TRIBUNSTYLE.COM - Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi ternyata belum banyak mengubah kebiasaan warga Karanganyar dalam memilih jenis bahan bakar untuk kendaraan mereka.

Meski harga BBM non subsidi mengalami penyesuaian, sebagian besar masyarakat masih tetap mengandalkan Pertalite sebagai pilihan utama untuk kebutuhan sehari-hari.

Pantauan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Karanganyar menunjukkan, antrean kendaraan di jalur Pertalite masih terlihat ramai seperti biasanya.

Bahkan, antrean kendaraan yang hendak mengisi Pertalite masih mengular hingga membuat proses pengisian membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pengisian BBM jenis lainnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap Pertalite masih cukup tinggi, meskipun tersedia pilihan BBM non subsidi dengan harga yang mengalami penurunan.

Potret antrean kendaraan membeli BBM di SPBU Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah Rabu (8/7/2026) malam.
Potret antrean kendaraan membeli BBM di SPBU Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah Rabu (8/7/2026) malam. (TribunStyle/Putri Asti)

Tingginya permintaan terhadap Pertalite membuat stok bahan bakar bersubsidi tersebut lebih cepat habis dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Salah satu kejadian terjadi di SPBU Tasikmadu, Karanganyar, pada Selasa (4/8/2026) sore. Di lokasi tersebut, stok Pertalite dilaporkan telah habis.

Hilangnya stok Pertalite membuat suasana SPBU yang biasanya ramai oleh antrean kendaraan berubah menjadi lebih lengang.

Baca juga: Harga BBM 5 Agustus 2026, Pelanggan Pertalite di Solo Masih Antre Panjang Meski Pertamax Turun

Tidak terlihat lagi antrean panjang kendaraan maupun konsumen yang hendak mengisi Pertalite karena bahan bakar tersebut sudah tidak tersedia.

Sementara itu, aktivitas pengisian BBM masih berlangsung untuk jenis Pertamax yang masih memiliki stok.

Sejumlah pengendara yang datang untuk membeli Pertalite terpaksa harus mengurungkan niat atau memilih alternatif BBM lain yang tersedia.

Salah satu warga Karanganyar, Gilang (30 tahun), mengatakan dirinya masih memilih Pertalite karena dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

“Kalau untuk pemakaian harian, saya masih merasa Pertalite lebih cocok. Selain harganya lebih terjangkau, kendaraan saya juga sudah terbiasa menggunakan jenis BBM ini,” ujar Gilang.

Menurut Gilang, penurunan harga BBM non subsidi memang menjadi kabar baik bagi masyarakat, tetapi belum tentu langsung membuat warga berpindah pilihan.

“Kalau selisih harganya sudah mendekati atau lebih terjangkau mungkin ada yang pindah, tapi banyak orang masih mempertimbangkan pengeluaran sehari-hari,” katanya.

Ia berharap ketersediaan Pertalite tetap dijaga agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan bahan bakar yang biasa digunakan.

“Semoga stoknya bisa kembali normal, karena banyak warga yang memang bergantung pada Pertalite untuk aktivitas kerja dan kebutuhan keluarga,” tambah Gilang.

(TribunStyle.com/Putri Asti)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.