TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Riuh tepuk tangan pecah, setiap kali Murai Batu bernama Kingdom menyelesaikan aksinya di atas gantangan.
Di tengah ketatnya persaingan ratusan burung terbaik dari berbagai daerah, Kingdom tampil paling konsisten hingga akhirnya dinobatkan sebagai penguasa arena dalam ajang Kicau Mania Piala SBS (Syafaat Bubur Suro) 2026, di Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Minggu (12/7/2026).
Burung andalan milik Edi Budiarso (36), warga Kajen, Kabupaten Pekalongan, itu sukses memborong gelar juara setelah turun di empat kelas berbeda.
Baca juga: Irjen Pol Ahmad Luthfi: Kicau Mania Jadi Wadah Persatuan dan Peningkatan Ekonomi Lokal
Kingdom mengoleksi poin kemenangan pada tiga sesi, termasuk di kelas utama Murai Batu, sehingga membawa pulang trofi eksklusif, piagam penghargaan, dan hadiah uang tunai.
"Alhamdulillah ikut empat sesi dan bisa dapat poin di tiga sesi," ujar Edi usai menerima penghargaan.
Keberhasilan Kingdom, bukan diraih lewat persiapan yang istimewa. Menurut Edi, burung kesayangannya memang sudah terbiasa tampil di berbagai perlombaan sehingga tetap prima saat menghadapi atmosfer kompetisi.
"Tidak ada persiapan khusus. Seperti biasanya saja karena burung ini memang sering ikut event," katanya.
Meski mendominasi perlombaan, Edi mengakui lawan yang dihadapi memiliki kualitas tinggi.
Burung-burung terbaik dari Pekalongan, Batang, Pemalang, Tegal, hingga Semarang turut memanaskan persaingan di setiap kelas.
"Pesaingnya lumayan serem-serem juga, tetapi alhamdulillah burung ini masih bisa bersaing," ungkapnya.
Kingdom sendiri bukan nama baru di kalangan kicau mania.
Murai Batu tersebut telah berulang kali menorehkan prestasi di berbagai ajang bergengsi, termasuk di Pekalongan, Tegal, dan Semarang.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan diraih saat mengikuti event KLI Pekalongan.
Di balik sederet prestasi itu, Edi telah menekuni hobi burung berkicau selama sekitar satu dekade. Sebelum jatuh hati pada Murai Batu, ia lebih dahulu menggeluti balap merpati.
Kini, ia memelihara lima ekor Murai Batu, beberapa di antaranya juga telah meraih gelar juara.
Kingdom bahkan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Burung tersebut pernah ditawar hingga Rp35 juta.
Namun, Edi memilih mempertahankannya karena masih menjadi andalan di berbagai perlombaan.
"Pernah ada yang menawar Rp35 juta, tetapi tidak saya lepas," tuturnya.
Sementara itu, Koordinator Lomba, Erik Kantona, mengatakan Piala SBS 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Syafaat Festival Bubur Suro hasil kolaborasi dengan Bank Indonesia Tegal mempertandingkan 12 kelas, mulai dari Murai Batu, Murai Muda, Cucak Ijo, Kacer, hingga Cendet.
Antusiasme peserta, kata Erik, melampaui ekspektasi panitia. Hampir seluruh kelas terisi penuh, bahkan masih banyak peserta yang mencari tiket ketika pendaftaran telah ditutup.
"Semua kelas hampir penuh. Bahkan masih banyak yang mencari tiket, tetapi kami tidak membuka kelas tambahan," katanya.
Sekitar 200 burung berlaga sepanjang perlombaan dengan total hadiah sekitar Rp25 juta berupa uang tunai, trofi eksklusif, dan piagam.
"Khusus kelas utama Murai Batu, juara pertama berhak membawa pulang hadiah Rp3 juta ditambah bonus kepala manyung," imbuhnya.
Baca juga: Meriah, 450 Penggemar Kicau Mania Ramaikan HUT ke-20 SPP PWK Cilacap
Tak hanya menawarkan persaingan yang kompetitif, Piala SBS 2026 juga mengusung konsep sosial.
Seluruh uang pendaftaran peserta diperkirakan terkumpul sekitar Rp25 juta hingga Rp27 juta dan disalurkan kepada Yayasan Wakaf Kaum Dhuafa untuk mendukung program pengadaan bibit pangan.
"Semua uang pendaftaran kami sumbangkan untuk wakaf. Jadi peserta tidak hanya ikut lomba, tetapi juga sekaligus bersedekah," jelas Erik. (Dro)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.