TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUASHULU – Budidaya madu kelulut yang dikembangkan Kelompok Tani Hutan Datah Buluu' Pering di Desa Datah Dian, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, memiliki cita rasa yang khas sesuai musim bunga.
Ketua Kelompok Tani Hutan Datah Buluu' Pering, Samson Huli (69), mengatakan perubahan cita rasa itu merupakan karakter alami madu kelulut.
Saat kelulut mengisap nektar bunga mangga maupun bunga tanaman yang memiliki rasa asam, madu yang dihasilkan cenderung memiliki rasa sedikit asam.
Sebaliknya, ketika musim bunga durian tiba, madu yang dipanen akan terasa lebih manis.
"Kalau musim bunga mangga atau bunga yang asam, madunya agak asam. Tapi kalau musim bunga durian, rasanya manis sekali," ujar Samson.
Menurutnya, keunikan tersebut menjadi salah satu daya tarik madu kelulut asal Datah Dian.
Namun, produksi madu tidak sebanyak madu hutan karena hasil panen dari setiap koloni relatif terbatas meski jumlah kotak budidaya cukup banyak.
Baca juga: Penting! Tata Tertib Gawai Dayak 2026 di Kapuas Hulu, Ancaman Hukum Adat hingga Pidana
Madu tersebut diberi merk lakin, memiliki makna yaitu perkasa dari bahasa dayak kayaan, sehingga orang yang meminumnya diharapkan memiliki kekuatan dan kesehatan.
Budidaya madu kelulut di Kelompok Tani Hutan Datah Buluu' Pering telah berjalan sekitar enam tahun.
Saat ini terdapat sekitar 20 anggota kelompok yang mengelola koloni kelulut dengan masa panen setiap satu setengah bulan sekali.
"Masa panennya satu bulan setengah sekali. Sekali panen bisa menghasilkan sekitar lima sampai enam kilogram madu," katanya.
Samson menjelaskan, pengembangan budidaya madu kelulut di desanya tidak lepas dari pendampingan Taman Nasional Danau Sentarum.
Pendampingan diberikan mulai dari penyediaan bibit, teknik budidaya, hingga pemasaran hasil panen.
"Mereka yang menyediakan bibit, mendampingi kami, mengajari cara budidaya sampai membantu pemasaran. Semua alat panen, botol kemasan, hingga perlengkapan lainnya juga dibantu. Jadi kami benar-benar dibimbing dari awal," jelasnya.
Berkat pendampingan tersebut, madu kelulut Datah Dian kini memiliki pasar yang cukup luas.
Pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Medan, Batam, Sulawesi hingga Jakarta.
"Pesanan sudah banyak. Ada yang membeli satu kilogram, dua kilogram, bahkan antre. Banyak juga pejabat yang memesan," katanya.
Untuk menjaga kualitas, madu yang baru dipanen tidak langsung dikemas.
Madu terlebih dahulu disimpan selama sekitar satu minggu sebelum dimasukkan ke dalam botol.
"Setelah panen, madu kami simpan dulu sekitar satu minggu agar kualitasnya bagus, baru kemudian dimasukkan ke dalam kemasan," ujarnya.
Proses panen dilakukan menggunakan alat penyedot khusus yang ditenagai aki. Para petani juga mengenakan pakaian pelindung lengkap karena koloni kelulut akan bereaksi saat sarangnya dibuka.
"Kalau kita mengambil madunya, mereka tetap marah. Makanya kami memakai pakaian pelindung dan alat khusus saat panen," katanya.
Saat ini madu kelulut dipasarkan dalam kemasan botol 300 mililiter dengan harga Rp100 ribu.
Dari hasil panen sekitar lima kilogram, kelompok tani dapat menghasilkan sekitar 30 botol madu yang sebagian besar telah dipesan pelanggan.
Samson berharap budidaya madu kelulut di Desa Datah Dian terus berkembang sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi hasil hutan bukan kayu khas Kapuas Hulu ke pasar yang lebih luas. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.