TRIBUNJOGJA.COM – Perkembangan kuliner modern yang semakin pesat berdampak pada menurunnya tingkat konsumsi makanan tradisional.
Kemunculan berbagai kuliner modern ini semakin mudah dijumpai di pasar tradisional sekalipun. Meski demikian, beberapa jenis makanan tradisional tetap bertahan di pasar tradisional. Salah satunya adalah gatot tiwul.
Di tengah maraknya kuliner modern, keberadaan makanan tradisional gatot tiwul menunjukkan bahwa warisan kuliner tradisional masih hidup dan masih memiliki penggemar.
Baca juga: Pikat Generasi Muda, Kuliner Tradisional Naik Kelas di Jogja Food & Beverage Expo 2026
Gatot tiwul yaitu makanan tradisional khas Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satu poinir usaha kuliner gatot tiwul yang masih bertahan hingga saat ini adalah Gatot Tiwul Yu Tum.
Menurut Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Yu Tum telah memulai menjajakan gatot tiwul sejak tahun 1985.
Pada awalnya Yu Tum berjualan keliling di kawasan Wonosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta sebelum akhirnya berkembang dan menempati bangunan untuk berjualan.
Kini bisnis kuliner tradisional ini dikelola oleh keluarga besar Yu Tum.
Gatot dan tiwul sama-sama berbahan dasar singkong yang jaman dahulu dimanfaatkan sebagai sumber makanan pokok karena mengandung karbohidrat seperti dengan nasi.
Singkong pernah menjadi sumber utama masyarakat Gunung Kidul. Pada akhirnya singkong dianggap sebagai makanan pengganti.
Baca juga: 6 Olahan Singkong yang Enak dan Praktis Cocok Buat Sarapan
Singkong mudah diperoleh dan mudah tumbuh yang menjadikannya bahan pangan yang selalu diandalkan.
Gatot dan tiwul memiliki perbedaan dalam teknik pengolahan.
Gatot dihasilkan dari singkong yang dikeringkan hingga berbentuk gaplek.
Gaplek adalah singkong yang telah dikupas, dipotong, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga kering.
Kemudian melalui proses fermentasi yang menghasilkan warna dan aroma yang khas.
Sementara tiwul juga masih menggunakan gaplek sebagai bahan utamanya. Cara memasaknya juga masih mempertahankan cara tradisional dengan cara dikukus.
Gaplek kemudian diolah dengan cara dikukus. Gaplek inilah yang namanya menjadi tiwul dengan berbentuk butiran kasar.
Gatot tiwul disajikan dengan parutan kelapa. Parutan kelapa tersebut dikukus terlebih dahulu agar tidak mudah basi. Selain itu, cara ini dilakukan agar rasanya semakin gurih.
Pengolahan singkong menjadi pangan yang memiliki daya simpan lebih lama mencerminkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya pangan yang tersedia di sekitarnya. (MG Yola Tyana Putri)
Sumber: Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.