TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas) bertambah.
Nurhayati Natsir dikukuhkan guru besar Bidang Konservasi Gigi Restorasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin (11/5/2026).
Ia meneliti 'Menyelaraskan Estetika dan Biologi: Paradigma Kedokteran Gigi Estetika dalam Perawatan Gigi Modern,”
Penelitian itu mengantar lulusan doktor University of Hiroshima itu mendapat gelar guru besar atau profesor.
Nurhayati Natsir mengingatkan keinginan memperoleh tampilan gigi yang ideal tidak boleh mengabaikan kesehatan biologis dan pelestarian jaringan gigi.
Perkembangan media sosial dan tren kecantikan digital turut membentuk standar estetika gigi yang sering kali tidak realistis.
Baca juga: IKAFE Unhas Serukan Bahaya Drifting Economy: Permukaan Stabil Tapi Arah Transformasi Hilang
Akibatnya, banyak pasien datang dengan permintaan warna gigi sangat putih atau bentuk gigi seragam tanpa memahami variasi biologis maupun konsekuensi klinis dari tindakan yang dilakukan.
“Estetika pada banyak pasien, berkaitan dengan kepercayaan diri, fungsi psikososial, dan kualitas hidup terkait kesehatan mulut. Dalam konteks ini, estetika bukan semata kosmetik, tetapi bagian dari well-being,” ujarnya.
Perkembangan teknologi bahan kedokteran gigi seperti resin komposit, keramik, sistem adhesif hingga alur kerja digital memang membuat hasil perawatan estetika semakin presisi dan prediktabel.
Namun, kemajuan itu juga membawa risiko munculnya praktik overdesign atau tindakan berlebihan pada gigi yang sebenarnya masih sehat.
Ia menilai konservasi gigi estetik harus hadir sebagai penyeimbang agar tuntutan estetika tetap selaras dengan aspek biologis dan kesehatan jangka panjang pasien.
“Estetika terbaik adalah estetika yang paling sedikit mengorbankan jaringan gigi, dan paling besar menjaga kesehatan jangka panjang,” katanya.
Nurhayati menjelaskan, paradigma modern kedokteran gigi kini mengarah pada minimal intervention dentistry dan minimum intervention oral care.
Pendekatan tersebut menekankan pengendalian penyakit, pelestarian jaringan gigi asli, serta tindakan seminimal mungkin namun tetap efektif.
Dalam pidatonya, ia memaparkan beberapa pilihan perawatan konservasi gigi estetik.
Salah satunya adalah perawatan noninvasif dan minimal invasif seperti bleaching atau pemutihan gigi.
Menurutnya, prosedur tersebut tergolong konservatif karena tidak membutuhkan pengasahan jaringan gigi, meski tetap harus dilakukan sesuai prosedur medis untuk mencegah sensitivitas, iritasi jaringan lunak, maupun gangguan pada jaringan keras dan pulpa.
Selain itu, ia juga menjelaskan tentang restorasi langsung menggunakan resin komposit atau direct veneer.
Metode ini dinilai lebih konservatif karena preparasi minimal, biaya lebih terjangkau, prosedur lebih cepat, dan dapat diperbaiki apabila terjadi kerusakan.
“Restorasi langsung mengutamakan estetika dan fungsi dengan prinsip reparabel dan konservatif,” jelasnya.
Nurhayati juga membahas restorasi adhesif tidak langsung atau indirect restoration yang menawarkan presisi tinggi dan ketahanan lebih baik melalui teknologi adhesif modern serta kontrol kualitas laboratorium.
Meski demikian, ia menegaskan tidak semua kasus estetika dapat diselesaikan hanya dengan restorasi konservatif.
Kasus malposisi gigi, gangguan skeletal, kehilangan dimensi vertikal akibat aus berat, hingga masalah periodontal lanjut sering membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ortodonti, periodonsia, prostodonsia bahkan psikologi klinis.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi digital dalam praktik kedokteran gigi estetik.
Pemanfaatan fotografi klinis terstandar, analisis senyum berbasis perangkat lunak hingga kecerdasan buatan dinilai mampu meningkatkan presisi diagnosis dan komunikasi antara dokter dengan pasien.
Namun ia mengingatkan, teknologi tetap hanya alat bantu dan tidak dapat menggantikan pertimbangan klinis.
“Keputusan klinis harus tetap mengintegrasikan data digital, pengalaman, dan pemahaman biologis agar tidak mengabaikan variasi individual pasien,” ujarnya.
Dalam perspektif kesehatan, Nurhayati mengingatkan bahwa tren estetika yang tidak terkendali dapat memicu fenomena overtreatment, yakni tindakan invasif pada gigi yang sebenarnya masih sehat.
Terutama pada pasien usia muda.
Karena itu, ia menegaskan konservasi gigi estetik harus tetap berpijak pada sains, etika, dan keberlanjutan kesehatan pasien.
“Bidang konservasi gigi estetika harus berdiri kokoh sebagai disiplin yang menjaga keseimbangan, mewujudkan estetika yang selaras dengan biologi, mengutamakan pelestarian jaringan, dan mengarahkan perawatan agar berkelanjutan,” tutupnya. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.