Perusahaan di balik proyek ini, Andon Labs, sebelumnya juga terlibat dalam eksperimen di mana AI menjalankan mesin penjual otomatis.

Hasilnya, AI itu justru menjual barang dengan rugi, menciptakan orang dan rapat palsu, lalu berakhir dalam krisis identitas yang aneh.

Perusahaan itu menamai tempat baru tersebut Andon Café, dengan konsep AI mengurus seluruh sisi manajerial bisnis: awalnya seperti mengurus izin usaha dan merekrut staf, lalu dalam operasional harian menangani pemesanan stok serta mengelola karyawan.

Namun, yang tetap berada di depan pelanggan dan benar-benar membuat kopi adalah manusia.

Ya, manusia itulah yang berdiri beberapa meter dari pelanggan, menerima pesanan dan meracik kopi seperti biasa.

Menurut Hanna Petersson dari Andon Labs, eksperimen ini dilakukan untuk melihat pertanyaan etis yang muncul ketika AI mempekerjakan manusia dan menjalankan bisnis.

Petersson menjelaskan bot diberi instruksi dasar: jalankan bisnis secara menguntungkan, bersikap baik, dan cari sendiri cara teknis menjalankan operasional sambil meminta bantuan bila diperlukan.

AI terbukti cukup efisien dalam mengatur utilitas, memperoleh izin, dan memasang iklan lowongan kerja.

Namun, ketika harus mengelola bisnis yang berhadapan langsung dengan pelanggan, masalah mulai muncul.

Pertama, AI tidak menghormati jam kerja.

Bot menggunakan Slack untuk berkomunikasi dengan barista, tetapi sering mengirim pesan saat mereka sedang tidak bekerja.

Di Swedia, hal seperti ini dianggap tidak pantas.

Bot juga berhasil membuat kontrak bisnis dengan toko roti, tetapi kemudian sering melakukan kesalahan dalam pemesanan.

Kadang AI memesan roti terlalu banyak, kadang justru tidak memesan sama sekali, sehingga pada hari tertentu kafe tidak memiliki sandwich untuk dijual.

Masalah lain, AI juga memesan 6.000 serbet, 3.000 sarung tangan karet, empat kotak P3K, serta sejumlah besar tomat kalengan yang bahkan tidak digunakan dalam menu kafe kecil tersebut.

Apakah AI ini menghasilkan keuntungan? Tidak.

Sejak dibuka pada pertengahan April, kafe tersebut menghasilkan penjualan sekitar 5.700 dolar AS, padahal memulai operasional dengan anggaran lebih dari 21.000 dolar AS menurut Andon Labs.

Menurut Petersson, salah satu masalah utama adalah keterbatasan memori AI.

“Ketika memori lama tentang pemesanan barang sudah keluar dari context window, bot benar-benar lupa apa yang pernah dipesan sebelumnya,” katanya.

Hal ini membuat AI sulit mengelola inventaris secara konsisten.

Eksperimen ini kembali memunculkan pertanyaan apakah AI benar-benar siap menggantikan peran manusia dalam mengelola bisnis sehari-hari.

Pada akhirnya, kopi di kafe itu tetap dibuat oleh manusia yang mampu memahami pesanan sederhana seperti, “Saya pesan latte biasa.”

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.