Kisah Pilu Korban Bencana Aceh Tamiang, Ibu Terpaksa Beri Minum Bayinya dengan Air Banjir
SERAMBINEWS.COM, ACEH TAMIANG - Hari kedelapan pascabencana banjir bandang yang menerjang Aceh, khususnya di Aceh Tamiang menghadirkan kisah-kisah memilukan dari warga yang masih bertahan di tengah keterbatasan.
Minimnya bantuan logistik dan air bersih membuat banyak keluarga harus melakukan apa pun demi bertahan hidup, termasuk memberikan air yang tidak layak konsumsi kepada anak-anak mereka.
Jurnalis Kompas TV, Emirsyah Purba, yang berhasil menjangkau wilayah Karang Baru, Kota Kuala Simpang, menyaksikan langsung kondisi warga yang hidup di atas puing-puing rumah mereka.
Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai salah satu yang paling memprihatinkan sejak hari pertama banjir menerjang pada Rabu (26/11/2025).
Dalam laporannya, Emir menceritakan peristiwa yang membuat hati siapa pun tersayat.
Di mana ia menyaksikan seorang ibu yang terpaksa menyaring air banjir untuk diberikan kepada bayinya yang kehausan.
“Kami mendapati seorang ibu yang memberikan bayinya minum air banjir yang disaring terlebih dahulu. Itu mengiris hati kita,” ujar Emir, Rabu (3/12/2025).
Emir melaporkan, banyak permukiman warga rata dengan tanah, ribuan orang masih bertahan tanpa bantuan, dan kebutuhan dasar kian sulit dipenuhi.
Ribuan warga kini tinggal di atas puing-puing rumah mereka lantaran tidak memiliki tempat lain untuk dituju.
“Terhitung dari hari Rabu (26/11/2025) berarti sekarang merupakan hari ke-elapan warga terdampak banjir bandang,”
“Informasi dari warga tadi, mengatakan untuk bantuan sendiri sampai dengan sekarang belum merata sehingga warga sangat kekurangan bahan makanan juga untuk bertahan hidup,” ujar Emir.
Emir menggambarkan sebagian besar warga kini hidup di atas puing-puing rumah mereka karena tidak memiliki tempat lain untuk ditinggali.
“Warga terpaksa meminum air banjir yang disaring terlebih dahulu sebelum diminum,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan akses air bersih dan tempat pengungsian yang memadai.
Emir mengaku sudah bertemu Wakil Bupati Aceh Tamiang, di mana menyatakan bahwa 90 persen wilayah Kabupaten Aceh Tamiang terdampak langsung oleh banjir bandang yang terjadi delapan hari lalu.
“Banjir bandang ini meluluhlantakkan sebagian besar Aceh Tamiang,” ungkapnya.
Kerusakan masif itu membuat pasokan bantuan sulit masuk, meninggalkan banyak warga dalam kondisi genting.
Kondisi tak kalah memprihatinkan dialami warga Kampung Lunduh.
Seorang korban bernama Fira mengungkapkan banyak pengungsi mulai terserang penyakit, terutama anak-anak.
“Ini mulai batuk-batuk kami. Ada adik yang sakit, ada anak-anak,” katanya.
Ia menambahkan bahwa hingga kini belum ada bantuan tenda atau sembako yang mereka terima.
Banyak warga terpaksa tinggal di pinggir jalan, bertahan di bawah terik matahari dan udara dingin malam hari, ditemani debu dan reruntuhan yang beterbangan.
Salah satu warga yang terdampak, Angga, menceritakan pengalaman dramatisnya saat banjir menerjang.
Ia bersama keluarganya menyelamatkan diri dengan naik ke atap rumah dan bertahan selama empat hari tiga malam tanpa makanan.
Setelah air surut, Angga dan beberapa keluarganya mencoba mencari sisa-sisa makanan yang terbawa banjir.
Namun hingga hari kedelapan, ia mengaku belum menerima bantuan apa pun.
“Iya, Bang. Ya, mau mau tidak maulah, Bang (minum air genangan banjir). Sampai saat ini belum ada bantuan,” ungkapnya.
Di hari kedelapan ini, Angga dan keluarganya mengaku belum sama sekali menerima bantuan.
“Beberapa hari ini ada helikopter yang lewat, tapi kami tidak tahu apakah membawa bantuan atau tidak. Kami tidak menerima apa-apa,” ujar Angga.
Untuk bertahan hidup, ia dan keluarganya kembali terpaksa meminum air genangan yang disaring.
Hingga Rabu (3/12/2025), kondisi Aceh Tamiang masih jauh dari pulih.
Warga berharap bantuan segera masuk dan distribusi dapat dilakukan merata, mengingat semakin banyak korban yang terancam kelaparan, sakit, dan kehilangan tempat tinggal.
Situasi ini menuntut percepatan respons kemanusiaan dari seluruh pihak agar tidak ada korban tambahan dalam bencana besar ini.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)
Bergabunglah Bersama Kami di Saluran WhatsApp SERAMBINEWS.COM