya BPJS dan rumah sakit. Kalaupun kita dihujat masyarakat, ya itu memang risikonya (eat your own shit). Kalau memang tidak tahu case-nya secara utuh, lebih baik ditahan dan diam," tegasnya.
Di akhir penyertaannya, ia mengingatkan para praktisi medis untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam memanfaatkan media sosial.
"Ketika kalian sudah pintar di satu bidang, belum tentu kamu pintar di bidang yang lain. Bermedsos itu tidak segampang yang kamu kira karena like dan komentar ada dopamine booster-nya. Menahan jari untuk tidak me-reply komentar yang tidak seharusnya itu sangat penting. Jangan sampai blunder ini terus berulang," tutup dr. Tirta.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.