BANJARMASINPOST.CO.ID - Aksi bersih-bersih masih kerap dilakukan anggota Putik Bersih di Kota Banjarmasin. Sebagai salah satu anggota, Ulfa pun sering mengikutinya.
Sementara ini mereka sangat jarang menemukan sampah berupa tas spunbond.
“Kalaupun ada saat pengumpula, masih sedikit. Paling satu dua pieces,” ujar aktivis kebersihan ini, Kamis (26/2/2026).
Seperti juga tas plastik, diakui Ulfa, tas spunbond sama sulitnya untuk didaur ulang. Bahkan beberapa ahli menyebutkan tas spunbond lebih merusak lingkungan karena bahannya yang lebih tebal.
“Tas spunbond bisa menjadi alternatif kantongan ramah lingkungan apabila digunakan secara bertanggung jawab yakni dipakai berulang kali,” kata dia.
Baca juga: Sampah di Pasar Wadai Ramadan Jadi Perhatian, DLH Banjarmasin Tambah Ritasi dan Petugas
Kehadiran tas spunbond menjadi perhatian di tengah Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, yang jatuh pada 21 Februari.
Peringatan ini digelar sebagai pengingat tragedi longsor sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Leuwigajah Kota Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005, yang menewaskan lebih dari 150 orang.
Di tengah upaya pengurangan sampah tas plastik, di Banjarmasin mulai marak tas spunbond. Tas ini dibuat dari bahan non woven polypropylene, yaitu serat sintetis yang disusun tanpa ditenun.
Tas spunbond beberapa tahun terakhir kerap dipromosikan sebagai alternatif tas karena kuat dan bisa digunakan berulang kali.
Tas ini pun banyak digunakan di pusat perbelanjaan, acara besar, hingga kampanye pengurangan plastik.
Namun di balik citra ramah lingkungan tersebut, tas spunbond menyimpan persoalan lingkungan yang tak jauh berbeda jika pola penggunaannya tidak berubah.
Banyak tas spunbond yang hanya digunakan satu atau dua kali, kemudian dibuang. Oleh karena daya tahannya lebih tinggi, sampatH tas ini sulit terurai.
Di Rumah Pilah Sampah Kuin Utara pun, sampah tas spunbond belum banyak ditemukan. “Iya tas yang biasa ibu-ibu pakai belanja. Jarang ada, bisa ada satu atau dua.
Kalaupun ada biasanya terlipat rapi dan langsung kami bawa bulik,” ujar Simin, penjaga Rumah Pilah Sampah Kuin Utara.
Hal serupa terlihat di TPS HKSN. Tumpukan sampah di lokasi itu tidak memperlihatkan adanya tas spunbond berserakan. Sampah masih didominasi plastik sekali pakai dan sampah rumah tangga lainnya.
“Jarang emang itu ada. Kalau ada nyata sudah dibawa pulang. Bisa dipakai bawa beras, minyak, gula, kalau pas belanja,” kata Bani, petugas TPS HKSN.
Kebanyakan warga, terutama kaum ibu rumah tangga, memang gemar menyimpan tas spunbond untuk digunakan kembali.
Mereka bahkan menaruhnya di tempat khusus, atau menyiapkannya di bawah jok motor agar mudah dipakai saat berbelanja.
“Seringnya saya siapkan di dalam jok motor, bila belanja banyak saya selalu prepare di awal,” ujar Mardati, mahasiswi.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Marzuki, menuturkan tas spunbond memang bisa menjadi masalah baru.
Tas tersebut dikatakannya dirancang untuk digunakan berulang kali, namun sejauh ini penggunaannya mirip plastik sekali pakai. Hal ini justru memberikan dampak buruk bagi lingkungan.
“Jadi tantangan bagi DLH dan tim kebersihan, karena jumlahnya yang menumpuk dan sulit terurai,” ujarnya, Kamis.
Saat pemilahan, sampah plastik tas spunbond dikumpulkan tersendiri atau dipisahkan dari sampah plastik biasa.
Di TPS3R jenis tas tersebut dikumpulkan untuk digunakan kembali atau dicacah menjadi bahan bakar alternatif atau RDF.
Baca juga: Sampah di TPS HKSN Tak Lagi Menumpuk, Kerusakan Tembok Semakin Parah
Untuk daur ulang, tas spunbond tergolong sampah yang cukup sulit dijadikan barang baru bernilai guna selain RDF.
“Bisa didaur ulang, tapi perlu fasilitas yang tepat. Karena memiliki nilai ekonomi daur ulang yang cukup baik, tapi masih terbatas di Indonesia,” imbuhnya.
Dampak yang ditimbulkan untuk lingkungan cukup buruk jika tas spunbond dibuang sembarangan, bisa mencemari lingkungan dan menjadi mikroplastik. (naa/sai)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.