TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Keluarga pelaku dugaan penganiayaan terhadap FA (6), bocah laki-laki yang meninggal dunia di Kampung Kerinci Kiri, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, merupakan perantau asal Sumatera Utara.

Pelaku bersama ayah korban baru sekitar dua tahun menetap di daerah tersebut. 

Sementara korban sendiri baru enam bulan tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya di Kerinci Kiri tersebut. Karena ibu kandung korban yang di Sumatra Utara menyerahkan hak asuh kepada ayah korban yang telah lama menikah dengan pelaku. 

Penghulu Kampung Kerinci Kiri, Ali Kasim, mengatakan keluarga tersebut datang ke Siak mengikuti kerabat mereka yang lebih dulu tinggal dan menikah dengan warga setempat.

Meski telah menetap lebih kurang dua tahun, identitas kependudukan mereka masih berasal dari Sumatera Utara.

“Memang mereka ini perantau dari Sumatera Utara. KTP-nya masih Sumut semua. Sudah sekitar dua tahunan tinggal di Kerinci Kiri,” kata Ali Kasim kepada Tribunpekanbaru.com, Senin (11/5/2026).

Ali menjelaskan, korban FA sebelumnya tinggal bersama ibu kandungnya di Sumatera Utara.

Namun sekitar enam bulan lalu, bocah itu dikirim untuk tinggal bersama ayah kandungnya yang telah menikah lagi dengan perempuan yang kini menjadi tersangka kasus tersebut.

“Informasinya anak ini baru sekitar enam bulan diserahkan ibu kandungnya kepada bapaknya di sini. Ibu kandungnya di Sumut dan katanya sudah menikah lagi,” ujarnya.

Menurut Ali, ayah korban bekerja serabutan, mulai dari menjadi buruh panen sawit hingga bekerja sebagai tukang.

Sedangkan ibu tiri korban lebih banyak berada di rumah dan sesekali membantu suaminya bekerja di kebun sawit.

Baca juga: Takut Dimarahi Ibu Tiri, Bocah 6 Tahun di Siak Pernah Kabur dan Menginap di Rumah Tetangga

Baca juga: Kronologi Dugaan Penganiayaan Bocah 6 Tahun oleh Ibu Tiri di Siak, Terungkap Saat Jenazah Dimandikan

Baca juga: Makam Bocah 6 Tahun Korban Dugaan Penganiayaan Ibu Tiri di Siak Dibongkar untuk Autopsi

Dari cerita warga sekitar, korban disebut kerap dimarahi oleh ibu tirinya. Bahkan, FA pernah kabur dari rumah karena takut dimarahi.

“Ada cerita dari warga, anak ini pernah lari malam-malam dan ditemukan di rumah tetangga. Waktu ditanya kenapa lari, katanya takut dimarahi,” ungkapnya.

Ali menyebut, warga sebelumnya tidak mengetahui adanya dugaan kekerasan berat terhadap bocah tersebut.

Dugaan itu mulai mencuat setelah korban dibawa ke fasilitas kesehatan dengan kondisi tubuh penuh luka lebam.

“Waktu dibawa ke rumah sakit mulai terlihat banyak lebam di badan, tangan, kaki, bahkan ada luka di kepala. Dari situ masyarakat mulai curiga,” katanya.

Ia mengaku sangat prihatin atas kejadian tersebut dan menyebut kasus itu menjadi peristiwa yang menggemparkan warga Kampung Kerinci Kiri.

“Kami sangat kesal dan menyayangkan sekali kejadian seperti ini. Sebagai manusia tentu sangat prihatin melihat anak kecil jadi korban,” tuturnya.

(Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.