Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo mengatakan bahwa Pameran Oesman Effendi (OE) diharapkan mampu memperkenalkan kembali ragam karya dan arsip sang seniman serta menginspirasi anak muda yang ingin berkecimpung pada dunia seni.


“Karena inilah momentum mumpung lagi libur sekolah, mumpung ada museum paspor baru dirilis, inilah momentum yang penting buat anak-anak muda,” kata Giring saat membuka pameran di Jakarta, Jumat.


Ia juga mengapresiasi karya OE yang sekaligus menjadi bukti bahwa seni mampu meneruskan warisan sejarah bangsa melalui ragam karya.


Pada kesempatan yang sama, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Esti Nurjadin mengatakan bahwa pameran ini menjadi bukti perjalanan kreatif sosok OE.







“Yang dituangkan dalam lukisan juga arsip karya kontemporer, serta cukil kayu yang memperlihatkan perjalanan kreatif Oesman Effendi secara lebih utuh,” kata Esti.


Ia menilai sosok OE tak hanya seorang pelukis, tapi juga seorang pemikir aktif yang membangun perdebatan tentang identitas seni rupa Indonesia, sekaligus berkontribusi dalam berbagai institusi kebudayaan yang dikenal sampai hari ini, seperti Taman Ismail Marzuki dan IKJ.


Memeriahkan Ulang Tahun ke-499 Jakarta, Museum dan Cagar Budaya Unit Galeri Nasional Indonesia berkolaborasi dengan OE Foundation menghadirkan sosok yang berkontribusi besar dalam menghidupkan atmosfer kesenian di Jakarta, Oesman Effendi atau yang lebih dikenal sebagai OE, dalam Pameran Oesman Effendi (1919-1985) Arsip dan Karya.


Kurator pameran yang terlihat yakni Aminudin TH Siregar, Citra Smara Dewi, dan Karamina Puspitasari, di tengah polarisasi seni rupa Indonesia antara realisme sosial Yogyakarta dan akademisme formalis Bandung pada dekade 1950-1970-an, Jakarta muncul sebagai ruang liminal yang memungkinkan pencarian bentuk-bentuk artistik yang lebih terbuka.







Dalam konteks inilah OE menempati posisi penting dalam merintis seni lukis abstrak di Jakarta. Bagi OE, abstraksi bukanlah semata-mata mengadopsi modernisme Barat, melainkan upaya untuk mencipta bahasa visual yang berakar pada pengalaman batin.


Gagasan ini termanifestasi dalam konsep "Kesan Dalam", yakni proses ketika pengalaman, ingatan, dan persepsi sensoris diregistrasi oleh kesadaran seniman sebelum dihadirkan kembali sebagai ekspresi visual yang bisa dikunjungi publik mulai 27 Juni hingga 6 September 2026 di Gedung B lantai 1 Galeri Nasional Indonesia, setiap Selasa-Kamis pukul 10.00-18.00 WIB dan Jumat-Minggu pukul 10.00-20.00 WIB (tutup setiap hari Senin).


Pameran ini, menurut para kurator pameran, berupaya menempatkan kembali OE dalam historiografi seni rupa modern Indonesia: bukan hanya sebagai pelukis abstrak, tetapi sebagai pemikir yang menjembatani modernisme internasional dengan pengalaman artistik budaya Nusantara.