TRIBUNSUMSEL.COM - Kepergian Lula Lahfah meninggalkan duka yang mendalam bagi sang ibu, Tatu Yulyanah.
Diketahui, Lula ditemukan meninggal dunia pada Jumat (23/1/2026) pukul 18.44 WIB di apartemen pribadinya kawasan Jakarta Selatan.
Tatu mengungkapkan dua hari sebelum Lula meninggal dunia, putrinya berturut-turut menelepon Tatu Yulyanah.
Obrolan antara ibu dan anak itu terjalin sebagaimana mestinya.
Bahkan Lula disebut sempat meminta bantuan kepada ibunya.
Kendati begitu, Tatu tak membeberkan bantuan seperti apa yang diminta oleh mendiang Lula.
"Sebelumnya dua hari berturut-turut dia telepon aku," ucap Tatu, dikutip dari YouTube Cumicumi, Senin (26/1/2026).
Baca juga: Alasan Reza Arap Diperiksa Polisi atas Kematian Lula Lahfah sang Pacar Meninggal di Apartemen
Momen terakhirnya dengan sang putri cukup membekas di hati Tatu.
Sehingga ketika mendapat kabar duka lula meninggal dunia, Tatu tak langsung percaya.
Bahkan kondisinya cukup syok di malam itu ketika berada di rumah sakit.
"Aku udah blank banget itu (di rumah sakit)," timpalnya.
"Lula kemarin masih telepon aku, masih nanya, minta bantuan aku," lanjut Tatu menceritakan.
Kematian putrinya yang barusia 26 tahun itu, dirasa sebagai pukulan yang berat bagi keluarga.
"Jadi buat aku ini pukulan paling berat," ucap Tatu lagi.
Dalam momen itu, sebagai seorang ibu, Tatu menilai Lula sebagai putri yang baik.
Sikapnya yang tidak pernah mengeluh ketika ada masalah hingga pekerja keras membuat Tatu cukup merasa bangga.
"Lula anak baik, dia nggak pernah ngeluh tentang apa pun. Apa pun yang dia hasilkan adalah jerih parah dia."
Kendati begitu, kepegian Lula kini membuat keluarga pasrah dengan kehendak Tuhan.
"Tapi sayang Allah punya rencana lain," tutupnya.
Selain sang ibu, duka yang dirasakan juga oleh ayah Lula Lahfah, Feroz Marikar.
Disampaikan Feroz, tidak ada firasat apapun yang dirasakannya sebelum Lula meninggal dunia.
"Nggak ada (firasat)," tegas Feroz, dikutip dari YouTube Intens Investigasi, Sabtu, dikutip Tribunnewscom
Namun Feroz membeberkan gelagat beda putrinya seminggu sebelum kabar duka.
Selebgram yang meninggal di usia 26 tahun itu, tiba-tiba mengajak keluarga untuk makan bersama di rumah.
Hal itu nampak dirasa aneh oleh Feroz.
Pun saat Feroz menanyakan alasan mengadakan makan-makan bersama keluarga, Lula tidak menyebutkan jawabannya.
"Seminggu sebelum meninggal, Lula ajak makan kita di rumah. Itu aja. Kita tanya 'ada apa ini 'nggak ada apa-apa' cuman pengen makan saja'. Sudah, itu saja kenangan terakhir kita," sambungnya." cerita Feroz.
Momen hangat di meja makan itu kini menjadi memori yang sangat berharga bagi Feroz, seolah Lula ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama orang-orang tercinta sebelum pergi untuk selamanya.
Dalam momen itu, ia menyadari putrinya sosok yang baik dan peduli pada keluarga.
Bahkan ia melihat putrinya semasa hidup selalu bersikap baik pada teman-teman.
"Dia anak yang baik, anak yang peduli sama orang tua. Kita juga melihat dia sama teman-temannya baik," tutupnya.
Ayah Lula Lahfah, Feroz Marikar, mengaku menyesal atas apa yang terjadi kepada putrinya.
Feroz menjelaskan, selama ini dirinya tak mengetahui secara pasti kondisi kesehatan Lula Lahfah.
Sebab, sang putri tak pernah menceritakan kepada keluarga.
“Dia (Lula) enggak pernah curhat."
"Kami juga tahu (penyakitnya) dari teman-temannya, teman dekat dia saja,” kata Feroz saat ditemui di Taman Pemakaman Umum (TPU) Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026),
“Ya itu saja yang kita sesali,” ujar Feroz menambahkan.
Meski demikian, Feroz membenarkan bahwa putrinya sempat mendapat perawatan di rumah sakit pada momen Tahun Baru lalu.
Saat itu, Lula mengeluhkan penyakit asam lambung atau GERD yang kerap kambuh, hingga mengalami pembengkakan usus.
“Cuma kan yang kita tahu semua ya waktu Tahun Baru dia sempat masuk rumah sakit beberapa hari. Itu memang dia punya GERD yang sering kambuh. Terus dia juga ada pembengkakan di usus,” kata Feroz.
Menurut pria keturunan Arab-India ini kedua penyakit tersebut kerap menjadi keluhan Lula dalam beberapa waktu terakhir.
“Itu yang sering dia keluhkan, tapi dia enggak mengeluh (sakit) ke keluarga. Dia mengeluhnya ke teman-temannya, teman dekatnya. Dia bilang sakit banget,” ucap Feroz.
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengatakan, sosok yang pertama kali menemukan Lula adalah sekuriti apartemen usai asisten rumah tangga (ART) khawatir karena tak membuka pintu.
“Korban ditemukan oleh petugas keamanan sekitar pukul 18.44 WIB pada Jumat, 23 Januari 2026,” kata Budi saat dikonfirmasi, Jumat. Satreskrim Polres Jakarta Selatan masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Pihak kepolisian juga belum bisa memastikan penyebab meninggalnya Lula.
“Harus dilakukan autopsi kalau untuk memastikan (penyebab kematiannya),” ujar Budi.
Terpisah, Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Murodih menuturkan Lula ditemukan di atas tempat tidurnya.
Pintu kamar Lula dalam keadaan terkunci dari dalam.
"Korban ditemukan dalam posisi telentang di kasur berselimut putih," ujar dalam keterangannya dilansir dari Kompas.com, Sabtu (24/1/2026).
Saat itu, Asiah sang ART merasa curiga karena Lula tidak memberikan respon sejak berada di dalam kamar.
Karena khawatir, Asiah pun meminta bantuan pihak manajemen apartemen untuk membantu membuka pintu kamar tersebut.
Saat pintu kamar Lula dibuka, Asiah bersama dengan empat orang dari manajemen apartemen menemukan kondisi Lula sudah dalam posisi telentang.
Lalu pada bagian mulut terbuka dan berwana kebiruan, dan saat cek denyut nadi, detak jantung udah tidak ada.
"Tidak ada tanda tanda penganiayaan, tetapi ditemukan obat-obatan sama surat rawat jalan dari RSPI," kata Murodih.
Sekitar pukul 20.20 WIB, tim identifikasi dari Polres Metro Jakarta Selatan tiba di lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap jenazah.
Selanjutnya, jenazah korban dibawa ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan, guna dilakukan visum.
"Untuk penyebab kematian masih kami selidiki. Kami menunggu hasil visum dari rumah sakit,” ucap dia.
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com