TRIBUNBANYUMAS.COM - Bantuan permodalan dari BRI lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) tak hanya membuat produksi Lung Coffee meningkat tetapi juga membuat Siti Khotimah (37), pemilik usaha tersebut, mandiri secara finansial.

Siti Khotimah merupakan warga Dusun II, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Dia merintis usaha Lung Coffee setelah menikah.

Berawal dari mencari kesibukan dan ingin berdaya, Siti justru bisa memiliki penghasilan sendiri.

"Soal pendapatan, saya tidak ingin menghilangkan peran suami."

"Cuma, minimal itu, apa yang dipengini bisa dicapai tanpa istilah, menye menye dulu."

"Tanpa menunggu suami gajian."

"Saya kan juga anak perempuan pertama, saya punya adik laki-laki."

"Jadi, kalau misalkan istri hanya mengandalkan suami, kadang kalau mau ngasih ke adik, ke keluarga sendiri, itu kan kayak gimana gitu."

"Apalagi, suami saya kan ada kewajiban buat orang tuanya juga."

"Kalau saya punya pendapatan sendiri, saya bisa menomorsatukan mertua juga orangtua, tidak ada perbedaan gitu," kata Siti saat ditemui di rumahnya, Sabtu (25/4/2026).

Menjadi pengusaha kopi juga membuat Siti dapat mengembangkan diri.

Bertemu pembeli maupun ikut pelatihan beranggotakan sesama pelaku UMKM membuatnya lebih komunikatif.

Dia juga makin kaya akan ilmu tentang produk, pemasaran, bahkan mengatasi persoalan.

"Dulu, sebagai ibu rumah tangga, saya hanya di rumah."

"Sekarang, ketika punya usaha kopi, mau tidak mau saya harus bertemu orang saat COD atau lewat pelatihan, membuat komunikasi saya, public speaking, jadi baik," katanya.

Berawal dari PKH

MENATA PRODUK - Siti Khotimah menata stok Lung Coffee di etalase rumahnya di Dusun II, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (24/4/2026). Mesin pemasan kopi atau roster yang dibeli dari KUR BRI membuat produksi kopi Lung Coffee lebih cepat dengan kapasitas besar.
MENATA PRODUK - Siti Khotimah menata stok Lung Coffee di etalase rumahnya di Dusun II, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (24/4/2026). Mesin pemasan kopi atau roster yang dibeli dari KUR BRI membuat produksi kopi Lung Coffee lebih cepat dengan kapasitas besar. (TRIBUN JATENG/rika irawati)

Siti belajar merintis usaha saat mengikuti pelatihan Program Keluarga Harapan (PKH) tahun 2017.

Saat itu, dia belajar membuat keripik singkong.

Baca juga: Beri Bingkisan Hingga Undian Berhadiah HP, Cara Agen BRILink Jee Cell Baturraden Pertahankan Nasabah

Sementara, kelompok penerima manfaat lain dari program itu dilatih membuat sirup jahe, kopi, juga keripik pisang.

Bahan-bahan itu merupakan produk yang mudah ditemukan di Desa Melung.

"Saat ada even, kami diminta membuat produk sesuai pelatihan."

"Tapi, bagian kopi itu ternyata tidak bisa memproduksi. Akhirnya, siapa saja kelompok yang bisa, disuruh buat."

"Nah, kebetulan saya bisa."

"Sejak saat itu saya handle kopi," ceritanya.

Siti tak kesulitan memproduksi kopi siap minum.

Dari menyangrai hingga menumbuk biji, kerap dilakukan karena neneknya kerap memberi hasil panen di kebun.

Melung yang berada di lereng Gunung Slamet memang dikenal sebagai daerah penghasil kopi.

Setelah keluar dari program PKH dan melanjutkan usaha, Siti tak kesulitan mendapat pasokan biji kopi dari petani lokal.

"Untuk pemasaran awal, kalau ada acara-acara di desa, kopi buatan saya pasti jadi rekomendasi," ungkapnya.

Dari situ, Lung Coffee mulai dikenal.

Lebih Cepat Gunakan Mesin

ROASTING KOPI - Siti Khotimah memasak biji kopi menggunakan mesin yang dibeli dari KUR BRI di rumah produksi Lung Coffee di Dusun II, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mesin ini mempercepat proses produksi dan meningkatkan kapasitas produksi kopi Lung Coffee.
ROASTING KOPI - Siti Khotimah memasak biji kopi menggunakan mesin yang dibeli dari KUR BRI di rumah produksi Lung Coffee di Dusun II, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mesin ini mempercepat proses produksi dan meningkatkan kapasitas produksi kopi Lung Coffee. (TRIBUN JATENG/DOK LUNG COFFEE)

Pemasaran dari mulut ke mulut atau sistem rekomendasi membuat pasar Lung Coffee bertambah.

Namun, muncul masalah saat beberapa konsumen mengeluhkan rasa kopi yang tak konsisten.

"Karena saya ambil biji kopi dari banyak petani, akhirnya rasa kopi yang dihasilkan tidak seragam."

"Ada yang biasa karena pakai robusta, ada yang asam karena dari arabika, ada juga yang campuran."

"Akhirnya, saya ambil dari satu petani kopi robusta yang saya tahu kualitasnya bagus, dan tidak ada lagi masalah dari konsumen," ucapnya.

Siti juga kerap mengikuti pelatihan-pelatihan yang digelar kampus, organisasi UMKM, juga Rumah BUMN BRI di Purwokerto, hingga membuat jaringan makin luas.

Siti mulai memasok kebutuhan kopi sejumlah kafe di Purwokerto.

Namun, saat pandemi Covid-19 melanda, banyak kafe yang menjadi pelangganya gulung tikar.

