Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Kelangkaan air bersih melanda Kota Bajawa dan sekitarnya dalam sepekan terakhir. Lebih dari 4.000 pelanggan terdampak, tersebar di sejumlah wilayah seperti Langa (sekitar 400 pelanggan), Wawowae, Beiwali, serta kawasan dalam Kota Bajawa.
Akibat kondisi ini, warga terpaksa membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga usaha.
Salah satu warga Kelurahan Ngedukelu, Irfan (42), mengaku distribusi air tidak normal sejak sepekan terakhir.
“Sudah hampir satu minggu air tidak jalan. Kadang keluar sekitar jam 10 pagi, itu pun hanya sekitar satu jam, setelah itu mati lagi,” ungkap Irfan, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: STIPER Flores Bajawa Buka Peluang Kerja Lulusan di PT Best Agro Internasional
Ia mengatakan, kondisi tersebut memaksanya mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air tangki.
Direktur Perumda Air Minum Kabupaten Ngada, Eduardus N. Sugi Watu, menjelaskan kelangkaan air dipicu oleh bencana banjir dan longsor yang terjadi akibat hujan lebat pada Rabu, 8 April 2026.
Menurutnya, longsor terjadi di sejumlah titik sumber air utama yang menyuplai kebutuhan masyarakat Kota Bajawa.
“Banjir dan longsor terjadi di alur Sungai Kali Batu dan Mukuvoka, yang merupakan sumber utama air bersih bagi masyarakat Bajawa dan sekitarnya,” jelas Eduardus.
Ia menyebutkan, beberapa sumber air yang terdampak antara lain Mukuvoka, Kali Batu, penampung air di Alo Jawa, serta Waduk Beto Waso di Kelurahan Susu.
“Empat sumber ini menjadi penyuplai utama untuk Kota Bajawa, termasuk wilayah Langa, Wawowae, dan sekitarnya,” katanya.
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur air bersih. Selain broncaptering yang dipenuhi sedimen lumpur, jaringan perpipaan juga mengalami kerusakan hingga sekitar 34 persen.
“Kerusakan pipa terjadi dari titik sumber hingga Waku Menge. Terdapat banyak titik kerusakan di enam jalur pipa utama menuju reservoir di Kota Bajawa,” ujarnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, sejak awal pekan pihak Perumda telah mengerahkan tenaga untuk melakukan pengerukan sedimen serta perbaikan jaringan pipa yang rusak.
“Kami melibatkan masyarakat, relawan, serta mendapat dukungan dari PUPR, BPBD, dan pihak terkait lainnya,” tambahnya.
Meski demikian, Eduardus belum dapat memastikan kapan proses perbaikan akan rampung. Ia memastikan seluruh sumber daya terus dikerahkan untuk mempercepat pemulihan layanan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk bersabar selama proses perbaikan berlangsung.
Sementara itu, pelayanan air bersih di Kecamatan Bajawa dan sekitarnya masih dilakukan secara terbatas hingga kondisi jaringan kembali normal. (Cha).
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.