TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)  Jawa Tengah menerjunkan tim untuk meneliti penyebab padamnya Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa (3/2/2026).

Api Abadi Mrapen merupakan tempat wisata yang menyuguhkan sumber api alami yang muncul dari aktivitas alamiah gas bumi di kawasan tersebut.

Tempat itu  tersohor lantaran menjadi sumber nyala api obor pesta olahraga, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).

Bagi warga sekitar, api Mrapen juga dikaitkan dengan cerita persinggahan Sunan Kalijaga dan dikaitkan dengan Empu Supa, seorang ahli pembuat keris sakti di zaman Majapahit.

Tempat itu dianggap sakral sehingga besar meredupnya Api Abadi Mrapen selalu dikaitkan sebagai pertanda bahaya seperti munculnya bencana alam.

"Kami terjunkan tim hari ini (Selasa kemarin—Red) ke Mrapen, Grobogan, untuk menyelidiki penyebab kematian api tersebut," ujar Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, kepada Tribun Jateng.

Nyala Api Abadi Mrapen mulai meredup, pada 29 Desember 2025.

Kemudian api benar-benar padam pada 1 Januari 2026.

Ketika itu, petugas wisata Mrapen belum mengetahui penyebab padamnya api tersebut.

Agus menjelaskan, Api Abadi Mrapen bisa saja padam karena rekahan-rekahan sebagai penyalur gas ke reservoir atau tempat sumber gas terhambat oleh sedimen atau kerak, di antaranya lumpur.

Ia juga menyebut, sumber gas dalam reservoir tersebut dimungkinkan juga berkurang karena telah berusia ratusan tahun.

Terlebih, di sekitar Mrapen sebelumnya ada aktivitas penggalian sumur yang mempercepat berkurangnya gas dalam reservoir.

"Kami sedang mengupayakan mencari sumber penyumbatannya tersebut, semisal tersumbat oleh sedimen lumpur, kami masih cari titik lokasinya di mana sehingga nanti kami perbaiki," jelasnya.

Ia tidak memungkiri, sumber gas Mrapen juga bisa habis.

Kejadian matinya sumber api ini juga pernah terjadi, pada September 2020.

Kala itu, penyebab padamnya Mrapen karena ada proses pelapukan secara fisika maupun kimia di rekahan-rekahan yang menjadi tempat saluran gas ke api Mrapen.

Pihaknya kini masih mencari sumber gas lainnya, semisal sumber gas Mrapen ini nantinya sudah habis.

"Di dunia itu tidak ada keabadian yang abadi itu ketidakabadian itu sendiri.  Artinya, semuanya itu faktor alam. Tahu sendiri yang namanya gas itu kan sumber energi yang tidak terbarukan," katanya.

Tertutup lumpur

Kepala Bidang Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono mengungkap, hasil kajian timnya di lapangan, sumur gas Api Abadi Mrapen tertutup lumpur sehingga api tersebut padam.

"Intinya gas ini tertutup sama lumpur, jadi terhambat jalannya gas itu," jelas Dwi.

Kendati begitu, Dwi mengeklaim, sumber gas penyuplai Api Abadi Mrapen itu masih mencukupi.

Pihaknya kini tinggal membuka sumbatan itu agar gas kembali lancar mengalir.

Proses pengerjaan pembersihan ini ditargetkan bakal rampung selama satu minggu.

"Nanti pakai teknik flushing yakni pembersihan agar lumpur-lumpur yang menyumbat bisa terangkat, gasnya bisa mengalir kembali," terangnya.

Pernah padam total

Berdasarkan catatan Tribun Jateng, Api Abadi Mrapen pernah padam total, pada September 2020 silam.

Delapan bulan kemudian Api Abadi Mrapen sudah kembali menyala selepas ditangani oleh tim geologi.

"Api Abadi Mrapen kembali dibuka setahun ini selepas selepas dihantam pandemi dan matinya sumber api," ujar Tenaga Teknis Api Abadi Mrapen, Davi Dyanto, pada 21 November 2022.

Saat itu Davi menyatakan, nyala Api Abadi Mrapen lebih besar dibandingkan dengan nyala api sebelum padam dua tahun sebelumnya.  

Padamnya Api Abadi Mrapen diduga akibat adanya aktivitas pengeboran sumur yang berjarak hanya 200 meter.

Pengeboran dilakukan oleh perusahaan ritel yang hendak membuka toko minimarket.  

Pengeboran diduga berdiameter lebih luas sehingga mengakibatkan api Mrapen padam.

"Tapi kandungan gas metana di api abadi Mrapen masih ada sehingga masih bisa nyala," jelasnya.

Ia mengatakan, api abadi Mrapen membeli menyala selepas dilakukan pengeboran kembali.

Selepas memenemukan sumber gas baru, secara bersamaan dipasang pula alat bantu berupa tabung yang menekan gas yang keluar dari tanah.

Ketika terdapat kelebihan gas keluar dapat ditekan, sebaliknya ketika gas keluar kecil dapat dinaikan.

Alat tabung itu membantu untuk mengatur nyala api Mrapen. (Iwan Arifianto)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.