BANJARMASINPOST.CO.ID- Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Banjarbakula menerima sekitar 350-360 ton sampah setiap hari dari lima wilayah di Kalimantan Selatan.

Volume tersebut masih berada di bawah kapasitas maksimal fasilitas yakni 790 ton per hari.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala UPTD TPA Banjarbakula, Sabrawi, mengatakan kuota harian memang dibatasi sekitar 350 ton sebagai bagian dari pengelolaan operasional dan umur layanan TPA.

“Kalau kapasitas desain bisa sampai 790 ton per hari, tetapi yang diterima sekarang dibatasi sekitar 350 ton. Realisasi harian berkisar 350 sampai 360 ton,” ujarnya.

Baca juga: Kiriman Sampah ke TPA Banjarbakula Tanpa Proses Pemilahan, Terbanyak dari Banjarmasin

Pria yang juga menjabat sebagai Kasubag Tata Usaha UPTD Pengelolaan TPA Sampah dan Limbah B3 Regional Banjarbakula tersebut menjelaskan, jenis sampah yang masuk didominasi sampah rumah tangga dan sejenisnya, seperti sampah organik, plastik, serta residu lainnya.

Data pengelolaan menunjukkan adanya peningkatan signifikan volume sampah.

Pada 2024 tercatat total 56.978,18 ton, sedangkan pada 2025 meningkat menjadi 147.773,13 ton.

Terkait keberadaan tas spunbond atau tas berbahan polipropilena yang banyak digunakan masyarakat, Sabrawi menyebut volumenya di TPA Banjarbakula belum tergolong banyak dibandingkan sampah plastik lainnya.

“Untuk tas spunbond belum ada perhitungan atau data spesifik volumenya di TPA. Secara umum masih masuk kategori sampah plastik rumah tangga,” katanya.

Ia menjelaskan, belum ada kebijakan pemisahan khusus untuk tas spunbond di tingkat TPS maupun sebelum masuk ke TPA Regional Banjarbakula. Penanganannya pun sama seperti sampah plastik lainnya.

Padahal, secara karakteristik bahan, tas spunbond tergolong sulit terurai secara alami karena berbahan polipropilena yang membutuhkan waktu sangat lama, bahkan bisa ratusan tahun.

Material tersebut juga berpotensi terfragmentasi menjadi mikroplastik yang mencemari tanah dan air.

“Dampak lingkungannya bisa jangka panjang, termasuk potensi mikroplastik yang masuk ke ekosistem hingga rantai makanan. Karena itu sebenarnya penggunaan ulang lebih dianjurkan,” jelasnya.

Sabrawi juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering mengoleksi tas spunbond dari pusat perbelanjaan atau minimarket, namun tidak dimanfaatkan berulang. Banyak yang akhirnya dibuang bersama sampah lain seperti plastik sekali pakai.

Baca juga: Sampah Tas Spunbond Menjadi Ancaman, DLH Banjarmasin Akui sebagai Tantangan

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci agar tas jenis ini digunakan berkali-kali atau dipilah untuk didaur ulang, mengingat fasilitas daur ulang polipropilena di Indonesia masih terbatas sehingga sebagian besar berakhir di landfill.

“Yang jelas, di TPA Banjarbakula sendiri sampah yang masih mendominasi tetap sampah plastik secara umum,” urainya. (lis)

 

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.