TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketakutan terhadap efek samping jangka panjang sering kali membuat banyak pasien penyakit kronis di Indonesia enggan disiplin mengonsumsi obat.

Stigma bahwa obat kolesterol atau obat jantung dapat memicu kerusakan ginjal dan hati menjadi salah satu pemicu utama rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi.

Namun, dunia medis menegaskan bahwa anggapan tersebut adalah sebuah kekeliruan besar. Mengonsumsi obat sesuai dengan petunjuk dan anjuran dokter justru berfungsi krusial untuk memproteksi organ tubuh dari potensi kerusakan fatal yang dipicu oleh penyakit yang tidak terkendali.

Brand and Marketing Manager Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, menjelaskan bahwa ketakutan pasien sering kali tidak berdasar secara medis. Ia mencontohkan obat diabetes golongan Sodium-Glucose Cotransporter 2 (SGLT2) yang justru dirancang untuk melindungi fungsi ginjal.

Baca juga: Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Sarankan Olahraga 150 Menit Dalam Seminggu

"Obat-obatan SGLT2 generasi awal bahkan menunjukkan class effect yang bukan hanya membantu pasien diabetes mengontrol gula darah, tetapi juga melindungi fungsi ginjal sekaligus mengurangi risiko gagal jantung," ujar dr. Wicak di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, diabetes atau kolesterol yang dibiarkan tanpa penanganan mumpuni jauh lebih berbahaya karena dapat memicu rentetan komplikasi, termasuk gagal ginjal dan gagal jantung.

Inovasi untuk Memudahkan Pasien Tantangan kepatuhan pasien juga muncul dari rasa jenuh karena harus mengonsumsi berbagai jenis obat dalam satu hari.

Merespons hal ini, industri farmasi global kini telah menghadirkan inovasi berupa tablet kombinasi.

Contohnya, zat aktif statin untuk kolesterol kini dapat disatukan dengan ezetimibe dalam satu tablet tunggal. Format ini terbukti efektif meningkatkan kedisiplinan pasien tanpa mengurangi khasiat medisnya.

Bahaya Menghentikan Pengobatan Sepihak

Di sisi lain, dr. Wicak menyoroti kebiasaan buruk pasien yang langsung menghentikan pengobatan sesaat setelah hasil laboratorium menunjukkan angka yang normal.

Ia menegaskan bahwa tindakan ini sangat berbahaya karena kolesterol dan tekanan darah memerlukan pemantauan konsisten untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

"Sering kali pasien merasa tidak memiliki keluhan saat hasil lab bagus karena rutin minum obat, lalu berpikir untuk berhenti. Padahal, pengobatan harus tetap dilanjutkan. Yang berhak memutuskan penghentian terapi hanyalah dokter," tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mendiagnosis diri sendiri dan tetap berkonsultasi dengan tenaga medis demi menjaga kesehatan jantung serta pembuluh darah secara berkelanjutan.

 

(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)

 


 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.