Malang (ANTARA) - Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan University of Florida, Michigan State University, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu dari kawasan UB Forest.
Ketua tim peneliti Prof Dr Hagus Tarno mengemukakan proses pengambilan sampel dilakukan pada ranting dan kayu kering yang jatuh di tanah.
"Kumbang ambrosia ditemukan pada berbagai jenis kayu, seperti pinus, kopi, sonokembang, Ficus, dan jenis kayu lainnya yang menjadi tempat tumbuh jamur sumber makanannya," katanya dalam keterangan diterima di Malang, Jawa Timur, Jumat.
Kumbang ambrosia, katanya, memiliki keunikan karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanan.
"Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest,” kata Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB tersebut.
Dalam penelitian tersebut, ia didampingi Yogo Setiawan, SP., MP., yang juga sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.
Pengambilan data di kawasan UB Forest sejak Oktober 2024. Penelitian ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan Bark and Ambrosia Beetles Academy diselenggarakan University of Florida, dengan UB sebagai tuan rumah. Kegiatan tersebut mempertemukan peneliti, akademisi dan pakar taksonomi untuk mempelajari lebih jauh keragaman kumbang hutan tropis di Indonesia.
Tim berhasil mengidentifikasi empat spesies baru, yakni Crossotarsus gunungapi Hulcr, Tarno and Levia, Cosmoderes arjuno Johnson, Cosmoderes opacus Johnson, dan Amasa brawijaya Smith.
Salah satu spesies baru diberi nama khusus, yakni Amasa brawijaya, yang bermakna khusus karena merujuk pada Universitas Brawijaya dan warisan sejarah Kerajaan Majapahit. Penamaan ini bentuk penghormatan terhadap identitas lokal sekaligus menegaskan bahwa kawasan hutan di Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan dunia.
Hagus mengatakan nama brawijaya dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap Universitas Brawijaya, tempat berkembang berbagai penelitian biodiversitas. Penamaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan citra UB dalam komunitas ilmiah internasional.
“Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka tau bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya,” ujarnya.
Dalam proses identifikasi, tim menggunakan dua pendekatan utama, yaitu analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA. Melalui pendekatan morfologi, para peneliti membandingkan karakteristik fisik spesimen dengan koleksi yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia, sedangkan analisis molekuler dengan mengekstraksi DNA untuk membandingkan sekuens genetik spesimen dengan basis data internasional.
“Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, kami juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaannya secara genetik, jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, spesimen tersebut dapat ditetapkan sebagai spesies baru," ujarnya.
Spesimen Amasa brawijaya kini tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang dikelola BRIN sebagai koleksi ilmiah dan referensi penelitian biodiversitas Indonesia.
Temuan empat spesies baru ini menunjukkan hutan tropis Indonesia, termasuk di kawasan UB Forest, memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam untuk penelitian biodiversitas.
Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap konservasi keanekaragaman hayati, riset semacam ini menjadi penting untuk memperkuat basis data ilmiah tentang spesies serangga, terutama kelompok yang belum banyak dikenal masyarakat luas.
Bagi UB, ujarnya, penelitian ini tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah internasional, tetapi juga memperkuat posisi universitas sebagai pusat penelitian kumbang ambrosia di Indonesia.
Hagus menilai kajian mengenai kumbang ambrosia masih terbatas sehingga membuka peluang besar UB menjadi pionir bidang tersebut.
“Ke depan kami ingin membangun jejaring penelitian yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, siapa pun yang ingin mempelajari kumbang ambrosia akan datang dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya,” ucapnya.
Temuan dalam bidang biodiversitas hutan tropis ini telah dipublikasikan pada 21 Juni 2026 dalam Journal of the Coleopterists Bulletin melalui artikel berjudul “Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera: Curculionidae: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species”.