TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Luka di kulit bukan satu-satunya dampak yang harus diwaspadai setelah seseorang mengalami kecelakaan. 

Benturan keras saat kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, maupun terjatuh dari ketinggian dapat memicu kerusakan pada tulang, paru-paru, ginjal, hingga organ reproduksi.

Yang berbahaya, sebagian cedera tersebut tidak selalu terlihat dari luar. 

Karena itu, pasien trauma membutuhkan pemeriksaan menyeluruh agar kerusakan organ dapat segera ditemukan dan ditangani.

Saat peluncuran Trauma Center Bethsaida Hospital Serang Banten, Jumat (26/6/2026), Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandi, menjelaskan bahwa setiap benturan akan menghasilkan energi yang mengalir ke dalam tubuh. 

Energi tersebut dapat merusak berbagai bagian tubuh, bergantung pada lokasi benturan dan kekuatannya.

Benturan Dada Bisa Melukai Paru-Paru

Cedera dada menjadi salah satu kondisi yang paling sering dijumpai pada korban kecelakaan.

Menurut dr. Tirta, benturan dapat menyebabkan tulang dada maupun tulang rusuk patah. Namun, bahayanya tidak berhenti di situ.

Energi benturan dapat diteruskan menuju paru-paru sehingga menimbulkan memar pada jaringan paru atau bahkan menyebabkan paru mengalami robekan.

Dalam kondisi tertentu, udara dapat keluar dari paru-paru dan terjebak di rongga dada.

Baca juga: Stroke dan Jantung Sering Tanpa Gejala, Kenali 4 Indikator Kesehatan Utama Sebelum Terlambat

Akibatnya, paru tidak bisa mengembang secara normal sehingga pasien mengalami gangguan pernapasan.

Selain udara, darah juga dapat memenuhi rongga dada sehingga fungsi paru semakin terganggu.

Karena itu, cedera dada memerlukan penanganan cepat agar gangguan pernapasan tidak berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.

Trauma Perut Sering Tidak Terlihat

Berbeda dengan dada, perut tidak memiliki perlindungan tulang yang kuat.

Akibatnya, benturan langsung pada perut lebih mudah mengenai organ-organ penting di dalamnya.

Hati, limpa, usus, ginjal hingga kandung kemih dapat mengalami perdarahan maupun robekan akibat benturan keras.

Dr. Tirta menjelaskan bahwa lokasi benturan juga membantu dokter memperkirakan organ mana yang kemungkinan mengalami cedera.

Benturan dari depan dapat mengenai organ-organ di rongga perut, sedangkan benturan dari samping membuat dokter perlu mencurigai cedera pada ginjal.

Sementara itu, benturan di bagian panggul dapat memengaruhi saluran kemih maupun organ reproduksi.

Cedera Panggul Banyak Terjadi pada Lansia

Selain akibat kecelakaan, cedera panggul juga banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut.

Baca juga: Menteri Kesehatan Tegaskan AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Menurut dr. Tirta, patah tulang di sekitar panggul dan paha atas menjadi salah satu cedera yang cukup berat karena dapat mengganggu kemampuan berjalan.

Pada kondisi tertentu, pasien membutuhkan tindakan operasi untuk memperbaiki kerusakan tulang.

Cedera serupa juga dapat dialami korban kecelakaan dengan benturan yang sangat kuat.

Cedera Olahraga Juga Kerap Ditangani

Trauma tidak selalu terjadi di jalan raya.

Aktivitas olahraga juga dapat menyebabkan cedera pada tulang maupun sendi.

"Jadi kalau saya melihat kasusnya di sini, kita kasus pada olahraga. Olahraganya lupa main badminton, sepakbola, kalau emosi, benturan dalam olahraga," kata Tirta.

Cedera akibat olahraga umumnya mengenai anggota gerak, mulai dari patah tulang, robekan jaringan hingga cedera sendi.

Karena tingkat keparahannya berbeda-beda, penanganan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dokter.

Ada Bahaya yang Datang Diam-Diam: Silent Trauma

Selain cedera akibat benturan langsung, dr. Tirta juga mengingatkan adanya silent trauma atau trauma yang berkembang perlahan tanpa disadari.

Kondisi ini banyak dialami pekerja yang sehari-harinya duduk dalam waktu lama di depan komputer.

Kurang bergerak, posisi duduk yang tidak ergonomis, hingga minim aktivitas fisik dapat menyebabkan gangguan pada tulang belakang dan otot.

"Secara tidak sadar, kita sedang mengalami silent trauma," imbuhnya. 

Keluhan awal sering kali hanya berupa pegal atau nyeri ringan. 

Namun, jika terus dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan postur maupun keluhan muskuloskeletal yang lebih serius.

Pemulihan Harus Sampai Pasien Siap Bekerja Lagi

Menurut dr. Tirta, penanganan trauma tidak berhenti ketika luka sembuh atau pasien diperbolehkan pulang.

Pasien juga perlu dipastikan mampu kembali menjalankan pekerjaannya dengan aman.

Karena itu, rumah sakit melibatkan dokter okupasi untuk menilai kesiapan pasien sebelum kembali bekerja, terutama pada mereka yang mengalami kecelakaan kerja atau cedera berat.

"Untuk pasien yang mengalami trauma ini, setelah sembuh dia mau kembali bekerja, dia harus ke dokter okupasi,"lanjutnya. 

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan menyeluruh. 

Tujuannya bukan sekadar membuat pasien selamat, tetapi membantu mereka kembali menjalani aktivitas dan produktivitas seperti sebelum mengalami cedera.

Bagi pasien trauma, keberhasilan pengobatan bukan hanya diukur dari nyawa yang terselamatkan. 

Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat ketika mereka dapat kembali berjalan, bekerja, beraktivitas, dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan kemandirian.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.