Jakarta -
Indonesia berkomitmen aktif untuk mengatasi masalah perubahan iklim di tingkat global. Ada tiga jurus yang diandalkan RI dari pasar karbon hingga mangrove.
Indonesia menegaskan komitmennya sebagai salah satu pemimpin global dalam melestarikan hutan dan mengatasi perubahan iklim melalui partisipasi di ajang Ministerial Event Forest and Climate Leaders' Partnership (FCLP) bertajuk 'From Glasgow to Addis Ababa: Building Momentum on Forests from COP30 to COP32' di Inggris.
Dalam forum yang mempertemukan para pemimpin sektor kehutanan dan iklim dunia tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, mengungkapkan tiga jurus yang akan dilakukan Indonesia untuk menghadapi tantangan global di bidang perubahan iklim.
"Pertama, Indonesia mendorong pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi (high-integrity carbon market) sebagai instrumen penting untuk mengalirkan pembiayaan bagi konservasi, restorasi ekosistem, pengelolaan hutan lestari, dan penguatan peran masyarakat dalam menjaga hutan," kata Raja Juli seperti dikutip dari Antara, Jumat (26/6/2026).
Tata kelola pasar karbon terus diperkuat melalui penyempurnaan regulasi yang memberikan kepastian hukum, transparansi, dan kredibilitas lingkungan dalam perdagangan karbon sektor kehutanan.
"Indonesia meyakini bahwa pasar karbon yang berintegritas dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menjembatani kebutuhan pendanaan global bagi perlindungan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan," imbuh dia.
Jurus kedua adalah dengan memperkuat peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai platform global untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, serta inovasi dalam pengelolaan lahan gambut tropis.
"Dengan sekitar 13 juta hektare ekosistem gambut tropis, Indonesia memiliki pengalaman dan kapasitas yang signifikan dalam mengelola salah satu penyimpan karbon terbesar dunia sekaligus ekosistem penting bagi ketahanan iklim dan keanekaragaman hayati," jelas Menhut Raja Juli.
Indonesia juga terus mendorong penguatan World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat kolaborasi internasional yang dikembangkan untuk mendukung pertukaran pengetahuan, kebijakan, riset, dan inovasi dalam pengelolaan kawasan mangrove.
"Sebagai negara yang memiliki sekitar 3,4 juta hektare mangrove atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia, Indonesia siap berbagi pengalaman dan praktik baik untuk mendukung agenda mangrove global yang lebih berdampak," tutup Menhut.
Kawasan hutan mangrove selama ini dikenal bagai salah satu solusi berbasis alam yang paling efektif untuk memitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan kawasan pesisir, dan pembangunan ekonomi masyarakat lewat produk ekonomi kreatif bernilai tambah tinggi.
Indonesia meyakini tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati hanya dapat diatasi melalui kemitraan global yang kuat.