TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Layar ponsel di meja kerja dr. Cut Mawani menyala, menampilkan notifikasi panggilan masuk dari fitur Telehealth di aplikasi Mobile JKN. Dokter umum yang bertugas di Klinik Prima Melati, Jalan Ayahanda Medan tersebut menyentuh layar dan menjawabnya secara video call. Di seberang, wajah seorang perempuan muda terlihat seperti sedang menahan nyeri di ulu hati.
Pagi itu, Kamis (30/7/2026), dr. Cut memulai hari dengan video call kepada Widia (28), yang mengeluhkan asam lambung yang kambuh sejak beberapa hari terakhir. Tanpa stetoskop yang menempel di dada pasien, dr. Cut mengandalkan beberapa pertanyaan untuk memahami kondisi Widia: sejak kapan gejala muncul hingga makanan yang mungkin jadi pemicu. Setelah mendapat beberapa jawaban dari Widia, dr. Cut menyarankan Widia menghindari makanan pedas untuk sementara waktu, menjaga pola makan dengan baik, lalu meresepkan obat yang dikirimkan lewat jasa kurir.
Berselang satu jam kemudian, layar ponsel kembali menampilkan notifikasi. Namun bukan panggilan video, melainkan melalui chat. Pada kolom chat, peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bernama Nisa (29) bukan mengeluh sakit. Saat itu, ia tengah menjalani program diet dan ingin saran, menu makan malam apa yang tepat dan aman bagi tubuhnya. Tak sampai lima menit, obrolannya dengan dr. Cut tuntas, lengkap dengan jawaban yang sesuai dengan kondisi tubuhnya, bukan sekadar jawaban umum yang berlaku bagi semua orang.
Widia dan Nisa adalah dua dari jutaan peserta JKN yang kini merasakan langsung layanan Telehealth yakni fasilitas konsultasi medis jarak jauh secara daring dari BPJS Kesehatan yang tersedia gratis melalui aplikasi Mobile JKN. Tak ada ruang tunggu dan nomor antrean yang harus dilalui Widia dan Nisa. Tak ada juga biaya transportasi menuju klinik. Mereka hanya perlu menyiapkan ponsel yang sudah ada aplikasi Mobile JKN untuk berkonsultasi dengan dokter melalui video call atau chat.
Meskipun berbeda latar belakang, pengalaman Widia dan Nisa memberi kesimpulan bahwa Telehealth telah mengubah cara pandang peserta JKN terhadap layanan kesehatan primer. Jika sebelumnya, identik dengan antrean dan jarak tempuh yang cukup jauh, kini dapat hadir kapan pun dibutuhkan. “Saya memilih menggunakan layanan Telehealth, karena berkomunikasi langsung dengan dokter. Saya yakin jawabannya lebih valid karena sesuai dengan ondisi saya dibandingkan jika mencari jawaban melalui AI,” kata Widia.
Meskipun dilakukan secara daring, layanan Telehealth dapat berlanjut ke pemeriksaaan langsung di FKTP atau rumah sakit rujukan jika diperlukan. Dokter umum Klinik Prima Melati, dr. Cut Mawarni menjelaskan, melalui Telehealth, dokter menilai kondisi pasien berdasarkan keluhan, riwayat penyakit, dan informasi pendukung yang disampaikan pasien. “Pemeriksaan langsung dapat dilakukan apabila dokter membutuhkan pemeriksaan fisik atau data tambahan. Keduanya saling melengkapi untuk memberikan pelayanan yang tepat,” kata dr. Cut.
Dikatakan dr. Cut, keterbatasan sinyal dan pemeriksaan fisik menjadi ciri khas layanan ini. Karena itu, tim dokter menggunakan komunikasi yang terstruktur dan ringkas setiap kali ada panggilan melalui Telehealth. Dokter memulai dengan pertanyaan prioritas, kemudian melengkapi informasi secara bertahap. Apabila peserta memiliki alat pengukuran di rumah, hasil suhu, tekanan darah, denyut nadi, atau saturasi oksigen, dapat digunakan sebagai informasi pendukung, dengan tetap memperhatikan cara pengukuran.
“Syukurnya, sampai sekarang tidak pernah ada kendala sinyal. Apabila ada kendala kondisi jaringan yang kurang stabil, fasilitas percakapan tetap tersimpan pada fitur Riwayat di Mobile JKN. Apabila informasi belum mencukupi, pasien diarahkan menjalani pemeriksaan langsung agar pelayanan tetap optimal,” katanya.
