TRIBUN-TIMUR.COM, RANTEPAO - Warga Kabupaten Toraja Utara, Sulsel, diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi hingga Kamis, 21 Mei 2026.
Peringatan itu menyusul rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Makassar terkait aktifnya sejumlah gelombang atmosfer yang memicu hujan lebat disertai angin kencang dan petir di wilayah Sulawesi Selatan.
Dalam surat BMKG Makassar Nomor e.B/ME.02.04/028/KBB4/V/2026 tertanggal 15 Mei 2026 tentang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Wilayah Sulsel, disebutkan aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby, Gelombang Kelvin, dan Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif secara spasial di Sulawesi Selatan selama periode 15–21 Mei 2026.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan yang memicu hujan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat/petir dan angin kencang yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, pohon tumbang hingga kerusakan infrastruktur.
Kabupaten Toraja Utara masuk dalam daftar daerah siaga bersama Kabupaten Bantaeng, Bulukumba, Enrekang, Gowa, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Pinrang, Sidenreng Rappang dan Sinjai.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Penanggulangan Bencana BPBD Bulukumba, Abd Haris, mengatakan pihaknya telah mengaktifkan Posko Siaga 24 Jam menyusul peringatan dini BMKG tersebut.
“Berdasarkan penyampaian BMKG, aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby, Gelombang Kelvin dan MJO terpantau aktif di wilayah Sulawesi Selatan. Atas potensi itu kami aktifkan siaga di posko bencana,” kata Abd Haris kepada Tribun Bulukumba, Jumat (15/5/2026).
Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai maupun daerah rawan longsor.
Warga juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan dan angin kencang, serta memangkas pohon lapuk yang berpotensi tumbang.
BMKG menjelaskan, Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan MJO merupakan fenomena dinamika atmosfer yang saling berinteraksi dan dapat meningkatkan kelembapan udara hingga 80–100 persen.
Fenomena itu memicu pembentukan awan cumulonimbus secara intensif yang menyebabkan hujan lebat merata dan berdurasi panjang, bahkan di masa peralihan musim maupun awal kemarau.
Gelombang Rossby Ekuatorial diketahui bergerak ke arah barat dengan siklus 10–30 hari dan mampu memicu cuaca ekstrem selama beberapa hari berturut-turut.
Sementara Gelombang Kelvin bergerak cepat ke arah timur dan memodulasi curah hujan signifikan.
Adapun MJO merupakan pola cuaca global yang turut mempengaruhi intensitas hujan di Indonesia dan sering memperkuat potensi cuaca ekstrem ketika terjadi bersamaan dengan gelombang atmosfer lainnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca resmi dan segera meningkatkan kewaspadaan saat hujan lebat disertai angin kencang mulai terjadi.(samba)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.