"Tapi, pembeli saya masih banyak karena pelanggan kafe itu minta rekomendasi kopi ke pemilik kafe."

"Dan, diarahkan ke saya," cerita dia.

Banyaknya permintaan membuat dia mulai kewalahan dalam hal produksi.

Siti akhirnya mengambil pinjaman KUR dari Kantor Unit BRI Purwokerto Barat sebesar Rp12 juta.

Modal dari KUR BRI itu digunakan untuk membeli mesin sangrai atau roaster.

Proses memasak biji kopi pun tak lagi dilakukan secara manual di tungku tetapi menggunakan mesin.

Alat ini juga menambah kecepatan dan meningkatkan kapasitas produksi.

Dari semula hanya 3 kilogram biji kopi yang disangrai dalam sekali masak, kini dalam satu bulan dia bisa memasak 40-60 kilogram biji kopi.

Sebelumnya, Siti juga berinvestasi dengan membeli igrinder atau mesin penggiling biji kopi.

"Sejak saat itu, memasak biji kopi jadi cepat dan konsisten. Produksinya juga meningkat."

"Saya bisa menyetok sehingga kalau ada permintaan mendadak dalam jumlah banyak, bisa langsung kirim," ucapnya.

Siti mengatakan, pelanggan yang dilayani langsung merupakan warga Banyumas atau tamu yang datang ke Desa Wisata Melung.

Namun, dia juga memperluas pasar lewat membuka stan di car free day (CFD) di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto.

Kepada pembeli, dia menyertakan kartu nama atau alamat Instagram agar pembeli bisa memesan ulang.

Siti juga menitipkan produk Lung Coffee ke sejumlah toko di desa wisata dekat tempat tinggalnya.

"Sekarang baru mau belajar jualan di marketplace," ujarnya.

Baca juga: Jajanan Jadul Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik Sukses Tembus Anak Muda, Tak Ragu Sesuaikan Selera

Lung Coffe tersedia dalam empat varian yaitu, orisinal, gula aren, rempah, dan creamer.

Harganya kopi orisinal dibanderl Rp20 ribu untuk kemasan 100 gram, Rp45 ribu untuk kemasan 250 gram, dan Rp85 ribu untuk 500 gram.

Siti juga membuat kemasan saset seharga Rp2 ribu untuk sekali seduh dan Rp4 ribu untuk saset dua kali seduh.

Sementara, untuk varian gula aren dan rempah, dijual Rp20 ribu untuk kemasan 100 gram.

Dan, Lung Coffee creamer dibanderol Rp5 ribu untuk kemasan sekali seduh.

Aman di Lambung

Pelanggan Lung Coffee, Heni Pancariyanti mengatakan, menjadi pelanggan kopi buatan Siti sejak tahun 2020.

"Awalnya cuma nyoba, tapi ternyata saya dan suami cocok, akhirnya repeat order terus," jelas Heni.

Dalam sebulan, dia bisa memesan 2-3 bungkus Lung Coffee orisinal kemasan 150 gram.

"Kadang, kalau pulang ke Kebumen saya bawa juga untuk oleh-oleh keluarga," jelasnya.

Heni mengatakan, selama mengonsumsi Lung Coffee, dia belum pernah merasakan masalah di lambung.

"Suami sempat berhenti minum kopi karena masalah perut."

"Tapi, setelah mulai minum kopi lagi dan coba Lung Coffee, sampai sekarang tidak pernah ada masalah. Cocok," ucapnya.

Baca juga: Tak Takut Pensiun, Ratidjo Sukses Besarkan Jejamuran yang Dimulai saat Purna Tugas

Heni biasanya memesan Lung Coffee via Whatsapp.

Siti kemudian mengantar ke rumahnya di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng.

Senada disampaikan Romini (55), warga Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng.

Romini mengaku cocok dengan robusta Lung Coffee karena tidak asam.

Apalagi, kopi yang dibuat juga murni, tanpa campuran.

"Kopinya asli, ga ada campuran apa-apa."

"Tingkat kematangannya juga pas."

"Diseduh tanpa gula, sudah enak banget," ucapnya.

Setiap bulan, Romini order tiga bungkus kopi kemasan 200 gram.

Dukungan Pengembangan Usaha

Sementara itu, Kepala Unit BRI Purwokerto Barat Dwi Ariyani mengatakan, pihaknya selalu mendukung UMKM yang ingin mengembangkan usaha.

Termasuk, saat Siti Khotimah mengajukan pinjaman KUR.

"Karena untuk tambahan modal usaha, butuh mesin untuk roasting, kami cairkan pinjaman yang diajukan."

"Selain itu, modal yang digunakan juga untuk membeli biji kopi," kata Dwi.

Ketahanan Ekonomi Keluarga

Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Novita Puspasari mengatakan, kemandirian finansial bagi perempuan, termasuk setelah menikah, adalah hal penting.

"Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk ketahanan ekonomi keluarga," kata Novita, Selasa (5/5/2026).

Novita mengatakan, berbagai studi menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki penghasilan dan akses terhadap sumber daya keuangan cenderung lebih mampu menghadapi situasi krisis serta berkontribusi dalam pengambilan keputusan ekonomi jangka panjang di rumah tangga.

Dia pun mengapresiasi usaha Siti Khotimah menjadi perempuan berdaya dan mandiri secara finansial.

"Kisah Mbak Siti ini menjadi contoh nyata bagaimana kemandirian finansial juga bisa mendorong pemberdayaan, baik di tingkat keluarga maupun komunitas."

"Perempuan tidak hanya menjadi pendukung, tetapi juga aktor utama dalam menciptakan nilai ekonomi dan membuka peluang bagi orang lain," kata Novita. (*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.