Dr. Cut mengakui, literasi digital yang terbatas pasti dialami peserta yang menggunakan Telehealth ketika memahami instruksi medis. Terkait ini, tim dokter akan menggunakan bahasa yang sederhana, kalimat yang singkat, dan instruksi yang disampaikan secara bertahap. Setelah menjelaskan rencana pelayanan, dokter meminta peserta mengulangi kembali inti instruksi dengan bahasanya sendiri. “Cara ini membantu memastikan bahwa aturan penggunaan obat, pola makan, aktivitas, jadwal pemantauan, dan tanda yang perlu diperhatikan telah dipahami,” katanya.
Terjawab Tepat Waktu
KEBERADAAN Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menjadi salah satu ujung tombak keberhasilan Telehealth. Direktur Klinik Prima Melati, dr. Sri Wahyuni Nasution mengatakan, sebagai FKTP yang sudah menjalankan layanan ini sejak tahun 2023, sambutan peserta cukup baik. Dalam sebulan, terdapat 50-an peserta yang menggunakan Telehealth. Dari seluruh peserta, sekitar 95 persen keluhan peserta dapat diselesaikan melalui Telehealth dan sisanya berlanjut ke pemeriksaan langsung. “Persentasenya sangat baik. Artinya peserta JKN melihat Telehealth ini sebagai layanan yang menjawab konsultasi kesehatan mereka dengan praktis dan mudah,” kata dr. Sri.
Dr. Sri mengatakan, agar layanan ini berjalan dengan baik. Pihaknya menyiapkan jaringan internet yang stabil serta ponsel khusus untuk menjawab atau membalas chat. Dari sisi sumber daya manusia, layanan dilaksanakan oleh dokter dan petugas penanggung jawab yang membantu kesiapan sistem serta pemantauan pesan masuk. “Ada satu prinsip yang selalu kami pegang yakni ketepatan waktu. Kami bekerja memastikan setiap pesan dan panggilan video terjawab tepat waktu. Kalau lama-lama menjawab, peserta berpikiran lebih baik datang langsung ke klinik,” ujar dr. Sri.
Dikatakan dr. Sri, di Klinik Prima Melati, Telehealth diarahkan terutama untuk kebutuhan yang dapat dinilai secara aman melalui komunikasi jarak jauh, seperti konsultasi awal keluhan umum yang ringan, edukasi mengenai konsultasi pola hidup sehat, pemantauan tekanan darah, gula darah dan lain-lain. Layanan ini juga mendukung kegiatan promotif dan preventif yang menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Dr. Sri menegaskan, keberadaan Telehealth perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara BPJS Kesehatan, FKTP dan tenaga medis. Untuk ke masyarakat, dapat dilakukan melalui sosialisasi langsung, peningkatan jaringan internet dan penggunaan aplikasi. Semakin mudah sistem digunakan dan semakin baik integrasinya, semakin besar manfaat Telehealth dalam mendukung pemerataan akses, pelayanan promotif dan preventif, pemantauan penyakit kronis, serta komunikasi antara peserta dan FKTP. “Klinik Prima Melati siap mendukung kemudahan ini melalui konsultasi, edukasi, dan tindak lanjut yang tepat,” lanjutnya.
Digitalisasi Pelayanan
DEPUTI Direksi Wilayah I BPJS Kesehatan, Mustafa mengatakan, hingga Januari–Juli 2026, sebanyak 384 fasilitas kesehatan di Sumatra Utara telah memiliki pemanfaatan layanan telekonsultasi dengan 9.939 kunjungan yang dimanfaatkan peserta JKN. “Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan berbasis digital terus berkembang dan telah dimanfaatkan peserta sebagai salah satu alternatif untuk memperoleh konsultasi kesehatan secara lebih praktis dan mudah,” kata Mustafa.
Dikatakan Mustafa, BPJS Kesehatan terus mendorong pemanfaatan digitalisasi pelayanan sebagai satu upaya memperluas akses peserta terhadap pelayanan kesehatan. Telehealth diharapkan dapat membantu mengatasi kendala jarak dan waktu, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.
Ke depan, BPJS Kesehatan terus mendorong optimalisasi teknologi digital untuk memperluas dan memeratakan akses pelayanan kesehatan bagi peserta JKN, termasuk masyarakat yang menghadapi kendala jarak dan akses geografis. “Pengembangan Telehealth akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan infrastruktur, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, serta kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah,” katanya. (top/Tribun-Medan.com)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.