SERAMBINEWS.COM - Hubungan yang sehat membutuhkan keseimbangan antara kedekatan emosional dan kemandirian setiap individu.
Ketergantungan emosional yang berlebihan atau codependency dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan mengurangi kualitas hubungan dalam jangka panjang.
Tanda-tandanya meliputi kesulitan menikmati waktu tanpa pasangan, merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan pasangan, hingga menggantungkan harga diri pada validasi pasangan.
Selain itu, seseorang juga perlu mewaspadai kebiasaan mengorbankan batasan pribadi dan selalu meminta persetujuan untuk keputusan sederhana.
Psikolog menegaskan bahwa pasangan seharusnya saling mendukung, bukan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan.
Hubungan yang sehat tetap memberi ruang bagi masing-masing individu untuk berkembang.
Baca juga: VIDEO Bandara di Venezuela Ditutup Akibat Gempa M 7,5 Landasan Pacu Retak
Kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan juga perlu dibangun dari dalam diri sendiri.
Dengan menjaga keseimbangan antara cinta dan kemandirian, hubungan akan lebih sehat dan bertahan dalam jangka panjang.
Hubungan romantis yang sehat umumnya ditandai dengan kedekatan emosional sekaligus ruang bagi masing-masing individu untuk berkembang.
Namun, ada kalanya rasa cinta berubah menjadi ketergantungan berlebihan yang membuat seseorang kehilangan kemandiriannya.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai hubungan codependent, yaitu ketika salah satu atau kedua pasangan terlalu bergantung satu sama lain untuk mendapatkan rasa aman, validasi, dan kebahagiaan.
Sekilas kondisi ini terlihat seperti hubungan yang harmonis, tetapi dalam jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan pribadi.
Baca juga: Brigjen Ruddi Setiawan Dinilai Sosok yang Dekat dengan Ulama
Merindukan pasangan adalah hal yang wajar.
Namun, jika kamu merasa cemas, gelisah, atau tidak bisa menikmati aktivitas apa pun saat pasangan tidak bersama kamu, kondisi ini bisa menjadi tanda hubungan yang terlalu bergantung.
Psikolog klinis Maggie Dancel menjelaskan, hubungan romantis hanyalah salah satu bagian dari kehidupan seseorang.
"Dalam hubungan yang sehat, setiap orang memahami pentingnya memelihara kehidupannya sendiri, seperti menghabiskan waktu dengan teman atau menjalani hobi yang disukai," kata Dancel.
Ketika pasangan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan, seseorang berisiko kehilangan identitas dan kehidupan pribadinya.
Tanda lain hubungan codependent adalah merasa harus selalu membuat pasangan bahagia.
Saat pasangan sedih, kamu mungkin merasa wajib memperbaiki suasana hati mereka dengan segala cara, bahkan mengorbankan kebutuhan diri sendiri.
Psikolog Sabrina Romanoff mengatakan, ketergantungan emosional membuat suasana hati pasangan ikut menentukan kondisi emosional seseorang.
"Ketika pasangan bahagia, kamu merasa aman. Namun ketika mereka tidak bahagia, dunia kamu bisa terasa ikut berantakan," ujarnya.
Dalam hubungan sehat, pasangan saling mendukung, tetapi tidak bertanggung jawab penuh atas emosi satu sama lain.
Apakah kamu langsung merasa tidak dicintai ketika pesan tidak dibalas cepat? Atau merasa pencapaian pribadi kurang berarti jika pasangan tidak memberikan pujian?
Menurut Romanoff, kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa harga diri sudah terlalu bergantung pada pendapat pasangan.
Akibatnya, seseorang terus mencari bukti bahwa dirinya dicintai dan dihargai.
Padahal, rasa percaya diri yang sehat seharusnya tidak bergantung pada respons, perhatian, atau persetujuan orang lain setiap saat.
Kompromi memang penting dalam hubungan.
Namun, jika kamu selalu mengalah karena takut pasangan kecewa atau meninggalkan kamu, itu bisa menjadi tanda codependency.
Misalnya, kamu terus mengikuti kegiatan yang tidak disukai hanya demi menyenangkan pasangan atau memilih diam ketika merasa tidak nyaman terhadap suatu kebiasaan mereka.
Romanoff mengingatkan bahwa terus-menerus mengabaikan batasan pribadi dapat membuat seseorang merasa lelah, terabaikan, dan kehilangan jati diri dalam hubungan.
Meminta pendapat pasangan sesekali merupakan hal yang normal.
Namun, jika kamu tidak bisa menentukan pilihan sederhana tanpa persetujuan mereka, ada kemungkinan kamu terlalu bergantung secara emosional.
Mulai dari memilih pakaian, menentukan aktivitas akhir pekan, hingga mengambil keputusan sehari-hari, semuanya harus mendapat lampu hijau dari pasangan.
Dancel mengatakan, kondisi ini menunjukkan seseorang mulai kehilangan kemampuan untuk mempercayai penilaiannya sendiri.
Ketika hubungan menjadi tempat untuk meminta izin menjalani hidup, bukan sekadar berbagi kehidupan, maka ketergantungan emosional mungkin sudah berkembang terlalu jauh.
Hubungan yang sehat bukan tentang selalu bersama setiap saat, melainkan mampu tetap menjadi diri sendiri sambil membangun kedekatan dengan pasangan.
Menjaga keseimbangan antara cinta dan kemandirian menjadi kunci agar hubungan dapat bertahan secara sehat dalam jangka panjang. (*)
Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/06/26/193100520/5-tanda-hubungan-terlalu-bergantung-pada-pasangan-menurut-psikolog
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.