Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kesehatan masyarakat menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada awal September 2026.
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi pada Rabu Dini Hari dengan Status Siaga
Pemantauan terutama dilakukan terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat mengalami peningkatan dalam beberapa hari setelah terjadi hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk meningkatkan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat.
Sebanyak 31 puskesmas di Kota Bandar Lampung disiagakan untuk memantau kemungkinan munculnya gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan abu vulkanik.
"Yang kita lakukan adalah pemantauan melalui seluruh puskesmas. Kita melihat perkembangan kasus, terutama ISPA, setelah adanya erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Muhtadi, Rabu (9/9/2026).
Berdasarkan laporan Dinkes Kota Bandar Lampung, jumlah kasus ISPA menunjukkan peningkatan pada periode 4 hingga 7 September 2026, sebagai berikut:
Dinkes mencatat kenaikan ISPA terjadi di sejumlah kecamatan. Peningkatan paling tinggi secara persentase terjadi di Telukbetung Timur, yakni dari tujuh kasus menjadi 36 kasus atau bertambah 29 kasus.
Selanjutnya, Kecamatan Kedamaian mengalami kenaikan dari 11 menjadi 36 kasus, Rajabasa dari 21 menjadi 43 kasus, Telukbetung Selatan dari 16 menjadi 36 kasus, Sukarame dari 49 menjadi 66 kasus, serta Tanjungkarang Pusat dari 15 menjadi 27 kasus.
Meski terjadi peningkatan kasus ISPA bersamaan dengan periode erupsi GAK, Dinkes belum menyimpulkan bahwa kenaikan tersebut secara langsung disebabkan oleh abu vulkanik.
Muhtadi menegaskan, data dalam rentang tiga hari tersebut masih membutuhkan kajian dan pemantauan lebih lanjut.
"Kita belum bisa menyimpulkan bahwa peningkatan ISPA ini disebabkan langsung oleh erupsi. Datanya masih terus kita validasi dan pantau," ujarnya.
Menurut dia, Dinkes mengoptimalkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk mendeteksi kemungkinan adanya lonjakan kasus penyakit yang berada di atas kondisi normal.
Selain ISPA, petugas juga memantau sejumlah penyakit yang berpotensi muncul akibat paparan partikulat vulkanik, seperti pneumonia, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi mata atau konjungtivitis, serta iritasi kulit atau dermatitis.
Pemantauan juga dilakukan terhadap kelompok masyarakat yang dinilai lebih rentan, termasuk anak-anak dan lanjut usia.
Dinkes juga memperhatikan potensi paparan abu vulkanik melalui saluran pernapasan, mata maupun kulit, terutama pada masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
"Surveilans akan terus dilakukan. Kita meminta laporan dari puskesmas secara berkala agar kalau ada perubahan atau lonjakan kasus bisa segera diketahui," kata Muhtadi.
Ke depan, Dinkes akan melakukan validasi ulang terhadap data kasus ISPA pada 4, 5, dan 7 September. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak terdapat duplikasi maupun kesalahan dalam pencatatan.
Selain itu, seluruh puskesmas diminta memberikan laporan harian dan memantau perkembangan jumlah pasien ISPA.
Wilayah yang mengalami peningkatan kasus paling signifikan juga akan menjadi prioritas pemantauan Dinkes Kota Bandar Lampung.
(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.